SILATURRAHMI SRI MANGKU ALAM II

Kunjungan Silaturrahmi Sri Mangku Alam II di Pombewe

RAPAT DEWAN ADAT

Selesai Pelaksanaan Rapat di Rumah Ketua Dewan Adat Kab. Sigi, di Kaleke.

KUNJUNGAN RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol dengan Dewan Adat Kab. Sigi.

SILATURRAHMI DI RUMAH BUPATI SIGI

Kunjungan Silaturrahmi Pengurus Dewan Adat Kab. Sigi di Rumah Bupati Sigi ...

LIBU POTANGARA

Salah Satu Tugas Dewan Adat Kabupaten adalah menyelesaikan perkara yang tidak terselesaikan ditingkat bawah ....

SILATURRAHMI RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol di Kantor Bupati Sigi

FESTIFAL DANAU LINDU

Pelaksanaan Libu Mbaso Dewan Adat Kabupaten Sigi bersamaan Festifal Danau Lindu.

PENGURUS INTI DEWAN ADAT KAB. SIGI

Foto Bersama, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Bendahara, dan Wakil Wandahara.

PELANTIKAN MAJELIS ADAT KECAMATAN

Pelantikan Pengurus Majelis Adat Kecamatan oleh Ketua Dewan Adat Kab. Sigi ...

LIBU POSAMPESUVU MAROSO

Mediasi Perselisihan Warga Desa Rarampadende dan Desa Pesaku ....

Tampilkan postingan dengan label Sejarah Desa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Desa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Mei 2025

Sejarah Singkat Desa Wisolo

 


Suku Kaili Inde Gia yang menjadi penduduk mayoritas Desa Wisolo pada awalnya adalah kelompok-kelompok kecil berbasis keluarga yang bermukim di Boya-boya (kampung) yang tersebar di kaki Gunung Wisolo dan aliran sungai di sekitarnya. Beberapa Boya itu adalah Boya Tabaro dan Boya Parigi yang terletak di sekitar aliran Kuala Ombi (Sungai), Boya Tompu yang terletak di seberang Kuala Sambo, sedangkan Boya Wisolo, Boya Dele, Boya Barangga, Boya Kamande, dan Boya Daeruwa tersebar di kaki Gunung Wisolo. Keluarga-keluarga dari tiap-tiap Boya itu saling berinteraksi dan berkerabat serta memiliki petinggi yaitu Tetu’a Ngata yang biasa dipanggil dengan sebutan Pue. Sehari-harinya, mereka mencari penghidupan dengan berburu hewan, berladang berpindah, dan mengumpulkan hasil hutan. Pada saat berladang berpindah, Masyarakat Adat Kaili Inde Gia mendirikan pondok-pondok di dekat ladang/kebun yang disebut Lompu.

Masyarakat Adat Kaili Inde Gia memiliki “Cerita Tanah Segenggam” yang berisikan pembabakan sejarah yang diturunkan secara lisan kepada orang-orang tertentu. Adapun Pue yang paling diingat oleh Masyarakat Adat Kaili Inde Gia bernama Mijupau yang hidup pada zaman kolonial Belanda. Sedangkan ada dua Pue pendahulu sebelum Mijupau yang diyakini dan masih diingat yakni Pue Sompolemba (zaman kolonial) dan Rimba (sebelum zaman kolonial). Pada zaman Pue Sompolemba, Belanda mendirikan sebuah sekolah rakyat pertama di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Desa Bobo. Selain mendirikan sekolah, Belanda juga menyebarkan ajaran Nasrani Bala Keselamatan yang akhirnya menyesuaikan dengan hukum adat secara damai. Para Pemimpin Kampung itu pada perkembangan sejarahnya dipilih oleh Madika (Raja), penguasa sebuah wilayah yang lebih luas dan terdiri dari beberapa Ngata (kampung). Selain Belanda, masyarakat Kaili Inde Gia juga berinteraksi dengan toke-toke Cina untuk urusan perdagangan damar dan rotan.

