SILATURRAHMI SRI MANGKU ALAM II

Kunjungan Silaturrahmi Sri Mangku Alam II di Pombewe

RAPAT DEWAN ADAT

Selesai Pelaksanaan Rapat di Rumah Ketua Dewan Adat Kab. Sigi, di Kaleke.

KUNJUNGAN RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol dengan Dewan Adat Kab. Sigi.

SILATURRAHMI DI RUMAH BUPATI SIGI

Kunjungan Silaturrahmi Pengurus Dewan Adat Kab. Sigi di Rumah Bupati Sigi ...

LIBU POTANGARA

Salah Satu Tugas Dewan Adat Kabupaten adalah menyelesaikan perkara yang tidak terselesaikan ditingkat bawah ....

SILATURRAHMI RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol di Kantor Bupati Sigi

FESTIFAL DANAU LINDU

Pelaksanaan Libu Mbaso Dewan Adat Kabupaten Sigi bersamaan Festifal Danau Lindu.

PENGURUS INTI DEWAN ADAT KAB. SIGI

Foto Bersama, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Bendahara, dan Wakil Wandahara.

PELANTIKAN MAJELIS ADAT KECAMATAN

Pelantikan Pengurus Majelis Adat Kecamatan oleh Ketua Dewan Adat Kab. Sigi ...

LIBU POSAMPESUVU MAROSO

Mediasi Perselisihan Warga Desa Rarampadende dan Desa Pesaku ....

Tampilkan postingan dengan label Tesa Nggaulu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tesa Nggaulu. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2025

Guma Sulawesi Tengah, Pedang kuno zaman dahulu

 


Guma Sulawesi Tengah, Pedang kuno zaman dahulu yang mempunyai panjang 1 meter

By ditwdb / November 2, 2019

Senjata Tradisional Guma adalah pedang kuno zaman dahulu yang panjangnya sekitar 1m, guma melambangkan keperkasaan pria dan terbuat dari baja sedangkan sarungnya dibuat dari kayu hitam atau tanduk. Pada kedua ujungnya diukir dan badan sarung diberi pula hiasan-hiasan dan diikat dengan logam perak. Guma mempunyai syarat-syarat bila dibuka dari sarungnya. Kepemilikan Guma dapat dilihat dari bentuk gagang pada guma. Misalnya seorang Raja gagang berbentuk kepala buaya dan biasa terbuat dari tulang manusia.

Dalam sejarah sebelum bangsa belanda menginjakan kakinya di Sulawesi Tengah maka penduduk daerah sudah ahli dalam menempah baja dari bahan dasarnya yang berupa batuan yang beku.meskipun sangat sederhana untuk masa sekarang, kemampuan membuat guma dimasa lalu merupakan suatu perstasi karena teknik dengan kemampuan mistik yang tidak terlepas dari pengetahuan dan pemahaman dasar tentang matalurgi, energy kimia dan astronomi yang baik. Persebaran Senjata tradisional Guma yang cukup luas pada masyarakat Sulawesi Tengah dapat ditafsirkan sebagai akibat banyakna suku bangsa yang berbeda  yang memberikan peluang sangat besar untuk terjadinya perang antar suku-suku. Kedatangan Belanda didaerah ondae Poso melarang dan menghentikan pembuatan gumasebagai kebijakan keamanan dan politik dalam mencegah perang antar suku dan guma dianggap dapat membakar semangat patriotism yang tentu akan merugikan bangsa penjajah. Pada masa pendudukn jepang yang mengeluarkan peraturan yang mengharamkan pemilikan senjata Guma dan senjata lainya sehingga banyak sekali guma dikumpul untuk dimusnakan yang membawa perubahan dimana yang memiliki Guma suatu kebanggaan menjadi ketakutan dan kecemasan bagi yang memiliki Guma.

Makna dan nilai dari Guma dapat diuraikan sebagai berikut:

Pada gagang Guma yang mempunyai bentuk variasi setidaknya ada enam macam bentuk yaitu BALIRA yang berbentuk ekor burung yang dipakai oleh orang kebanyakn atau umum, KADANJONGa yang berbentuk kaki rusa model gagang ini biasa dipakai oelh pembesar atau bangsawan, Ndalendani model gagang yang biasa dipakai para pembesar dan bangsawan, PEWO O GAGARANGGO model yang menyurupai kepala buaya yang melambangkan pemakan orang yang hanya dipakai oleh seorang Raja, PETONDU yang bentuknya seperti ekor udang yang melambangkan seorang perwira Tadulako/ajudan

Dalam kehidupan sosial pada mulanya sebagai senjata yang dipakai tadulako atau pemimpin perang untuk perlengkapan perang karena perkembangan maka fungsi Guma sebagai kelengkapan upacara adat tradisional baik yang bersifat sacral maupun sekedar upacara kesenian dan penghormatan. Hampir semua upacara tradisional selalu menyertakan guma sebagai kelengkapan vital dan mutlak dalam sebuah upacara dan mengalami perubahan nama menjadi tinggora

Beberapa upacara adat serta fungsi guma di dalam upacara antara lain:

Upacara Nolama atau selamat perut fungsi guma sebagai kelengkapan, pembayaran, dend, penagkal untuk menyembuhkan dari gangguanroh halus nenek moyang.

