SILATURRAHMI SRI MANGKU ALAM II

Kunjungan Silaturrahmi Sri Mangku Alam II di Pombewe

RAPAT DEWAN ADAT

Selesai Pelaksanaan Rapat di Rumah Ketua Dewan Adat Kab. Sigi, di Kaleke.

KUNJUNGAN RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol dengan Dewan Adat Kab. Sigi.

SILATURRAHMI DI RUMAH BUPATI SIGI

Kunjungan Silaturrahmi Pengurus Dewan Adat Kab. Sigi di Rumah Bupati Sigi ...

LIBU POTANGARA

Salah Satu Tugas Dewan Adat Kabupaten adalah menyelesaikan perkara yang tidak terselesaikan ditingkat bawah ....

SILATURRAHMI RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol di Kantor Bupati Sigi

FESTIFAL DANAU LINDU

Pelaksanaan Libu Mbaso Dewan Adat Kabupaten Sigi bersamaan Festifal Danau Lindu.

PENGURUS INTI DEWAN ADAT KAB. SIGI

Foto Bersama, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Bendahara, dan Wakil Wandahara.

PELANTIKAN MAJELIS ADAT KECAMATAN

Pelantikan Pengurus Majelis Adat Kecamatan oleh Ketua Dewan Adat Kab. Sigi ...

LIBU POSAMPESUVU MAROSO

Mediasi Perselisihan Warga Desa Rarampadende dan Desa Pesaku ....

Tampilkan postingan dengan label Tesa Positevai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tesa Positevai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Januari 2025

Pohon KAILI Terancam Punah

 



Salah satu Pohon Kaili yang ada di Hutan Ranjuri, Desa Beka, Kabupaten Sigi. 

(Foto: Amar/ rindang.ID)



Yayasan Kompas Peduli Hutan(KOMIU) bersama kelompok hutan kemasyarakatan (HKM) Topotalua, merencanakan pemulihan habitat  pohon kaili (dracontomelon dao), di sepanjang  ±13 km  daerah sekitar badan sungai pada DAS Labuan yang  berada di dusun sesere, Desa Labuan Toposo, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Kata Yulia Astuti S.Si Koordinator Divisi Konservasi yayasan KOMIU (28/05/23).

Kegiatan ini didasari karena pada area penyangga irigasi (bendung) di Desa labuan toposo,  terjadi kehilangan tutupan hutan yang dipengaruhi oleh perluasan kebun masyarakat, khususnya pada bagian sekitar badan sungai yang  menimbulkan pengurangan debit air yang berdampak pada lahan pertanian dan perkebunan  masyarakat, bahkan persoalan ini menimbulkan konflik pembagian air  antara Desa Labuan Panimba, Labuan Induk dan Desa Dalaka.

Menurut Yulia, pemilihan pohon kaili (dracontomelon dao) sebagai spesies pohon yang digunakan untuk restorasi ekosistem di Dusun sesere, dikarenakan pohon ini sangat erat kaitannya dengan budaya suku kaili yang mendiami lembah palu, selain menahan abrasi, nama-nama desa dan lokasi terntu dilembah palu diambil dari beberapa bagian pohon ini, selain itu,  pohon ini juga banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk kepentingan ramuan rumah dan bahkan untuk kegiatan usaha.

Tujuan lainnya adalah menumbuhkan kembali budaya  menanam pohon  masyarakat yang ada di Dusun sesere, yang dulunya ketika ada kelahiran baru, maka mereka akan menanam pohon sebagai penanda umur anak tersebut, kebiasaan ini hilang ketika masyarakat sudah mengenal sistem administrasi kependudukan.

Merujuk data penilaian IUCN terhadap spesies ini  tanggal 1 januari 2019 dan dipublikasikan pada tahun 2021, penilaian tersebut menjelaskan  bahwa spesies ini tersebar luas di seluruh wilayah Malesia, sebagian India dan Cina dan juga ke Oseania yang meliputi  Papua Nugini, Kepulauan Solomon, dan Fiji. Spesies pohon ini menghasilkan buah yang dapat dimakan. Spesies ini hidup di berbagai habitat hutan dataran rendah dan hutan sekunder. Berdasarkan jangkauannya yang luas dan kemunculannya di berbagai habitat, spesies tersebut dinilai sebagai Least Concern (LC) atau tingkat resiko rendah.

Ancaman utama spesies ini dihabitatnya adalah eksploitasi berlebihan terhadap  individu pohon dewasa yang digunakan untuk kebutuhan dekoratif dan  perubahan penggunaan lahan di seluruh wilayah spesies.

Spesies pohon ini juga menjadi sumber makanan bagi beberapa jenis burung endemik sulawesi  diantaranya, julang sulawesi, kangkareng sulawesi, pergam kepala kelabu, uncal sulawesi, walik sulawesi dan burung asoasi  lainnya.  paparnya.

Yulia menambahkan, saat ini tahapan perencanaan yang telah dilakukan oleh tim KOMIU diantaranya pertama, melakukan penilaian morfologi pohon kaili (dracontomelon dao).  Kedua, melakukan survey lokasi pada sekitar badan sungai  yang menjadi habitatnya pohon tersebut. Ketiga. Pengumpulan buah pohon yang dibibitkan secara in situ.

 

Untuk tahap awal, kami baru membibitkan sekitar 50 pohon kaili (dracontomelon dao) yang nantinya akan di monitoring secara rutin pertumbuhannya. paparnya.

Link  : Pohon KAILI Terancam Punah



                       Pohon KAILI Terancam Punah

Pohon Kaili yang merupakan tanaman khas Sulawesi Tengah terancam punah karena banyak dimanfaatkan masyarakat tanpa memperhatikan proses budidaya selanjutnya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sigi Agus Rahmat Lamakarate di Sigi, Senin, mengajak masyarakat setempat untuk menanam dan melestarikan pohon yang dalam bahasa setempat disebut rego.

"Bolehlah kita menebang pohon, tapi yang sudah tua atau mau mati saja," katanya usai menanam sejumlah bibit pohon kaili dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup se-Dunia.

Dia mengatakan, masyarakat banyak menebang pohon kaili untuk dijadikan arang, kayu bakar, atau keperluan lainnya. "Ini yang terus kita coba untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan agar terhindar dari bencana," kata Agus.

Menurutnya, pohon kaili merupakan kebanggaan masyarakat Sulawesi Tengah karena tanaman tersebut juga merupakan nama suku terbesar di Sulawesi Tengah. "Jangan biarkan pohon ini punah. Kasihan anak cucu kita jika harus melihat pohon kaili melalui foto atau buku pelajaran di sekolah," kata Agus.

Pohon kaili saat ini susah ditemukan, kalaupun ada hanya tumbuh liar di tepian sungai atau di dataran rendah. Pohon kaili diperkirakan jumlahnya sekitaran ratusan batang saja.