Sebelum tahun 1960, Madika Bengge Tai atau Bapak Datu Mamusu memindahkan Masyarakat Kaili Inde Gia dari boya-boya lama ke sebuah wilayah dataran yang saat ini dikenal sebagai Desa Wisolo dengan kepala kampung pertama yaitu Pue Mujipau. Penamaan Wisolo berasal dari nama sebuah pohon yang amat besar yang dulu banyak tumbuh di wilayah gunung. Secara bertahap anggota masyarakatt di boya-boya lama itu membangun rumah di wilayah dataran hingga pada 1960 masyarakat berpindah menetap ke pemukiman baru tersebut. Hanya 1-2 keluarga yang kini bertahan di beberapa Boya Lama seperti di Tabaro dan Parigi. Selain itu, ada juga sebagian masyarakat Kaili Inde Gia yang berpindah ke wilayah lain yaitu sebagian masyarakat Boya Parigi ke Desa Poi dan sebagian masyarakat Boya Daeruwa ke dusun Kora di Desa Sejahtera yang hidup berdampingan dengan masyarakat Kaili Da’a hingga kini. Sejak masa Pue Mijupau, tercatat 14 Kepala Kampung/Desa Wisolo hingga tahun 2018.

Wilayah Desa Wisolo saat ini ditempati juga oleh suku lain seperti Kaili Ledo, Jawa, Bugis, Poso, dan lain-lain. Mereka tetap terikat dengan aturan dan hak sesuai adat Kaili Inde Gia dengan penyesuaian-penyesuaian.


Batas Wilayah :

BARAT : Desa Palintuma, Kec. Pinembani, Kab. Donggala dengan batas berupa puncak gunung Kagado, puncak gunung Lengano, puncak gunung Ntatiru, puncak gunung Lengaro II, puncak gunung Vatumputi, puncak gunung Lora, puncak gunung Rongu, puncak gunung Lengano III, dan puncak gunung Vatikanivala.

SELATAN : Desa Balongga dengan batas berupa jalan lokal Desa Poi dengan batas berupa Cekukan/Cikukan sungai Limba Lonja/Simondu Binge, lereng gunung Lambara, puncak gunung Tule, hulu anak sungai Sopi, Alu Taivavu, sungai Pema, puncak gunung/Bunggu Kagado

TIMUR : Desa Sambo dengan batas berupa bekas Kuala Sambo/Binge, Uwe Mpemata, jalan ninja/jalan lokal, dan jalan Kambaroa. Desa Balongga dengan batas berupa percabangan sungai Sambo dan sungai Ombi 1, jalan lokal, Ombi 2, Ombi 4, Ombi 5, Cikukangan sungai Limba Lonja/Simondu

BARAT : Desa Jono dengan batas berupa puncak gunung Vatikanivala, hulu sungai Sambo, anak sungai Mbalaya, puncak gunung Mpa’o, Bingge gunung Tobetue, hulu anak sungai Salu Mpelipo, dan jalan lokal. Desa Sambo dengan batas berupa jalur irigasi sekunder, jembatan, dan jalur irigasi lama.


Aturan Adat Terkait Pranata Sosial .

- Sala Bualo: Perampasan pasangan dan perselingkuhan: Jika lelaki ambil istri orang lain dan berteriak (paksaan) maka Givu dikenakan kepada pihak laki-laki. Jika tidak berteriak (suka sama suka), Givu dibagi dua pihak laki-laki dan perempuan. Givu: 1 ekor kerbau/sapi atau Babi/Kambing 7 ekor, Piring Putih 30 buah, Parang 5 buah. Dibayarkan 70% untuk suami, 15% untuk ngata, dan 15% untuk administrasi Tetu’a Ngata. Paling cepat 2 minggu, paling lambat 4 minggu.