Upacara NEBOLAE atau meminangfungsi guma sebagai pelengkap mbesa atau kain adat yang dijadikan mahar bagi pengantin wanita pakaian meminang bangsawan.

Upacara NOBOTI atau upacara perkawinan fungsi guma merupakan salah satu bahan persembahan dari pengantin pria kepada pengantin wanita.

Upacara menjemput tamu atau TOPEAJU fungsi guma diayun-ayunkan beserta tombk dan kaliavo atau perisai lalu berteriak atau maju apabila tamu sudah memasuki lokasi tempat upacara dilaksanakan.

Upacara BALIA fungsi guma sebagai alat potong kambing pada waktu mororo yang juga sebagai alat perang  melawan kejahatan.

Upacara MOBAU fungsi guma sebagi kelengkapan dari tuntutan adat melepas tanggung jawab seorang ayah terhadap anak kandungnya.

Uapacara KEMATIAN fungsi guma sebagai senjata bekal kubur mayat yang dimasukan serta saat penguburan sebagai pengantar pelengkap dialam lain.

*———–

Meskipun nampaknya sangat sederhana untuk masa sekarang, kemampuan membuat guma pada masa lalu merupakan suatu prestasi tehnik yang mencengangkan, karena di samping dibuat dengan berbagai upacara mistik, juga tidak terlepas dari pengetahuan dan pemahaman dasar tentang metalurgi, energy, kimia dan astronomi yang baik. Entah tehnologi pembuatn guma itu lahir dan dikembangkan di tanah Pamona khususnya Ondsae, ataukah berasal dari luar. Namun yang jelas To Ondae pernah di masa lampau memiliki pusat produksi guma yang terkenal di daerah Sulawesi Tengah, bahkan sampai di daerah Sulawesi Selatan. Secara umum, senjata guma dapat dibagi kedalam tiga bagian utama, yaitu wilayah atau mata, gagang dan sarung atau rangka. Penamaan bagian-bagian guma menurut orang Pamona Ondae sebagai prosesi memiliki beberapa peristilahan yang berbeda dengan penamaan orang Kaili Lembah Palu dan orang Kulawi sebagai konsumen. System penamaan bagi orang-orang Pamona sangat berorientasi pada fungsi senjata iini sebagai alat perang, sehingga tipe maupun bentuk-bentuk hias dan tanda-tanda lainnya, kesemuanya mempunyai makna yang berkaitan dengan kedudukan pemakainya dalam suatu pasukan perang. Orang Kaili dan Kulawi sebagai penerima atau pemakai senjata ini mempunyai orientasi penamaan kepada fungsi guma tersebut sebagai alat perang dan alat upacara yang bersifat sacral dan gaib, sehingga model bentuk-bentuk guma mempunyai kekhususan dipakai pada upacara tertentu. Oleh karena system produksi guma tidak terkordinir dalam satu kesatuan kerja, menimbulkan tidak adanya suatu ketentuan yang jelas mengenai kesesuaian bagian-bagian guma yang tetap antara satu bagian dengan bagian lainnya. Bagi orang Pamona symbol utama yang dijadikan patokan dalam menentukan patokan dalam menentukan kriteria atau golongan pemakai guma adalah yerletak pada bentuk ujung sarungnya yang biasa disebut Sopa.

 

Keterangan

Tahun :2019

Nomor Registrasi :201901058

Nama Karya Budaya :Guma Sulawesi Tengah

Provinsi :Sulawesi Tengah

Domain :Keterampilan dan Kemahiran Kerajinan Tradisional

Sumber: Website Warisan Budaya Takbenda



Sumber : DISINI

Jumat, 18 April 2025

Sejarah Nama Nusantara dan Indonesia

 

Peta : 1596

Nama Indonesia Pada Zaman Dahulu, Pada zaman purba, kepulauan Indonesia disebut dengan aneka nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan tanah air dinamai Nan-hai (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini Dwipantara (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta dwipa (pulau) dan antara (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Walmiki menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara.

 

Bangsa Arab menyebut wilayah yang kemudian menjadi IndonesiaJaza’ir al-Jawi (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan, benzoe, berasal dari nama bahasa Arab luban jawi (“kemenyan Jawa”), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon Styrax sumatrana yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. Dalam bahasa Arab juga dikenal Samathrah (Sumatra), Sholibis (Sulawesi), Sundah (Sunda), semua pulau itu dikenal sebagai kulluh Jawi (semuanya Jawa).

 

Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Tiongkok. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Tiongkok semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (Maleische Archipel, Malay Archipelago, Archipel Malais).

 

Pada zaman penjajahan Belanda, nama resmi yang digunakan adalah Nederlandsch-Indie (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah To-Indo (Hindia Timur).

 

Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan Indonesia, yaitu Insulinde, yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin insula berarti pulau). Nama Insulinde ini kurang populer.