Pohon kaili bisa tumbuh setinggi hingga 50 meter dengan diameter satu meter. Pohon ini memiliki batang lurus dengan sedikit cabang.

Selain pohon kaili, di Sulawesi Tengah juga tumbuh pohon endemik yang juga menjadi kebanggaan masyarakat yakni pohon eboni yang berkayu hitam.

Pemerintah sudah melarang penebangan pohon eboni karena jumlahnya yang semakin sedikit.

Saat ini kayu hitam banyak diselundupkan ke Tawau, Malaysia, melalui jalur laut oleh masyarakat yang berada di sekitar Kabupaten Donggala.

Polisi sendiri beberapa menggagalkan penyelundupan kayu hitam dengan mengamankan ratusan batang kayu senilai ratusan juta rupiah.

 


Rabu, 22 Januari 2025

To Kaili

 

Antropolog Prof.Dr.H. Mattulada dalam bukunya berjudul  Sejarah Kebudayaan To Kaili memaparkan mengenai latar belakang penyebutan orang Kaili sebagai berikut (Mattulada 1983):  “Orang-orang yang menyebut diri To Kaili secara sosiokultural tergolong dalam kelompok etnik dengan ciri-ciri:

(1) Adanya alat komunikasi antara sesama orang Kaili, yaitu bahasa/ dialek yang memelihara keakraban dan kebersamaan di antara mereka;

(2) Adanya pola-pola sosiokultural yang menumbuhkan perilaku yang dinilai sebagai bagian dari kehidupan adat istiadat, termasuk cita-cita dan ideologi, yang dihormati bersama di antara  mereka;

(3) Adanya perasaan keterikatan antara satu sama lainnya, sebagai satu kelompok yang menjadi perekat ke dalam kebersamaan di antara mereka;

(4) Adanya kecenderungan menggolongkan diri ke dalam kelompok asli terhadap orang dari kelompok lain, dalam berbagai kejadian sosiokultural, berupa sikap sekaum dalam menghadapi orang luar; dan

(5) Adanya perasaan keterikatan ke dalam kelompok karena hubungan kekerabatan geneologis, dan atau adanya ikatan kesadaran teritorial di antara mereka.”

Penelitian yang dilakukan oleh Ahmad Basri Toana dalam Jurnal Gagasan Universitas Tadulako  (Toana 1997)  berjudul  Persekutuan Hidup dan Sistem Pemukiman Masyarakat To Kaili, menguraikan tentang asal-usul kelompok etnik Kaili di Sulawesi Tengah berdasarkan sejarah persebaran penduduk yang masuk ke Sulawesi Tengah sebagai berikut: Ada dua tahap kedatangan atau migrasi sebagai berikut: migrasi pertama, dimulai sejak kedatangan penduduk yang membawa kebudayaan megalitik. Penduduk migrasi pertama diperkirakan datang dari Utara, diduga berasal dari sebuah kepulauan di Jepang. Penduduk yang datang pertama masuk ke Sulawesi Tengah melalui Minahasa; menyusuri dataran daerah Gorontalo hingga masuk ke Sulawesi Tengah dan terus ke Selatan. Berdasarkan persebarannya dapat dilacak peninggalan-peninggalan dari migrasi pertama berupa kebudayaan megalitikantara lain kuburan-kuburan batu (Kalamba), lesung-lesung batu, patung-patung dalam ukuran besar, dan lain-lain. Migrasi kedua, adalah tahap kedatangan penduduk dari Sulawesi Selatan menuju ke Sulawesi Tengah yang disebut sebagai pembawa kebudayaan tembikar dari tanah liat. Benda-benda peninggalan sejarah yang berasal dari penduduk pada migrasi kedua tersebut berupa tempayan-tempayan besar untuk penyimpanan mayat serta peralatan masak seperti periuk dan lain-lain.  

          Penduduk pertama yang datang dari utara membawa kebudayaan megalitik  tiba di daerah Sulawesi Tengah bagian barat, menuju ke Danau Lindu dan terus masuk ke daerah Lore, sedangkan sebagian lagi kemungkinan besar melanjutkan perjalanannya menuju daerah Sulawesi Selatan. Penduduk migrasi pertama menyebar ke daerah Koro sampai dengan Palolo dan Bora. Dataran Bora pada saat itu merupakan pantai Teluk Palu sebelum air teluk surut.  Penduduk yang menyebar di wilayah Koro, Palolo, dan Bora kemudian menyatukan diri dalam suatu kelompok yang dikenal dengan nama masyarakat To Sigi, sebagai hasil perkembangan penduduk pendatang yang pertama. Penduduk yang datang pada tahap kedua adalah dari Teluk Bone masuk ke Lembah Poso, diduga bertemu dengan penduduk pertama yang sudah berkembang sampai ke Lembah Poso sebelum kedatangan penduduk kedua dari Teluk Bone tersebut. Dalam pertemuan itu terjadi akulturasi-asimilasi melalui perkawinan. Keturunan dari asimilasi tersebut diduga membentuk generasi baru yang kemudian menyatukan diri dalam suatu komunitas atau kelompok masyarakat To Pamona.

          Selanjutnya,  migrasi kedua berasal dari Sulawesi Selatan melalui Selat Makassar. Penduduk migrasi kedua ini diduga kuat adalah pelaut-pelaut ulung dari Bugis Makassar dan Mandar yang datang, tinggal, dan menyebar di dan sekitar Selat Makassar termasuk di Teluk Palu. Setelah melalui akulturasi, difusi, dan asimilasi, kemudian kedua suku bangsa itu (To Sigi dan Bugis Makassar) melahirkan keturunan-keturunan generasi baru dan membentuk kelompok masyarakat di Lembah Palu. Generasi baru tersebut menyatukan diri dalam suatu kelompok masyarakat yang dikenal dengan nama To Kaili. Kerajaan Sigi pun makin berkembang dengan pesat. Kemudian mulai berdatangan para pelaut dari Mandar dan Bugis Makassar di pantai Teluk Palu dan sekitarnya, yang terletak di sepanjang selat Makassar. Hal itu terjadi setelah Teluk Palu menjadi daratan dan air Teluk Palu surut, bersamaan datangnya kontak sosial pertama dengan kerajaan-kerajaan dari Sulawesi Selatan untuk memperkokoh persahabatan antara kedua suku bangsa: yakni To Sigi dan Bugis Makassar.  