- Sala Mbive (Salah Bibir) termasuk memfitnah, menghina, dan lain-lain: Givu dimulai dari yang paling ringan (Sompo), jika diulangi maka Givu berat (Vaya). Givunya yaitu I. Ayam 1 ekor dan Piring putih 1 buah, II. Babi/Kambing 1 ekor dan Piring putih 3 buah, III. Kelipatan Vaya.

- Penggarapan lahan dengan izin memiliki ketentuan bahwa hasil dari tanaman sebagian 50% menjadi hak pemilik lahan. Penggarapan lahan tanpa meminta izin kepada pemilik dikenakan Givu Berat (Vaya) yaitu Babi/Kambing 1 ekor dan Parang 1 buah.

- Pengambilan hasil tanaman tanpa meminta izin kepada pemilik dikenakan Givu bertingkat yaitu I. 1 Ekor Ayam (Peringatan), II. Babi/Kambing 1 ekor jika diulangi.

- Jika ada perkelahian, maka dikenakan Givu Berat (Vaya) yaitu: 1 babi/kambing, 12 meter kain putih, 30 piring, 1 baki.

- Terdapat tradisi kelahiran anak Pohaya Kula, Anak didoakan dan dibuatkan Kaveve Enau (ketupat daun enau) dan Ketupat oleh Tokoh Perempuan Adat dan dimakan bersama-sama. Si anak memperoleh status gender sebagai laki-laki (Bo’o) dan perempuan (Dei).

- Pada saat ada kematian, tidak boleh memakan Kelor dan Terong (Pali/Pantangan) dan dilarang bekerja sebelum melayat dan dilarang berisik memutar musik dan motor (Larangan/Netagi).


Pembagian Ruang Menurut Adat

Pantalu: Wilayah yang menjadi kebun baik yang menetap maupun masih berpindah.

Ova: Wilayah hutan yang sudah digarap dan ditinggalkan 1-2 tahun, biasanya ditumbuhi rumput dan tumbuhan liar lainnya.

Pangale: Wilayah hutan yang sudah digarap dan ditinggalkan 10 tahun ke atas, biasanya ditumbuhi pohon kayu.

Wana Nggiki: Dalam hutan rimba yang belum dijamah dan dijaga untuk tempat berburu.

Ngata/Boya: Wilayah yang dijadikan pemukiman.


Sumber : DISINI


Jumat, 16 Mei 2025

Sejarah Desa JONO OGE


 

Sejarah Desa SOULOWE

 

Desa Soulowe adalah pecahan dari desa Watunonju sekitar tahun 1960an yang nama awalnya sering disebut, Ranjambalagi yang artinya Pohon Asam Jawa karena memang terdapat banyak pohon asam jawa di daerah desa ini, Karena penduduk didaerah ranjambalagi sudah semakin banyak dan sangat sulit mengakses untuk beribadah hari raya idul fitri ke Watunonju, ada seorang tokoh masyarakat yang bernama Yalimuru meminta kepada kepala desa Watunonju yang masih dipimpin oleh bapak Amin Letawa untuk dijadikan desa yang berdiri sendiri.

 

Pada tahun 1968 bapak Amin Letawa menunjuk langsung, bapak Lahudo Gerorante yang menjabat sebagai imam desa Watunonju pada saat itu, untuk dijadikan kepala desa pertama yang ada didesa soulove yang dilantik oleh bapak Bupati Ajis Lamadjido dan bapak Camat Daeng Ruda Lamakarate, Sedangkan nama Soulove diambil dari sejarah yaitu karena banyaknya sarang burung elang yang ada dipohon asam jawa yang biasa dilihat seperti Sou (rumah/pondok) dan Love adalah Elang maka nama desa ini dinamakan Desa Soulove.


Sumber : DISINI

Sejarah Desa Balumpewa

 

Sejarah Desa BALUMPEWA

Tertulis/terdengar suatu cerita dari satu wilayah hunian komunitas masyarakat Yang amat subur di atas tanah pegunungan sebelah barat, wilayah yang ditumbuhi Pepohonan dan rerumputan yang hijau,  orang-orang sekitarnya menyubut wilayah ini“ BOLONTOKUE “. 