 

Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang dikenal sebagai Dr. Setiabudi (cucu dari adik Multatuli), memperkenalkan suatu nama untuk . Nama itu tiada lain adalah Nusantara, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad ke-19 lalu diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.

 

Pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit, Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari Jawadwipa (Pulau Jawa). Sumpah Palapa dari Gajah Mada tertulis “Lamun huwus kalah nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).

 

Oleh Dr. Setiabudi kata nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi jahiliyah itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli antara, maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi nusantara yang modern. Istilah nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda.

 

Sampai hari ini istilah nusantara tetap dipakai untuk menyebutkan Indonesia.

Pada tahun 1847 ,Earl mengajukan dua pilihan nama: Indunesia atau Malayunesia (nesos dalam bahasa Yunani berarti pulau). tetapi lebih senang menggunakan Malayunesia

 

Kemudian James Richardson Logan menggunakan nama Indunesia (yang dibuang Earl), dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia. inilah untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak dalam tulisan Logan:

 

Pribumi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika dibuang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama Indonesische Pers-bureau.

 

Nama Indonesisch (Indonesia) juga diperkenalkan sebagai pengganti Indisch (Hindia) oleh Prof Cornelis van Vollenhoven (1917). Sejalan dengan itu, inlander (pribumi) diganti dengan Indonesiër (orang Indonesia).

 

Indonesia, Negeri Eksotik dengan jumlah pulaunya sebanyak 7.504 buah. (7.870 di antaranya telah mempunyai nama, sedangkan 9.634 belum memiliki nama). Tidak asing juga disebut sebagai Zamrud Khatulistiwa, tentunya karena potensi yang dimiliki oleh negeri ini begitu banyak dan terhampar di jajaran pulau-pulau tersebut. Keanekaragaman hayati, pesona alam, flora-fauna, budaya, bahasa, aneka ragam suku, dan masih banyak lainnya.

Minggu, 30 Maret 2025

PANGISANI



Pangisani (Bahasa Kaili Ledo), adalah Ilmu. Semua jenis Ilmu dinamakan Pangisani dalam Bahasa Kaili Ledo. Pangisani adalah merupakan suatu pegangan hidup pada masa masyarakat suku Kaili di zaman dahulu. Di zaman Suku Kaili sudah mengenal peradaban, maka saat itulah masyarakat memahami Adat atau dalam bahasa Kaili Ledo disebut Ada. Pangisani dan Ada, adalah dua hal yang tidak bisa terlepaskan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebelum membahas lebih jauh tentang Pangisani, kita harus mengenal terlebih dahulu tentang Suku Kali.

SUKU KAILI

Suku Kaili adalah salah satu suku di Indonesia yang mendiami provinsi Sulawesi Tengah. Ada banyak versi cerita mengenai asal usul nama Kaili. Salah satunya adalah berasal dari nama pohon dan buah Kaili yang umumnya tumbuh subur di daerah ini, terutama di tepi sungai Palu dan teluk Palu. Menurut cerita daerah itu, di kampung Bangga ada sebuah pohon Kaili yang tumbuh menjulang tinggi yang banyak digunakan pelaut sebagai panduan dalam menentukan arah ke pelabuhan Banggai. Suku Kaili memiliki wilayah yang cukup luas, bahkan terbesar di Sulawesi Tengah. Dalam sejarah, suku ini dulunya adalah sekelompok orang yang turun dari dataran tinggi Sulawesi Tengah ke lembah-lembah sampai pesisir hingga membentuk komunitas yang besar. Jangkauan peradaban suku ini sangat luas, yang meliputi wilayah kabupaten Donggala, kabupaten Sigi, dan kota Palu, di seluruh daerah di lembah antara gunung Gawalise, gunung Nokilalaki, Kulawi, dan gunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi kabupaten Parigi-Moutong, kabupaten Tojo-Una Una, dan kabupaten Poso. Masyarakat suku Kaili mendiami kampung/desa di teluk Tomini, yaitu Tinombo, Moutong, Parigi, Sausu, Ampana, Tojo, dan Una Una. Sedangkan di kabupaten Poso, mereka mendiami daerah Mapane, Uekuli, dan pesisir pantai Poso.

Kepercayaan Suku Kaili

Suku Kaili merupakan salah satu suku tertua yang ada di Indonesia. Sebagaimana suku tertua, mayoritas masyarakat dalam suku ini menganut animisme yang percaya kepada benda-benda seperti batu, pohon besar, dsb.. Mereka juga percaya kepada dewa-dewa. Sebagian suku Kaili ada yang percaya kepada tuhan (Dewa) yang disebut Tomamuru (sang pencipta), Buriro (penyubur tanah), dan Tampilangi (penyembuhan). Namun, sejak agama Islam masuk dan tersebar di antara suku ini, perlahan mereka meninggalkan kepercayaan animisme dan beralih ke ajaran Islam. Salah satu orang yang berperan besar dalam mengajar dan menyebarkan ajaran Islam adalah keturunan raja Minangkabau, yaitu Abdul Raqi. Perkembangan Islam di suku Kaili sangat cepat sehingga dipastikan mayoritas suku Kaili menganut ajaran Islam.