          Para pendatang baru tersebut telah memiliki kebudayaan yang dianggap lebih unggul,  yakni pembuat tembikar, sedangkan To Sigi masih berkebudayaan  megalitik. Penduduk baru mulai membentuk kelompok masyarakat yang lebih maju dan bermukim di wilayah sekitar Teluk Palu. Kebudayaan Kaili dengan demikian merupakan kebudayaan yang terbentuk dari akulturasi dan asimilasi kebudayaan To Sigi dengan kebudayaan Bugis Makassar. To Kaili kemudian berkembang dan menyebar membentuk kelompok masyarakat tersendiri. Hal itu bukan berarti meniadakan sama sekali nilai sosial, tradisi, dan adat istiadat induknya. Pembauran secara damai antara To Sigi dan Bugis Makassar menjadi generasi baru yakni To Kaili, meliputi seluruh aspek kehidupan antara lain di  bidang pertanian, pemerintahan, perdagangan, dan sosial budaya. Sejak terbentuknya masyarakat To Kaili dengan kebudayaannya yang makin berkembang, mereka kemudian menyebar menempati pemukiman-pemukiman di Lembah Palu terpisah dari kelompok asalnya (Toana 1997).  

          Sejarah asal-usul To Kaili juga dikisahkan melalui tradisi lisan yang diiringi dengan mitos-mitos, diantaranya legenda Sawerigading dan cerita rakyat Tomalanggai, dan To Manuru. Mitos dalam bahasa Yunani mythos  mempunyai arti kisah, hikayat dari zaman purbakala (Bagus 2000). Mitos biasanya mengisahkan cerita yang aneh atau janggal, dan umumnya sulit dimengerti maknanya sehingga tidak mudah diterima kebenaran isinya. Meskipun demikian, karena sifatnya tersebut mitos dipandang sebagai sesuatu yang suci atau bertuah. Mitos juga dapat digunakan sebagai alat pembenaran atau sumber kebenaran dari suatu peristiwa atau kejadian tertentu dan menjadi alat legitimasi kekuasaan pihak-pihak tertentu. Mitos mengungkapkan cara beradanya manusia di dunia, sebagai dasar kehidupan sosial dan kebudayaannya (Susanto 1987).

          Mitos tentang Sawerigading, Tomalanggai, dan To Manuru menyebar di seluruh wilayah yang dulu merupakan daerah kekuasaan masa kemagauan atau masa kerajaan di Sulawesi Tengah. Legenda Sawerigading merupakan mitos Bugis yang menyebar dan memiliki pengaruh di beberapa kerajaan di Sulawesi Tengah. Beberapa catatan atau lontara orang Bugis Makassar menyebutkan bahwa sebelum masa kolonialisme Belanda, yaitu pada masa kerajaan, terjadi hubungan antara kerajaan-kerjaaan lokal di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah. Kerajaan-kerajaan lokal tersebut saling berhubungan dan saling mempengaruhi dalam cara hidup serta kebudayaannya, sebagai kerajaan-kerajaan sekeluarga. Sawerigading adalah tokoh legendaris yang dihubungkan dengan kedudukan Kerajaan Bone sebagai kerajaan Bugis di Sulawesi Selatan yang mempunyai hubungan persaudaraan dengan kerajaan-kerajaan di Tanah Kaili Sulawesi Tengah sekitar abad ke-17. Sementara kisah Sawerigading dalam epos La-Galigo diperkirakan berlangsung pada abad ke-9 dan abad ke-10. Sawerigading dipandang sebagai peletak dasar dan cikal bakal raja-raja Bugis di Sulawesi Selatan khususnya Kerajaan Luwu yang terletak di bagian utara Selat Bone  (Mattulada  1983).  Hubungan antara kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan tersebut disinyalir menjadi jalan yang turut mempercepat terjadinya proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan di Tanah Kaili.

          Proses akulturasi dan asimilasi kebudayaan Kaili selanjutnya diilustrasikan dalam cerita rakyat yang mengisahkan pertemuan antara Tomalanggai (Pemimpin To Sigi) dengan To Manuru (asal kata dari To Manurung dalam bahasa Bugis). To Manuru digambarkan sebagai seorang putri cantik jelita laksana bidadari yang turun dari kayangan. Putri jelita bak bidadari ini sebenarnya adalah putri Bangsawan Bugis Makassar (pendatang). To Manuru yang diartikan oleh To Kaili sebagai manusia suci, sebenarnya dapat diartikan sebagai orang yang lebih unggul kebudayaannya. Keunggulan kebudayaan yang dibawa oleh To Manuru antara lain dalam pengelolaan pertanian dengan sistem pengairan dan    memperkenalkan tanaman baru yaitu padi. Kecantikan To Manuru dengan keunggulan kebudayaannya tersebut kemudian memikat hati Tomalanggai dan berlanjut dalam perkawinan antara keduanya. Terjadinya perkawinan antara Tomalanggai dan To Manuru adalah sebagai lanjutan kisah cinta antara Sawerigading dengan Ratu Ngginayo yang tidak terwujud karena bencana alam. Sawerigading secara formal dianggap sebagai tokoh pertama yang mengadakan kontak sosial dengan To Sigi, dan sebagai perintis kontak-kontak sosial berikutnya. Mulusnya perkawinan antara Tomalanggai dari Sigi dengan To Manuru putri Bugis Makassar adalah sebagai salah satu realisasi kontak    sosial yang pernah dirintis oleh Sawerigading (Kerajaan Bugis) dengan Ratu Ngginayo (Kerajaan Sigi)  jauh sebelumnya. Perkawinan antara putri To Manuru dengan Tomalanggai di tingkat atas diikuti pula oleh masyarakat ramai. Perkawinan antara To Manuru dan Tomalanggai melahirkan keturunan-keturunan yang kemudian hari makin berkembang membentuk generasi baru. Generasi-generasi baru tersebut makin lama mulai melepaskan kebiasaan-kebiasaan kelompok induknya baik To Sigi maupun kehidupan pendatang (Bugis Makassar). Genarasi baru yang mulai melepaskan diri dari ikatan-ikatan kebiasaan induknya itu kemudian membentuk suatu masyarakat baru. Selanjutnya generasi baru itu tidak lagi sebagai To Sigi atau To Manuru (Bugis Makassar) tetapi lebih dikenal dengan suatu masyarakat baru dengan nama masyarakat To Kaili. Awal terbentuknya masyarakat To Kaili dengan demikian merupakan hasil akulturasi dan asimilasi antara penduduk asli To Sigi dengan suku Bugis Makassar  sebagai pendatang yang dalam cerita rakyat To Kaili disebut sebagai Tomanuru (Mattulada 1983). Kisah-kisah legendaris dan mitos-mitos di Tanah Kaili ikut mengiringi perjalanan terbentuknya kebudayaan Kaili seperti sekarang ini.  