Selain memiliki tanah sangat subur untuk bercocok tanam juga sangat baik digunakan untuk wilaya pemukiman, sehingga dalam kurun waktu tertentu sekelompok komunitas etnik Kaili dengan sub-etnik Inde (Topo Inde) yang menghuni wilaya Vayolipe mencoba melakukan perpindahan ke wilaya Bolontokue. Meskipun hidup dengan kesederhanan ditengah keterbatasan dan pola kearifan tradisional yang memiliki, membuat kehidupan mereka amatlah bersahaja pada kondisi yang ada. Pola kehidupan yang masih sangat tradisional ini dilakukan oleh masyarakatnya melalui kehidupan sehari-hari baik dalam hal bekerja dikebun/bertani. 

Bertahun-tahun sudah lamanya masyarakat Bolontokue bekerja keras ditengah ketenangan dan kesederhanaan untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya melalui pola interaksi yang dilakukan baik interaksi sesama masyarakat maupuninteraksi dengan alam disekitarnya membuat lahirnya satu kebiasaan yang menjadi nilai-nilai dan norma kehidupan. Melihat kebutuhan sehari-hari baik dalam hal pekerjaan khususnya pertanian dan berburu masih menggunakan alat yang sangat terbatas maka seorang orang tua yang bernama “PEVA” berinisiatif menanam serumpun Bambu yang dalam bahasa lakolnya disebut “BALO”.

Balo (bambu) tersebut tumbuh dan berkembang dan akhirnya bambu tersebut sangat banyak membatu masyarakat Bolontokue melakukan pekerjaan terutama dikebun dan berburu. Karna dengan banyaknya fungsi/kegunaan bambu yang ditanam oleh PEVA, maka oleh masyarakat Bolontokue sesekali menyebut wilayanya dengan sebutan “BALUMPEVA”. Kerena oleh masyarakat Bolontokue lebih akrab menyebut wilaya Bolontokue dengan nama Balumpeva maka muncul kesepakatan untuk mengganti nama Bolontokue menjadi Balumpeva. Yang sekarang menjadi Balumpeva (Balumpewa)

Etnis, Bahasa dan Religi

Mayoritas etnis di desa Balumpewa  adalah suku Kaili Inde.  Orang Kaili terdiri atas beberapa sub suku dan menggunakan dialek yang berbeda-beda, maka munculah istilah: Kaili Ledo, Kaili Rai, Kaili Ija, Kaili Unde, Kaili Ado, Kaili Edo, Kaili Tara, dan sebagainya. Dikatakan sebagai Orang Kaili karena adanya kesamaan budaya dan adat istiadat di kalangan mereka, sebagaimana dikemukakan oleh Mattulada (1985:21) bahwa: Orang Kaili mengidentifikasi diri sebagai To Kaili karena adanya persamaan dalam bahasa dan adat istiadat leluhur yang satu, dipandang menjadi sumber asal mereka, bahasa Kaili dalam arti Lingua-Franca dalam kalangan semua To-Kaili.  argumentasi dan pandangan bahwa meskipun terdiri atas beberapa sub suku, orang Kaili sebenarnya masih memiliki hubungan darah atau berasal dari satu nenek moyang yang sama, hal ini diakibatkan oleh adanya perkawinan antar sub suku Kaili itu sendiri (Natsir  dan Haliadi, 2015). 

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat untuk komunikasi khususnya antar warga, mayoritas warga menggunakan bahasa Kaili dengan dialek Inde, namun untuk komunikasi dengan pendatang serta dengan orang diluar warga Balumpewa, masyarakat menggunakan bahasa Indonesia. Sedangkan , untuk agama yang dianut penduduk desa Balumpewa mayoritas memeluk agama Kristen Balai Keselamatan. Secara kultural pegangan agama ini didapat dari hubungan kekeluargaan ataupun kekerabatan. Selain itu juga keyakinan beragama berkembnag berdasarkan turunan dari orang tua ke anaknya.