Kehidupan Masyarakat

Pada zaman dahulu, lapisan sosial masyarakat suku Kaili terbagi menjadi beberapa golongan. Di antaranya golongan raja dan turunannya (madika), golongan bangsawan (to guru nukapa), golongan orang kebanyakan (to dea), dan golongan budak (batua). Selain itu, mereka juga memandang tinggi golongan sosial berdasarkan keberanian (katamang galaia), keahlian (kavalia), kekayaan (kasugia), kedudukan (kadudua), dan usia (tetua). Di dalam masyarakat ini terdapat tiga pola pemukiman adat, yakni Ngapa (pola pemukiman mengelompok padat), Boya (pengelompokan komunitas kecil menyebar), dan Sampoa (tempat berlabuhan). Upacara-upacara adat merupakan kekhasan yang dimiliki suku Kaili. Mata pencaharian utama suku Kaili adalah bercocok tanam di sawah maupun di ladang. Sementara itu, bagi mereka yang tinggal di pesisir, mata pencarian mereka adalah nelayan dan berdagang.

Sumber : https://www.sabda.org/publikasi/40hari/2014/10

Dalam pergaulan antar suku bangsa di Sulawesi bagian tengah setiap nama suku bangsa dilengkapi dengan prefiks (imbuhan diawal kata dasar) to yang berarti "orang". Sehingga orang Kaili disebut Tokaili atau To Kaili. Sub suku yang lain juga adalah Palu (To-ri-Palu), Biromaru, Dolo, Sigi, Pakuli, Bangga, Baluase, Sibalaya, Sidondo, Lindu, Banggakoro, Tamungkolowi, Baku, Kulawi, Tawaeli (Payapi), Susu, Balinggi, Dolago, Petimpe, Raranggonau dan Parigi.

Selain itu ada pula di antara kelompok-kelompok mereka yang digolongkan orang luar sebagai masyarakat "terasing", karena jarang sekali berhubungan dengan dunia luar. Sementara itu di kalangan berbagai sub-suku bangsa tersebut terjadi lagi penggolongan menurut wilayah pemukiman dan hubungan kekerabatan.

Bahasa Suku Kaili

Bahasa Kaili termasuk golongan "bahasa tak" atau bahasa ingkar. Bahasa Kaili terbagi pula ke dalam beberapa dialek, di samping adanya bahasa-bahasa sub-suku bangsa tertentu yang dianggap asing bagi sub-suku bangsa yang lain. Dialek-dialek itu antara lain dialek Kaili, dialek Tomini, dialek Dampelas, dialek Balaesang, dialek Pipikoro, Bolano, Patapa, dan lain-lain.

Sumber : https://suku-dunia.blogspot.com/2014/09/sejarah-suku-kaili.html

Setelah kita mengenal Suku Kaili dan peradabannya, selanjutkan kita bahasa mengenai Pangisani pada masyarakat Suku Kaili.

Pangisani juga sangat erat hubungannya dengan Kepercayaan atau Keyakinan. Indonesia memiliki keragaman budaya yang termasuk di dalamnya adalah aliran kepercayaan. Hal ini berbeda dengan agama yang telah resmi diakui. Untuk mengenalnya lebih lanjut, simak macam-macam kepercayaan di Indonesia yang masih diikuti hingga kini.

1. Kejawen (Jawa)

Kejawen merupakan aliran kepercayaan yang berasal dari suku Jawa. Kepercayaan ini memiliki konsep bahwa penganut tetap percaya dan teguh pada leluhur agar berkah bagi diri sendiri dan keluarga lainnya. Namun, masyarakat tetap menganut agama yang diyakini.

2. Sunda Wiwitan

Sunda Wiwitan, salah satu aliran kepercayaan di Indonesia yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Aliran kepercayaan ini dapat ditemui pada daerah Kanekes, Banten; Kampung Naga, Cirebon, dan Cigugur, Kuningan.

Konsep dari Sunda Wiwitan adalah pemujaan terhadap roh nenek moyang yang disakralkan. Selain itu, kepercayaan ini juga memiliki satu Tuhan yang disebut juga dengan Sang Hyang Kersa. Tradisi dalam kepercayaan ini juga dipengaruhi oleh unsur Hindu dan Islam.

3. Kaharingan

Kaharingan merupakan kepercayaan yang mulanya berkembang dari Kalimantan. Penganut kepercayaan ini sebagian besar berasal dari suku dayak yang telah ada sejak zaman dahulu.

Kaharingan diketahui memiliki kepercayaan terhadap adanya entitas yang sering disebut dengan Ranying. Sebutan tersebut sering disamakan dengan Tuhan. Secara tradisi, kepercayaan Kaharingan masih orisinil dan tidak dapat disamakan dengan agama lainnya.

4. Malim

Malim adalah kepercayaan di Indonesia yang juga menjadi agama asli dari tanah Batak. Pengikut kepercayaan ini dinamai dengan Parugamo Malim, atau bisa disingkat Parmalim.