          Etnik Kaili pada perkembangan selanjutnya menjadi kelompok masyarakat  terbesar di Sulawesi Tengah. Identifikasi etnologis yang digunakan dalam pengelompokkan etnik tersebut adalah menyangkut bahasa, dialek, ciri kebudayaan, nama tempat, serta keadaan alam tertentu (Mattulada 1983). Orang Kaili atau disebut To Kaili merupakan kelompok masyarakat di Sulawesi Tengah yang memiliki ikatan kebersamaan berdasarkan bahasa, adat istiadat, rasa persaudaraan, kekeluargaan, dan hubungan kekerabatan. Kelompok etnik Kaili di Sulawesi Tengah berdasarkan wilayah persebarannya terdiri dari 14 (empat belas) wilayah yaitu To: Palu, Biromaru,  Dolo, Sigi,  Pakuli-Banggai-Baluase- Sibalaya-Sidondo,  Lindu, Banggakoro, Tamungkolowi-Baku, Kulawi, Tawaeli,  Sausu- Balinggi-Dolago, Petimbe, Rarang, dan Parigi (Mattulada 1983).  Sementara Masyhuddin Masyhuda mengelompokkan etnik Kaili sebagai ‘orang Kaili yang berbahasa Kaili’ adalah masyarakat yang mendiami wilayah Balaesang, Sindue, Sirenja, Tawaeli, Palu, Biromaru, Dolo, Marawola, Banawa, dan Ampibabo  (Masyhuda 1991).

         Berdasarkan hasil kajian ilmiah tentang asal-usul masyarakat Kaili dan kebudayaannya, serta melalui tradisi lisan dalam legenda dan cerita rakyat tentang Sawerigading, Tomalanggai, dan To Manuru; menggambarkan bahwa salah satu karakteristik  masyarakat Kaili,  yaitu sifat keterbukaan dalam menjalin relasi dengan orang lain. Tjatjo Thaha dalam Jamrin Abubakar menyebutkan bahwa orang Kaili memiliki sifat gotong royong, kepribadian, dan keterbukaan sehingga dapat menerima siapa saja dari luar dan lebur bersama. Masyarakat Kaili kemudian mengkonstruksi ‘peristiwa-peristiwa bermakna dalam kehidupan bersama’ tersebut menjadi konsep  sintuvu.  Sintuvu  adalah  istilah yang digunakan oleh masyarakat Kaili menunjuk pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama (Abubakar 2011).  Sintuvu sebagai Pemersatu Perbedaan  Orang Kaili menyebut wilayah tempat tinggal mereka dengan istilah Tanah Kaili, yaitu wilayah yang didiami oleh etnik Kaili di Sulawesi Tengah, letaknya di garis khatulistiwa,  yaitu di sebelah utara berbatasan dengan Sulawesi Utara, sebelah timur dengan Kabupaten Poso, sebelah selatan dengan Kabupaten Luwu dan Mandar, dan sebelah barat dengan Selat Makassar  (Hendrarto 1956). Tanah Kaili merupakan sebutan bagi wilayah kerajaan-kerajaan di Lembah Palu, yang pernah mengalami masa kejayaan, yaitu Kerajaan Palu, Tawaeli, Bora, dan Sigi. Kerajaan Sigi merupakan kerajaan paling besar dan disegani karena kerajaan Sigi yang pertama kali mengadakan hubungan dengan kerajaan Bone di Sulawesi Selatan  (Mamar 1984).  Kata Kaili oleh sebagian masyarakat dipercaya berasal dari nama pohon. Menurut tradisi lisan yang berkembang dalam masyarakat, To Kaili berasal dari pegunungan sebelah timur yaitu berasal dari sebuah tempat bernama Buluwatumpalu. Tempat ini berada di sekitar bukit Paneki di Kecamatan Sigi Biromaru dan sering disebut Raranggonau, yaitu wilayah pemukiman penduduk di mana banyak ditumbuhi pohon bambu kecil yang subur.


Tonda Talusi

 

Tonda Talusi (prinsip harmoni) 

Prinsip kebersamaan dalam konsep sintuvu masyarakat Kaili direalisaikan dalam sistem atau pola yang disebut tonda talusi. Tonda artinya tungku, talusi  artinya tiga penyangga  (Sumber:  Tjatjo Tuan Sjaichu, hasil wawancara tanggal 13  Agustus 2018). 

Tonda talusi merupakan kearifan lokal masyarakat Kaili dalam mewujudkan harmonisasi  sebagai suatu upaya untuk meminimalisir terjadinya konflik (Sumber: Iksam, 26 September 2018).  Tonda talusi dalam konteks kebersamaan masyarakat Kail merupakan sistem nilai yang dibangun atas dasar konsep sintuvu untuk mewujudkan keharmonisan dalam masyarakat. Nilai-nilai yang mendasari tonda talusi adalah kekeluargaan, musyawarah, kerja sama, dan harmoni.   

Tonda talusi adalah filosofi masyarakat Kaili yang menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta, dengan sesama manusia, dan dengan Tuhan. Tonda talusi artinya tiga penyangga (tungku) kehidupan masyarakat Kaili. Prinsip-prinsip kebersamaan dalam falsafah  Tonda Talusi, meliputi 3 pilar kehidupan masyarakat Kaili yang dilandasi nilai-nilai kebaikan, yaitu:

1) Matuvu Mosipeili artinya baku lihat,

2) Matuvu Mosiepe artinya baku dengar,

3) Matuvu Mosimpotove artinya baku sayang.

Tonda Talusi menggambarkan tiga tungku penyangga kehidupan dalam masyarakat Kaili (Sumber: Rum Parampasi, hasil wawancara tanggal 24 Juli 2018). 

Konsep  tonda talusi dalam perkembangannya dimaknai sebagai hubungan kerja sama dalam masyarakat antara pemerintah, tokoh adat, dan tokoh agama sebagai representasi dari harmonisasi hubungan manusia dengan alam semesta, sesama manusia, dan Tuhan.  Tonda Talusi merupakan pendekatan untuk mencegah terjadinya konflik dalam masyarakat Kaili melalui tiga pilar tersebut agar masyarakat senantiasa merasa tenteram dan nyaman hidup di tanah Kaili. Tonda talusi merupakan warisan pranata sosial yang dibangun para leluhur sejak ratusan  tahun silam sebagai kearifan To Kaili. Tonda talusi sebagai tiga pilar penyangga kehidupan dalam masyarakat Kaili sekarang ini pendekatannya menggunakan beberapa unsur yaitu:

1) Tonda  (tungku) yang pertama melibatkan Pemerintah Daerah, Polri, dan TNI;

2) Tonda (tungku) kedua melibatkan tokoh  adat;

3) Tonda (tungku) ketiga melibatkan tokoh agama.

Pola tersebut sangat efektif digunakan dalam menangkal atau melakukan deteksi dini pada lingkungan terkecil dalam masyarakat yaitu RT, RW, dan kelurahan sebagai tindakan preentif dan preventif dalam mengenal orang-orang di lingkungan tersebut. Dengan mengenal nama dan domisili warga masing-masing diharapkan dapat mencegah terjadinya tindakan-tindakan yang dapat mengganggu ketenteraman warga masyarakat serta menghindari terjadinya konflik yang berkepanjangan (Sumber: Timuddin,  hasil wawancara tanggal 26 Juli 2018).  

Nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Kaili dalam prinsip nosarara nosabatutu,  ada nosibolai, libu ntodea, dan  tonda talusi menggambarkan bahwa masyarakat Kaili adalah masyarakat yang memiliki karakter kuat dalam menjalin hubungan kebersamaan dan kerja sama dengan orang lain. Nilai-nilai dasar yang dibangun dalam kebersamaan masyarakat Kaili dalam perjalanan sejarahnya, kemudian dipahami oleh masyarakat Kaili sebagai komponen yang membentuk budaya persatuan atau gotong royong disebut sintuvu. Latar belakang lahirnya  sintuvu adalah semangat kebersamaan atau persatuan masyarakat Kaili yang dilandasi oleh nilai-nilai  harmoni, kekeluargaan,semangat berbagi, solidaritas, musyawarah mufakat, tanggung jawab, dan keterbukaan. Nilai-nilai keutamaan tersebut menjadi nilai dasar dalam memahami budaya sintuvu sebagai  prinsip persatuan dalam masyarakat Kaili

Rabu, 01 Juni 2022

Mosikadepaka Mosipatora Mosipoinggi Mosialapatuju

Sabtu, 20 Maret 2021

𝘼𝙥𝙖𝙥𝙪𝙣 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙨𝙖𝙡𝙖𝙝𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖, 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙢𝙥𝙖𝙞 𝙢𝙚𝙢𝙪𝙩𝙪𝙨𝙠𝙖𝙣 𝙩𝙖𝙡𝙞 𝙨𝙞𝙡𝙖𝙩𝙪𝙧𝙧𝙖𝙝𝙞𝙢

 







          Makna silaturahmi dalam masyarakat Indonesia dipahami sebagai aktivitas berkunjung atau bertemu dengan seseorang, baik seorang kerabat maupun bukan kerabat untuk menjaga sebuah ikatan batin persaudaraan.

Namun belakangan ini, berbedanya pandangan sering kali dijadikan sebuah dasar untuk memutuskan silaturahmi. Berkembangnya teknologi yakni media sosial juga menjadi alat yang sering kali digunakan untuk memutus tali silaturahmi. Fitur blokir, unfriend, yang berujung putusnya tali silaturahmi hanya karena perbedaan pandangan berujung putusnya hubungan di dunia nyata.

Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali persaudaraan.” (HR. Bukhari Muslim).

Salah seorang Hamba Allah mengatakan silaturahmi dalam pandangan masyarakat Indonesia adalah berkunjung. Sedangkan dalam bahasa Arab adalah menyambung hubungan kekerabatan dengan leluhur, pada utamanya adalah ibu. Dalam pandangan Islam memutus silaturahmi sangat tidak tepat.

“Kalau memutus silaturahmi biasanya terjadi karena salah paham hingga terjadinya permasalahan. Namun harus ditanyakan terlebih dahulu informasi yang membuat salah paham itu benar atau tidak. Tabayun terlebih dahulu jangan sampai salah paham atau sepihak,” ujarnya.

Ia menambahkan apabila setelah dilakukannya tabayun, pendapat salah seorang pihak lebih kuat dan baik maka pendapat yang kurang baik itu harus menerima. Sehingga hal itu membuat tidak terjadinya putusnya silaturahmi.

Rasulullah bersabda, “Tidak ada satu dosa yang lebih pantas untuk disegerakan hukuman bagi pelakunya di dunia bersamaan dengan hukuman yang Allâh siapkan baginya di akhirat daripada baghyu [kezaliman dan berbuat buruk kepada orang lain] dan memutuskan kerabat.” (HR. Bukhari)

Ia menambahkan, fenomena hijrah atau berpindahnya dari tempat yang kurang baik menuju tempat yang baik dan tetap harus menjaga jarak namun tidak harus memutus silaturahmi. Menurutnya, apabila seseorang hijrah namun tetap berkumpul di lingkungan yang kurang baik maka akan ada suatu pengaruh yang kurang baik pula.

Pada saat ini dalam menjelang pemilu sering kali terjadi perdebatan perbedaan pilihan dan berujung pada putusnya tali silaturhami. Putusnya komunikasi yang sering kali terjadi berawal dari sosial media seakan lupa bahwa sesama muslim adalah saudara.

Ia menambahkan agama Islam tidak mengajarkan untuk menghujat atau bahkan mencela karena beda pandangan. Menurutnya, Rasulullah datang untuk memperbaiki akhlak, sebagai muslim harus selalu menyadari hal itu sehingga selalu berusaha untuk berakhlak yang baik.

Allah berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS: Muhammad: 22-23)

Allah jelas melarang memutus hubungan silaturahmi baik kepada saudara kandung maupun kerabat. Segala perbedaan adalah wajar yang datangnya dari Allah. Manusia hendaknya berpegang teguh pada Alquran yang jelas menegaskan Allah tidak menyukai perbuatan memutus tali silaturahmi. Menyambung tali silaturahmi akan membawa manfaat selain dilimpahkannya pahala. Rasulullah bersabda, “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukan sesuatu dengan-Nya, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari Muslim)

Allah akan memberikan ganjaran yang menunaikan kewajibannya dengan surga. Dalam hadis tersebut Rasulullah menyebut bahwa menyambung tali silaturahmi merupakan tuntunannnya yang kelak di akhirat segala sesuatunya akan diperhitungkan.

Jumat, 19 Maret 2021

𝗣𝗮𝗻𝗴𝗮𝗷𝗮𝗿𝗶 𝗶 𝗦𝗔𝗡𝗗𝗢 𝗸𝗮 𝗜𝗮 𝗠𝗯𝗼𝘁𝗼 : 𝑻𝒊𝒑𝒔 𝒎𝒆𝒍𝒊𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈𝒊 𝒂𝒏𝒂𝒌 𝒅𝒂𝒓𝒊 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒂𝒖𝒍𝒂𝒏 𝒃𝒆𝒃𝒂𝒔

 


1. Ajak anak untuk berdiskusi

Tak dapat dipungkiri jika masa remaja adalah masa paling sibuknya anak. Namun ketika anak dan Anda sama-sama punya waktu luang, manfaatkanlah untuk saling bertanya kabar dan bertukar cerita.

 

Anda bisa memancing obrolan dari topik yang paling sederhana. Misalnya, menanyakan apa saja aktivitas anak di sekolah dan bagaimana anak Anda biasanya bergaul dengan teman-temannya. Setelah itu, barulah Anda giring obrolan ke topik utama. Jelaskan pada anak apa itu pergaulan bebas secara umum, apa saja hal-hal yang masuk ke dalam tindakan tersebut, dan apa bahayanya bagi anak Anda juga orang-orang di sekitarnya.