Sejarah Kepemimpinan Desa





Sejarah Desa Lolu

 


Desa Lolu adalah sebuah Desa yang terletak diwilayah Kecamatan Sigi Biromaru dan merupakan Ibukota Kabupaten Sigi yang sekaligus sebagai pusat Pemerintahan Kabupaten Sigi. Desa Lolu berdiri pada tahun 1960 yang merupakan salah satu Desa pecahan dari Desa Biromaru yang kemudian dipecah menjadi 6 Desa yaitu Desa Mpanau, Desa Lolu, Desa Pombewe, Desa Loru dan Desa Petobo.

Lolu berasal dari bahasa kaili ledo yang diambil dari kata Pelolu yang berarti jalan potong atau jalan pintas. Hal ini disebabkan pada zaman  dahulu kala wilayah yang sekarang menjadi Desa Lolu sering dijadikan sebagai jalan potong oleh masyarakat yang tinggal diwilayah pegunungan timur (Bulu Bavona) dan masyarakat yang tinggal diwilayah pegunungan barat (Bulu Mpanau).

Dengan melewati berbagai hal / proses pemekaran yang sesuai dengan aturan hukum yang berlaku dari penentuan nama Desa, pembagian wilayah, pembagian kekuasaan Desa dan lain-lain. Akhirnya pada tahun 1962 Lolu resmi menjadi Desa definitive dengan ditunjuknya Kepala Desa Lolu yang pertama yaitu Bapak Tauhid Palirante.

Sejarah Desa Pombewe

 


Sejarah Desa Pombewe

          Sejarah Desa Pombewe dimulai dengan cerita atau legenda tentang adanya kerajaan Nabulili dengan Kalinjo dan kerajaan Sigi yang berada di Desa Bora Cerita turun-temurun terus dilakukan orang tua kepada anak-anaknya tidak lepas dari sejarah beberapa kerajaan tersebut, salah satunya adalah kerajaan Nabulili yang berarti sentral dunia (tatanga nu dunia) merupakan kerajaan yang amat makmur, kaya, dan rakyatnya sejahtera. Akibat perselisihan, terjadilah peperangan (posi patesi) mengakibatkan kerajaan Bulili mengalami kehidupan yang tidak tenteram. Dalam pemerintahannya, kerajaan Nabulili memiliki beberapa panglima (Tadulako) yang dikenal sampai sekarang antara lain Mokeku, Mantaili, Toroboku, dan Mantante. Pada zaman itu raja Nabulili memiliki hubungan baik dan sangat erat dengan Raja Sigi, singkat sejarah terjadi perselisihan antara kedua Raja tersebut karena rasa dendam dan perebutan kekuasaan terjadilah peperangan atau posi patesi yang mana kerajaan Sigi memerintahkan panglima dan prajurit Toindate yang  berasal dari Kulawi untuk merampas kekayaan yang ada dikerajaan bulili namun panglima dan prajurit dari Toindate dapat dihalau oleh Empat Panglima (Tadulako) dari kerajaan Nabulili mengejar rombongan tersebut hingga salah seorang dari prajurit Toindate berhasil dibunuh oleh Mokeku dan Mantaili yang bernama Sidagi, lalu dari sinilah awal dari berdirinya Desa Pombewe yang konon ceritanya bahwa usus atau isi perut dari prajurit Sidagi dilingkar disebuah pohon yang bernama pohon Tui (Bahasa Kaili Ledo) sehingga secara turun-temurun cerita dari tempat tersebut dinamakan Pombewe Tailiko (Gulung Tali Usus).


Sumber : DISINI

۞ SEKRETARIAT SEMENTARA DEWAN ADAT KAB. SIGI ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