Malim pada dasarnya memiliki kepercayaan bahwa Danau Toba dan Pulau Samosir adalah tempat yang suci. Selain itu, merkea juga memiliki Tuhan bernama Debata Mulajadi Na Bolon, atau yang Maha Awal dan Maha Besar.


Lalu apa hubungannya Pangisani dengan Keparcayaan ?

Pangisani sangat erat hubungannya dengan Kepercayaan atau Keyakinan. Pangisani dapat diartikan sebagai Pengetahuan (Bahasa Indonesia). Namun, pengertian Pangisani dalam pemahaman Suku Kaili adalah merupakan Ilmu yang luar biasa yang dimiliki oleh seseorang yang memiliki kemampuan lebih dari kelebihan yang dimiliki orang lain.

Pangisani dapat digolongkan sebagai Ilmu Kanuragan. Ilmu kanuragan lekat dengan kehidupan masyakakat di tanah Kaili, yang pada masa itu sangat terkenal di zaman Tomalanggai dan Tomanuru. Pada zaman dahulu ilmu-ilmu ini banyak digunakan untuk membela diri. Dalam budaya Kaili, ilmu kanuragan melibatkan pengembangan kekuatan batin dan fisik untuk mencapai tingkat keterampilan yang luar biasa. Ilmu kanuragan diwariskan melalui lisan dan praktik spiritual. Ilmu ini sering kali dikaitkan dengan energi gaib dan mantra-mantra (gane-gane) kuno. Tentunya penerapan Pangisani (gol. Ilmu Kanuragan) sangat erat kaitannya dengan kepercayaan atau keyakinan. 

Secara tradisional ada beberapa ilmu kanuragan yang terkenal di tanah Kaili pada zaman dahulu yang terkenal ampuh.

1. Pangisani Mpelali.

Cara kerja Pangisani Mpelali adalah menyerap atau mematikan kesaktian lawan yang ingin menyerang atau berniat buruk. Sehingga langsung membuat lawan lumpuh dan roboh.

2. Pangisani Nakaba.

Pangisani Nakaba  bukanlah ilmu untuk menyerang lawan akan tetapi untuk menginginkan kehidupan yang kekal. Orang yang memiliki ilmu ini diyakini tidak mudah dikalahkan. Luka dapat pulih seketika, anggota badan yang terputus dapat menyatu sehingga mereka sulit untuk mati. Pangisani Nakaba adalah ilmu yang dapat memulihkan daya tahan tubuh. Siapa saja yang mengamalkan ilmu kanuragan ini maka akan memiliki kekebalan tingkat tinggi. Misalnya, tergores pisau sampai terbacok atau hingga diledakkan pun tidak akan membuat dirinya meninggal. Karena itu tingkat Pangisani Nakaba ini dinilai hampir sangat sempurna. Konon cerita ajian ini berasal dari jin dan makhluk jahat lainnya. Oleh sebab itu Pangisani Nakaba ini digolongkan sebagai ilmu hitam,

3. Pangisani Nosigavu

Pangisani Nosigavu, adalah ilmu yang mampu melenyapkan diri sehingga tidak terlihat oleh orang lain. Pangisani Nosigavu adalah jenis ilmu halimunan (Jawa), sering digunakan untuk menyerang lawan, menghindar dari kejaran lawan.

4. Pangisani Ntarabuka

Pangisani Ntarabuka adalah jenis ilmu yang sangat luar biasa. Ajian ini bila disalurkan lewat suara maka bentakkannya akan membuat tuli yang mendengarkan. Ketika ajian ini digunakan di tengah riuhnya peperangan, musuh langsung melarikan diri dan menyerah. Sedangkan jika disalurkan lewat telapak tangan, maka efeknya terasa seperti pukulan yang panas layaknya bara api.

5.  Pangisani Sando Ntamosanga

Pangisani Sando Ntamosanga adalah ilmu kanuragan yang sangat luar biasa, karena ilmu ini dipercaya mampu membunuh jin. Oleh karena itu, bagi seseorang yang mempunyai ajian ini sangat ditakuti oleh bangsa makhluk halus. Konon ilmu kanuragan ini banyak dipelajari oleh para pendekar untuk kedamaian. Sebab pada zaman dahulu banyak para pendekar yang menggunakan ilmu hitam untuk membuat kerusuhan. Selain itu ajian Pangisani Sando Ntamosanga ini bisa digunakan untuk mengobati orang yang terkena pengaruh ilmu gaib, seperti guna-guna, sihir, santet dan yang lainnya.

6. Pangisani Mpombali.

Pangisani Mbombali dikenal sebagai ilmu olah spiritual tingkat tinggi, yang bisa dimiliki kali-laki maupun perempuan, bahkan anak-anak. Namun tidak sedikit masyarakat yang mempunyai pemahaman bahwa ilmu Mpombali  merupakan golongan ilmu aliran kiri dan memiliki konotasi buruk. Penampakan mahluk jadi-jadian (mboa, kalomba dll) diyakini dalam berbagai bentuk menyerupai semua benda ataupun hewan, termasuk seperti nyala api yang berjalan mengambang pada malam hari. Namun uniknya meskipun ilmu yang di gunakan leluhur itu masih ada sampai sekarang, tapi para Pengguna yang mempunyai ilmu ini lebih memilih merahasiakan pada orang lain bahkan anak istri atau suaminya.