 

Jelaskan secara perlahan dengan bahasa yang mudah dimengerti anak. Persilakan anak untuk bertanya tentang hal apa saja yang sekiranya masih membuat mereka bingung. Jangan sungkan untuk mengatakan ‘tidak tahu’ jika Anda memang belum mengetahui jawaban dari pertanyaannya.

 

2. Kenali setiap teman-teman anak Anda

Dalam banyak kasus, perilaku anak remaja tercermin dari lingkungan perteman mereka sehari-hari. Ya, kasus penyalahgunaan narkoba, minuman keras, bahkan seks bebas bisa dipicu jika anak-anak Anda bermain dan berkumpul di lingkungan yang mendukung hal-hal tersebut.

 

Nah, maka dari itu, pastikan Anda mengenali semua teman-teman anak Anda dengan baik. Bila perlu, mintalah anak Anda untuk mengajak teman-temannya ke rumah dan berkenalan dengan Anda.

 

Mengetahui lingkaran perteman anak juga memungkinkan Anda untuk mengenal orangtua anak-anak lain. Alhasil, Anda juga bisa bertukar pikiran dan informasi tentang tips mendidik anak dengan orangtua lainnya.

 

3. Awasi aktivitas anak sehari-hari

Usahakan Anda selalu memantau dan mengawasi semua kegiatan yang anak-anak lakukan. Anda bisa meminta anak Anda mengabari setiap kali mereka akan beraktivitas atau pergi ke suatu tempat. Pastikan juga Anda mengetahui kapan mereka akan pulang.

 

Anda bisa berkirim pesan singkat, menelepon, atau melakukan panggilan video dengan anak Anda guna memastikan kabar dan keberadaannya. Berikan pemahaman pada anak bahwa apa yang Anda lakukan ini bukan sebagai bentuk kekangan, tapi pengawasan.

 

Pada dasarnya, setiap orangtua punya caranya masing-masing untuk mengawasi anak-anaknya. Apa pun caranya, pastikan bahwa anak Anda tidak merasa keberatan atau bahkan tertekan dengan hal tersebut. Sepakati apa yang paling baik untuk anak dan juga diri Anda sebagai orangtua.

 

Sebenarnya pergaulan bebas yang dilakoni para remaja ini merupakan sebuah persoalan yang kompleks dan tidak dapat dilihat secara sekilas saja. Beberapa penyebab yang menjadi latar belakang pergaulan bebas tersebut antara lain:

Kurangnya Pengawasan Keluarga – Kurangnya kontrol sosial dari lingkungan terutama keluarga membuat seorang remaja merasa bebas untuk melakukan apa yang dia anggap benar dan tidak mendapatkan bimbingan tentang hal yang benar dan salah. Kekurangan perhatian di rumah sering membuat anak melakukan cara membahagiakan diri sendiri yang salah.

Lingkungan yang Kurang Baik – Apabila seseorang tidak mendapatkan contoh yang baik dalam kesehariannya atau tumbuh dalam lingkungan yang bebas, maka ia tidak akan tahu bagaimana caranya bergaul sesuai dengan norma yang telah ditetapkan dalam masyarakat.

Salah Memilih Teman – Teman yang dimiliki dapat memberikan pengaruh positif dan juga negatif, bahkan bisa mempengaruhi seseorang untuk melakukan pergaulan bebas. Apabila seseorang tidak memilih teman yang dapat memberikan pengaruh positif, maka ia dapat terjerumus kepada pergaulan bebas.

Akses Informasi – Kemudahan mendapatkan beragam informasi juga turut mendorong terjadinya pergaulan bebas. Anak kecil sekalipun dapat mengakses informasi yang tidak sesuai dengan norma dan adat ketimuran a tau keagamaan, misalnya informasi yang memuat konten mengenai hal – hal berbau seksual yang mudah ditiru.

Rabu, 17 Maret 2021

5 𝘾𝙖𝙧𝙖 𝙈𝙚𝙣𝙘𝙞𝙥𝙩𝙖𝙠𝙖𝙣 𝙆𝙚𝙨𝙚𝙩𝙖𝙧𝙖𝙖𝙣 𝙎𝙪𝙖𝙢𝙞 𝙙𝙖𝙣 𝙄𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙙𝙞 𝘿𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙍𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙏𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖

 


Masalah kesetaraan di dalam keluarga perlu dijaga dengan baik agar menciptakan keharmonisan, terutama yang menyangkut peran pasangan suami istri. 

Perlu diketahui bahwa kesetaraan perempuan tidak hanya berlaku dalam masyarakat saja, tetapi juga dalam membangun bahtera rumah tangga bersama pasangan.

Mungkin banyak yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga dan suami yang menjadi tulang punggung keluarga terkait permasalahan ekonomi. Namun, di masa sekarang di mana berlakunya kesetaraan terhadap laki-laki dan perempuan, maka sudah sepatutnya suami juga berperan penting dalam mengurus anak-anak serta pekerjaan rumah tangga.

Nah, jika Mama ingin mengetahui kesetaraan apa saja yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri dalam rumah tangga, kali ini Popmama.com telah merangkumnya.

1. Membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah di hari libur

1. Membantu istri mengerjakan pekerjaan rumah hari libur
Pexels/amina-filkins

Jika pasangan Mama pergi ke kantor setiap harinya, mungkin akan sulit untuknya mencoba untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah.

Walau ternyata kondisinya begitu, ini bukan menjadi halangan bagi suami untuk ikut serta membantu pasangan menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Ketika sedang ada waktu luang di akhir pekan atau hari libur, ada baiknya untuk membantu pasangan. 

Ada beberapa hal yang bisa dikerjakan, seperti memasak, mencuci baju, menyapu dan menyelesaikan tugas lainnya. Iniasiatif tersebut secara tidak langsung dapat membantu pasangan ketika sedang ada waktu libur. 

Pasangan secara tidak langsung bisa menikmati waktu untuk mengurus dan membahagiakan diri sendiri, seperti pergi ke salon atau sekadara pergi pusat perbelanjaan.

2. Istri bisa ikut membantu dalam perekonomian, usai diskusi bersama

2. Istri bisa ikut membantu dalam perekonomian, usai diskusi bersama
Pexels/ekaterina-bolovtsova

Sebagai perempuan, bukan berarti hanya diharuskan mengurus rumah dan anak saja.

Seorang istri juga memiliki hak dalam membantu perekonomian keluarga. Istri yang ikut membantu perekonomian dengan bekerja di kantor atau membuat usaha sendiri, secara tidak langsung akan membantu perekonomian keluarga.

Dengan begitu, pasangan suami istri bisa saling bekerja sama untuk menghidupi keluarga mereka bersama. Namun, perlu diingat kalau istri perlu meminta izin terlebih dahulu ke pasangan apabila ingin bekerja. 

Ingat harus ada kesepakatan dari kedua belah pihak!