7. Pangisani Nggaraka

Ilmu ini merupakan salah satu ajian ilmu kanuragan yang biasa digunakan orang zaman dulu untuk melawan musuh saat berperang. Ilmu ini juga dipercaya sebagai ilmu tingkat tinggi dalam ilmu kanuragan. Konon, orang yang memiliki ilmu kanuragan ini mampu melayangkan pukulan yang sangat dahsyat. Bahkan saking luar biasanya, ajian ini bisa menghancurkan besi atau baja. Oleh karena itu orang yang memiliki ajaran Pangisani Nggaraka harus seseorang memiliki tingkat kesabaran yang tinggi dan mampu mengontrol emosi jiwa.

8. Pangisani Ntamalove.

Ajian ini adalah ilmu kanuragan yang sering digunakan oleh para Tomalanggai atau para wali pada masa lalu. Adapun tujuannya adalah untuk menyebarkan agama /kepercayaan, agar mudah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Ilmu ini diyakini mampu meringankan tubuh seseorang yang mengamalkannya, hingga berlari dengan sangat cepat seperti angin bahkan di atas air sekalipun. Menurut para praktisi spiritual ilmu kanuragan ini masih ada sampai saat ini. Hanya saja syarat untuk mendapatkan Pangisani Ntamalove sangatlah sulit.

9. Pangisani Doti.

Pangisani Doti (Nedoti) bukanlah ilmu untuk menyerang lawan di medan pertempuran, akan tetapi untuk menginginkan mengakhiri kehidupan lawan atau orang lain dengan kekuatan mantra-mantra (gane-gane). Ilmu Doti adalah Ilmu Balas Dendam. Orang yang memiliki ilmu ini diyakini tidak mudah dikalahkan, sehingga mereka sulit untuk mati. Pangisani Doti adalah ilmu yang dapat melemahkan dan menghancurkan daya tahan tubuh. Siapa saja yang mengamalkan ilmu ini maka akan memiliki pantangan tingkat tinggi. Ilmu Doti banyak macamnya, ada hanya membuat orang lain menderita berkepanjangan dengan penyakit yang dirasakannya. Apa pula membuat orang lain menderita tiada ampun hingga mengakibatkan kematian. Ilmu Doti termasuk Ilmu Hitam dan masuk golongan Ilmu Sihir.

10. Pangisani Tamasi.

Pangisani Tamasi adalah ilmu yang sering digunakan untuk menangkal atau mencegah suatu tindakan atau perbuatan orang lain atas dirinya. Sejahat apapun orang dan sekejam apapun dirinya, bila bertemu dengan orang yang memiliki ilmu Tamasi, pasti kemarahannya akan sirna, berubah menjadi perasaan kasihan yang tak terhingga bila menjumpai seseorang yang punya ilmu Tamasi. Ilmu Tamasi biasanya diterima seseorang dari orang lain melalui proses ijab kabul (serah terima) dari seorang yang disebut Guru. 

11. Dan masih banyak lainnya.  Ilmu ini termasuk ilmu Sihir ? Wallahu A’lam bish Shawaab.


          Pada zaman Tobaraka di kalangan suku Kaili, Pangisani lebih ditafsirkan sebagai ilmu spiritual yang dipelajari untuk melindungi diri dan biasanya dipelajari melalui Tarekat yaitu di bawah bimbingan guru, sambil mengamalkan sejumlah tindakan tertentu.

Sejarah tarekat di Indonesia dimulai bersamaan dengan masuknya ajaran agama Islam ke bumi Nusantara. Kala itu, sebagian besar ulama yang datang ke Nusantara diyakini telah mengajarkan agama Islam dengan kapasitas mereka sebagai guru-guru sufi. Adapun tarekat diketahui kali pertama berkembang di Indonesia sekitar pada abad ke-16 Masehi.

Ada sekitar 45 tarekat yang berkembang di dunia. Sebagian besar tarekat masih ada hingga kini, tetapi ada juga beberapa yang telah punah. Adapun di Indonesia, tarekat dikelompokkan menjadi dua, yakni thariqah mu'tabarah (tarekat yang sah karena sanad muttashil atau memiliki silsilah yang terhubung hingga kepada Nabi Muhammad) dan thariqah ghairu mu'tabarah (tidak sah karena silsilahnya terputus).

Aliran-aliran tarekat yang berkembang di bumi Nusantara kala itu meliputi Tarekat Qadiriyyah, Tarekat Syatariyyah, Tarekat Naqsabandiyyah, Tarekat Khalwatiyah, Tarekat Samaniyah, hingga Tarekat Alawiyah.

Lahirnya tarekat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah, dua tarekat yang disatukan oleh Syaikh Ahmad Khatib As-Sambasy dari berbagai pengaruh budaya yang mencoba memasuki relung hati bangsa Indonesia, kiranya Islam sebagai agama wahyu berhasil memberikan bentukan jati diri yang mendasar. Islam berhasil tetap eksis di tengah keberadaan dan dapat dijadikan symbol kesatuan. Berbagai agama lainnya hanya mendapatkan tempat disebagian kecil rakyat Indonesia. Keberadaan Islam di hati rakyat Indonesia dihantarkan dengan penuh kelembutan oleh para sufi melalui kelembagaan tarekatnya, yang diterima oleh rakyat sebagai ajaran baru yang sejalan dengan tuntutan nuraninya.


Bersambung  ......


Jumat, 28 Maret 2025

Susu-Suku di Sulawesi Tengah

Suku Kaili. Suku Kaili adalah suku yang mayoritas mendiami wilayah Sulawesi Tengah.

Suku Mori. Suku Mori adalah kelompok masyarakat asli yang mendiami kawasan di Kabupaten Poso, tepatnya di tiga kecamatan di Poso. Tiga kecamatan itu adalah Kecamatan Mori Atas, Petasio, dan Kecamatan Lembo. Petasio berada di pesisir, sedangkan dua kecamatan lainnya di pedalaman.

Permukiman orang-orang Suku Mori berkelompok, tetapi sebagian lagi ada yang terpencar karena tuntutan pola pekerjaan. Mayoritas masyarakat suku ini bekerja sebagai petani damar, padi, dan rotan. Ada juga orang Suku Mori yang menjadi pedagang dan nelayan.

Suku Napu juga merupakan penduduk asli Sulawesi Utara yang bermukim di kawasan Kabupaten Poso. Letak permukiman mereka ada di Kecamatan Lore Utara dan Poso Pesisir, tersebar dalam sembilan desa, di antaranya Mahalo, Tamadoe, Tatatu, dan lain sebagainya. Mereka memiliki bahasa sendiri yang dikenal dengan bahasa Napu. Kebudayaan orang-orang Suku Napu memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan Suku Lore.

Suku Balaesang. Disadur dari buku Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (2015) oleh Zulyani Hidayah, masuarakat suku ini dikenal sebagai suku yang mempunyai kearifan lokal berupa menyatu dengan alam. Contoh kearifan yang masih dipertahankan adalah larangan untuk menggunakan perahu mesin di danau Rano lantaran khawatir akan mengakibatkan air danau menjadi tercemar.

Suku Balaesang Disadur dari buku Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (2015) oleh Zulyani Hidayah, masyarakat suku ini dikenal sebagai suku yang mempunyai kearifan lokal berupa menyatu dengan alam. Contoh kearifan yang masih dipertahankan adalah larangan untuk menggunakan perahu mesin di danau Rano lantaran khawatir akan mengakibatkan air danau menjadi tercemar.

 

Orang Kadambuku digolongkan ke dalam kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami daerah sekitar Danau Poso di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Orang Lamusa digolongkan oleh ahli etnografi ke dalam salah satu bagian dari kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami daerah sekitar Danau Poso, dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Lembo digolongkan sebagai salah satu sub sku dari kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami beberapa tempat di daerah sekitar hulu Sungai Kalaena, dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Orang Longkea digolongkan oleh ahli etnografi klasik ke dalam salah satu bagian dari kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami daerah sekitar Danau Poso dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Pakambia digolongkan sebagai salah satu sub suku dari suku bangsa Pamona. Mereka mendiami daerah lembah Sungai Laa bagian hulu, yaitu di sebelah timur Danau Poso, yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Mian Banggai adalah salah satu sub suku dari suku bangsa Banggai. Mereka mendiami Pulau Banggai yang termasuk wilayah Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka memakai dialek Mian Banggai.

Orang Mian Sea-Sea juga tergolongan dalam sub suku bangsa Banggai. Ciri-ciri fisik mendekati ras Vedoid atau Australoid. Mereka mendiami Pulau Peleng yang berada dalam Kepulauan Banggai, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Palende digolongkan sebagai salah satu sub suku dari suku bangsa Pamona. Mereka berdiam di daerah sekitar lembah Sungai Laa bagian hulu, yaitu di sebelah timur Danau Poso, dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Ra'u tergolong sebagai salah satu sub suku dari suku bangsa Pamona yang berdiam di sekitar Teluk Tomini dan leher jazirah Sulawesi Tengah, di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

 

 

 

Suku-suku Lain di Sulawesi Tengah

Kulawi

Bada

Bajau

Balantak

Banggai

Bungku

Buol

Dampelas

Dondo

Muna

Tomia

 

Minggu, 02 Februari 2025

Tesa nu DANAU LINDU

 