3. Mengambil keputusan bersama

3. Mengambil keputusan bersama
Pexels/olly

Mengambil suatu keputusan merupakan salah satu proses kerja sama yang dilakukan dalam keluarga. Suami dikenal sebagai orang yang mampu membuat suatu keputusan dalam keluarga.

Namun, tidak ada salahnya jika istri juga berperan dalam mengambil keputusan. Sebagai perempuan, istri memiliki hak juga untuk menyuarakan pendapatnya di keluarga.

4. Membantu anak dalam belajar dan mengerjakan tugas

4. Membantu anak dalam belajar mengerjakan tugas
Pexels/august-de-richelieu

Seperti yang kita ketahui, seorang anak tidak akan mampu berkembang dan tumbuh menjadi dewasa tanpa pola asuh yang diberikan oleh kedua orang tua. Pola asuh yang biasa dikenal sebagai parenting ini adalah cara ampuh untuk memahami pola pikir sang anak.

Mama dan pasangan dapat berperan dalam membantu anak belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolahnya di bawah pengawasan.

5. Mengantarkan anak-anak ke sekolah

5. Mengantarkan anak-anak ke sekolah
Pexels/vidalbalielojrfotografia

Hal lain yang dapat pasangan bantu dalam pola asuh anak-anak adalah dengan mengantarkan mereka ke sekolah. Mungkin banyak di antara pasangan Mama-mama yang pergi ke kantor sejak matahari belum terbenam.

Namun, tidak ada salahnya jika sesekali membantu Mama dengan mengantarkan anak-anak ke sekolah. Dengan menerapkan cara ini, keterikatan hubungan antara sang anak dan orang tua akan semakin harmonis dan erat.

Itulah 5 kesetaraan antara Papa dan Mama dalam mengurus rumah tangga dan pola asuh anak-anak. Semoga bermanfaat ya, Ma!



15 𝙆𝙪𝙣𝙘𝙞 𝙍𝙪𝙢𝙖𝙝 𝙏𝙖𝙣𝙜𝙜𝙖 𝘽𝙖𝙝𝙖𝙜𝙞𝙖, 𝙃𝙪𝙗𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙎𝙪𝙖𝙢𝙞-𝙄𝙨𝙩𝙧𝙞 𝙃𝙖𝙧𝙢𝙤𝙣𝙞𝙨







Setelah menikah dan menjalani bahtera rumah tangga, tentulah semua pasangan menginginkan rumah tangga yang harmonis dan bahagia. Rumah tangga yang bahagia tentu tidak dapat terjadi tanpa adanya proses dan pembelajaran dari masing-masing pasangan.

Namun keinginan tersebut tidak selalu terwujud dengan mudahnya. Dalam rumah tangga tentu akan ada beberapa masalah dalam menuju perjalanan rumah tangga yang bahagia.

Tetapi, setiap masalah yang muncul tentunya memiliki solusi tersendiri untuk diatasi.

Dilansir dari WebMD, berikut ini Popmama.com telah merangkum 15 kunci rahasia mendapatkan rumah tangga bahagia.

Bisa dicoba nih, Ma!

1. Menikmati kehidupan satu sama lain

1. Menikmati kehidupan satu sama lain
Freepik

Inti dari keluarga yang bahagia adalah bahwa mereka benar-benar mengangkat satu sama lain dan bahwa semua bermuara pada bagaimana mereka memperlakukan satu sama lain.

Menurut Rabbi Shmuley Boteach, seorang keluarga dan penasihat hubungan yang berbasis di New York, ia menyebutkan bahwa, "ada kegembiraan yang menjadi ciri interaksi mereka."

Contohnya saja ketika orangtua pulang dan anak-anak akan senang melihat orangtuanya pulang.

Begitu sebaliknya, ketika anak-anak pulang dari sekolah dan disambut dengan bahagia oleh orangtua mereka.

2. Saling bertukar cerita

2. Saling bertukar cerita
amazonaws.com

Saling bertukar cerita bisa menjadi kunci keluarga bahagia yang bisa Mama dan Papa coba di rumah. Hal ini agar tidak terjadinya kebosanan yang menyebabkan terjadinya disgungsi mulai dari perselingkuhan hingga anak-anak yang lebih memilih bersama teman dariapda keluarga.

Mulailah dengan saling bertukar cerita mengenai kesibukan hari ini, tanyakan pada pasangan atau anak-anak bagaimana mereka melalui harinya.

Dengan bercerita, bisa membuat hubungan satu sama lain menjadi lebih dekat dan memperkuat rumah tangga yang bahagia.

3. Prioritaskan pernikahan

3. Prioritaskan pernikahan
Freepik

Memprioritaskan pernikahan juga menjadi kunci rumah tangga yang bahagia. Banyak pasangan yang telah memiliki anak akan menjadikan mereka sebagai prioritas utama, yang pada akhirnya membuat hubungan dengan pasangan mulai berkurang.

Rabbi Shmuley Boteach juga mengatakan, "hal ini buruk bagi keluarga, karena anak-anak pada akhirnya akan keluar rumah juga."

Jadi usahakan tetap memprioritaskan pernikahan dengan saling terbuka satu sama lain perihal apapun ya, Ma!

4. Makan malam bersama keluarga

4. Makan malam bersama keluarga
Freepik

Sering di anggap sepele, ternyata makan malam bersama keluarga juga bisa menjadi kunci rumah tangga yang bahagia lho, Ma!

Menurut Rabbi Shmuley Boteach, "makan malam keluarga sangat penting, ini bisa menjadi penghubung satu sama lain."

Boteach juga menyarankan minimal empat kali dalam seminggu Mama dan Papa menyempatkan makan malam bersama. Baik hanya berdua, ataupun mengikutsertakan anak-anak di dalamnya.

5. Menghabiskan waktu bersama

5. Menghabiskan waktu bersama
Freepik/senivpetro

Menghabiskan waktu bersama keluarga memang menjadi kunci rumah tangga bahagia yang mungkin sulit dilakukan bagi banyak pasangan. Mulai dari kurangnya waktu, hingga rasa lelah yang membuat ingin segera pergi istirahat.

Tetapi cobalah menyempatkan menghabiskan waktu bersama seperti menceritakan sesuatu sebagai pengantar tidur anak, atau saling bertukar cerita dengan pasangan sebelum tidur.

6. Prioritaskan keluarga sebelum teman

6. Prioritaskan keluarga sebelum teman
Pexels/Pixabay

"Dalam keluarga yang bahagia, keluarga didahulukan oleh teman," kata Rabbi Shmuley Boteach.

Hal ini seringkali terjadi pada anak-anak, mereka akan lebih mudah merasa bosan dan ingin mencari kesenangan di luar rumah bersama teman mereka. Biarkan mereka melakukan itu, tetapi sebagai orangtua penting memberi tahu mereka bahwa keluarga tetap lebih penting dari teman.

Sehingga dengan begitu, baik pasangan ataupun anak-anak akan tetap menempatkan keluarga sebelum teman sebagai prioritas mereka. Inilah yang menjadi kunci bahagia kehidupan rumah tangga.


    7. Membatasi kegiatan anak setelah sekolah

    7. Membatasi kegiatan anak setelah sekolah
    Freepik/prostooleh

    Saat ini semakin banyak anak-anak yang memiliki jadwal lebih atau ikut sibuk berpartisipasi dalam kegiatan sekolah. Hal ini membuat orangtua harus mengantarkan mereka dalam segala kegiatannya, sehingga anak-anak tidak pernah di rumah pada saat tertentu.

    Bagi Rabbi Shmuley Boteach, hal ini bukanlah cara untuk membuat keluarga bahagia. Cobalah membuat kegiatan setelah sekolah sendiri melalui keluarga. Misalnya dengan mengajak anak bermain sepatu roda atau bersepeda bersama di taman dekat rumah.

    8. Memiliki ritual tersendiri

    8. Memiliki ritual tersendiri
    amazonaws.com

    "Keluarga membutuhkan ritual," kata Rabbi Shmuley Boteach. Ritual sendiri dapat bersifat keagamaan, nasional, atau bahkan khusus keluarga seperti memakan pizza bersama setiap minggu.

    Barbara Fiese, PhD, profesor dan ketua psikologi di Universitas Syracuse di New York, setuju. "Keluarga bahagia memiliki ritual yang bermakna dan tidak tertekan oleh mereka," katanya. "Mereka bisa menjadi unik untuk keluargamu sendiri. Ritual cenderung membawa anggota keluarga dekat karena mereka diulang dari waktu ke waktu."

    Agar ritual keluargamu tidak kaku, buatlah semenarik dan semenyenangkan mungkin, hal ini agar hubungan satu sama lain lebih dekat karena terus mengulang dari waktu ke waktu.

    9. Tetap jaga intonasi suara

    9. Tetap jaga intonasi suara
    Freepik/drobotdean

    Kunci keluarga yang bahagia juga dengan berbicara yang lembut satu sama lain, terlebih pada anak-anak. Pastikan ada lingkungan yang tenang di rumah sehingga kamu dan pasanganmu dapat menciptakan lingkungan yang damai bersama anak-anak.

    Usahakan menjaga intonasi suara agar tidak berteriak terlebih pada anak. Bicaralah dengan mereka secara perlahan, beri mereka aturan dan hukuman jika mereka melanggar. Tetapi tetap usahakan untuk tidak berteriak, hal ini akan menunjukkan bahwa kamu di luar kendali dan justru akan menciptakan lingkungan yang tidak damai di rumah.

    10. Jangan bertengkar di hadapan anak-anak

    10. Jangan bertengkar hadapan anak-anak
    thebrunettediaries.com

    Pertengkaran dengan pasangan mungkin menjadi sesuatu hal yang tidak bisa dihindari, terlebih ketika kedua belah pihak sedang dalam keadaan yang tidak baik. Untuk mempertahankan rumah tangga yang bahagia, usahakan untuk tidak bertengkar dihadapan anak-anak.

    Rabbi Shmuley Boteach mengatakan bahwa cobalah untuk tidak bertengkar di hadapan mereka, "Jika anak-anakmu melihatmu berkelahi dan berdebat, segera minta maaf dan katakan padanya, 'Kami minta maaf kamu harus melihatnya. Kami baru saja berselisih, tetapi semuanya baik-baik saja sekarang."

    11. Jangan terlalu banyak bekerja

    11. Jangan terlalu banyak bekerja
    Freepik/freepic.diller

    Orangtua sering beranggapan bahwa dengan bekerja lebih giat, mereka akan mendapatkan banyak uang untuk mencukupi kebutuhan anak-anak mereka.

    Namun dengan bekerja terus menerus dan tidak membiarkan anak bermain bersama, tentu saja membuat anak merasa bosan. Padahal, kunci kebahagiaan rumah tangga adalah ketika pasangan dan anak-anakmu merasa dihargai dengan menghabiskan waktu bersama.

    Meskipun orangtua memiliki tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan anak dengan bekerja, tetapi tetap berikan waktu luang bagi anak-anak agar mereka tetap merasa berharga di mata orangtuanya.

    12. Usahakan menjaga harmonisasi antara saudara

    12. Usahakan menjaga harmonisasi antara saudara
    Daily Parent

    Persaingan saudara bisa memecah belah. "Saya mencoba berbicara kepada anak-anak saya tentang betapa beruntungnya mereka memiliki saudara kandung," kata Rabbi Shmuley Boteach.

    Oleh karena itu, untuk membangun rumah tangga yang bahagia dibutuhkan harmonisasi antara anak satu dengan yang lainnya. Sebagai orangtua, penting untuk menjaga harmonisasi anak-anak agar tidak terjadi pertengkaran diantara mereka.

    13. Buat lelucon pribadi

    13. Buat lelucon pribadi
    Freepik

    Ahli juga menyebutkan bahwa memiliki lelucon di dalam keluarga membuat hubungan satu sama lain menjadi lebih dekat dalam membangun rumah tangga yang bahagia. Kamu dan pasanganamu juga bisa memberikan nama panggilan satu sama lain yang terdengar lucu dan berbeda dari biasanya.

    14. Bersikap fleksibel

    14. Bersikap fleksibel
    Freepik/Tirachardz

    Seseorang harus memiliki sikap fleksibel agar hubungan mereka berjalan tidak menegangkan dan membosankan. Begitu pula dalam membangun rumah tangga yang bahagia, kamu dan pasangan harus bersikap fleksibel kepada seluruh anggota keluarga agar lebih mudah menyeimbangi sikap satu sama lain.

    15. Berkomunikasi

    15. Berkomunikasi
    Freepik/prostooleh

    Kunci keluarga bahagia memang tak lepas dari yang namanya komunikasi. Dalam keluarga yang bahagia, semua anggota unit keluarga harus bisa berkomunikasi secara terbuka satu sama lain.

    Rose J. Perkins, EdD, profesor psikologi di Stonehill College di Easton, Mass., mengatakan bahwa keluarga yang bahagia adalah mereka yang berkomunikasi satu sama lain.

    Dengan menjalankan komunikasi yang lebih terbuka satu sama lain, ini bisa membantu membangun rumah tangga yang harmonis dan bahagia. 

    Itulah kunci rumah tangga yang bahagia menurut beberapa ahli. Bisa dicoba di rumah nih, Ma. Semoga bermanfaat!



    Sumber : https://www.popmama.com/life/relationship/ninda/kunci-rumah-tangga-bahagia-hubungan-suami-istri-harmonis/15

    ۞ SEKRETARIAT SEMENTARA DEWAN ADAT KAB. SIGI ۞
    ۞ MEDIA - SOSIAL ۞