          Dikisahkan bahwa suatu hari kapal yang membawa Sawerigading sepulang dari perjalanan ke tanah China untuk mengawini tunangannya We Cudai berkunjung ke laut kaili. Saat itu di tanah kaili terdapat beberapa kerajaan lokal yang berdaulat mulai dari Banawa, Bangga hingga Sigi. Setelah berkunjung ke Ganti, ibu kota kerajaan Banawa, Sawerigading berlayar ke arah selatan menuju pantai negeri sigi-pulu, dalam wilayah kerajaan sigi. Perahu Sawerigading berlabuh dipantai Uwe mebere, yang sekarang ini bernama Ranoromba. Kerajaan sigi dipimpin oleh seorang raja wanita bernama Ngginayo atau Ngilinayo yang berparas cantik dan namun belum menikah. Sawerigading terpikat oleh kecantikannya dan langsung mengajukan pinangannya untuk menjadikannya permaisuri, untuk memenuhi permintaanya Ngginayo mensyaratkan agar ayam aduan sawerigading yang bernama Baka Cimpolong terlebih dahulu mengalahkan ayam aduan raja sigi yang bernama Calabai, syarat itu disetujui Sawerigading , sehingga disepakatilah suatu waktu untuk menggelar upacara adu ayam sekembali dari kunjungan sawerigading kepantai barat, sambil di persiapkan arena (wala-wala) adu ayam.

Dipantai barat perahu Sawerigading berlabuh dipantai kerajaan Bangga, yang dipimpin oleh raja Wambulangi seorang perempuan yang bergelar Magau Bangga.dengan magau Bangga Sawerigading mengikat perjanjian persahabatan.

Setelah kunjungan ke bangga Saweri Gading kembali ke Sigi. Dalam perjalanan itu Sawerigading singgah di sebuah pulau kecil Bugintanga (pulau tengah), untuk menambatkan perahunya ia menancapkan sebatang tonggak panjang (Tokong –bgs-) ketika meninggalkan pulau itu Sawerigading tidak mencabut Tonggak itu, sehingga bertumbuhlah dan sampai kini dipercaya oleh penduduk sebagai kebangga atau bululanga yang terletak di kampung kaleke.

Di Sigi persiapan pertarungan sudah diselesaikan, sebuah gelanggang (wala-wala) sudah di sediakan bagi baka cipolong dan calabai, para penduduk juga sudah mendengarkan dan bersiap untuk menyaksikan pertarungan yang akan digelar kesekan paginya, namun diluardugaan, satu malam sebelum upacara dimulai, tersiar kabar, yang mengharuskan pertarungan itu dibatalkan.

Anjing Sawerigading yang digelar La Bolong (si Hitam -bgs-) diam-diam turun dari perahu, untuk berjalan-jalan di dataran Sigi. Tanpa di sadarinya ia berjalan terlalu jauh ke selatan hingga kemudian terperangkap kedalam sebuah lubang yang besar tempat kediaman se ekor Lindu (belut) yang sangat besar. Karena merasa terganggu dengan kedatangan anjing La Bolong yang tiba-tiba itu maka si Lindu menjadi marah dan menyerang La Bolong sehingga terjadilah pertarungan yang amat sengit antara keduanya. Sedemikian dahsyatnya pertarungan itu sehingga seolah-olah menimbulkan gempa yang menggetarkan bumi, penduduk pun menjadi panik dan ketakutan dibuatnya. Pada satu kesempatan La Bolong berhasil menyergap Lindu itu dengan taring-taringnya, kemudian dengan cengkeraman mulutnya ia menyentakan dan menarik sang Lindu hingga tercabut dari lubangnya. Sejenak kemudian La Bolong menyeret dan melarikan belut yang meronta-ronta itu ke arah utara.

Sementara itu, lubang tempat tinggal Lindu yang telah menjadi kosong dengan cepat terisi air, Sehingga lama kelamaan menjadi penuh dan meluap-luap, menggenangi daerah sekitarnya sampai akhirnya membentuk sebuah danau yang saat ini dikenal sebagai danau Lindu.

Demikian riwayat danau Lindu yang dikutip dari legenda Sawerigading, sebagaimana penuturan Matulada dalam bukunya sejarah dan kebudayaan To Kaili. Dibandingkan dengan penuturan Paulus Tampilangi, salah seorang tokoh Lindu pada tahun 2001, mitos pembentukan danau Lindu sedikit berbeda, meskipun alur ceritanya memiliki beberapa kemiripan sbb,

Di kisahkan, pada jaman dahulu kala dataran disekitar Lindu belum menjadi tempat tinggal manusia karena pada umumnya masyarakat pada saat itu memilih untuk tinggal di lereng-lereng gunung, maupun punggung-punggung bukit dalam kelompok-kelompok kecil yang terpencar-pencar, di Lantawongu, Katapia, Watureo, Sindimalei Lindu Tongoa dan Sandipo.

Beberapa jarak dibawah kaki gunung mapun bukit-bukit itu terdapat dataran, yang digenangi air sehingga membentuklah suatu rawa yang sangat luas. Di rawa itu hidup seekor Lindu atau belut yang sangat besar ukurannya. Selain besar Lindu, dikisahkan bahwa Lindu itu sangat buas. Ia menyerang dan memangsa hewan apa saja bahkan manusia yang dijumpainya disekitar rawa. Itulah sebab tidak seorangpun yang masyarakat pada saat itu yang berani datang apalagi bermukim tepian rawa.

Lindu itu hidup bak raja di daerah rawa yang maha luas itu, tidak henti-hentinya ia memangsai hewan-hewan hutan yang datang untuk minum dipinggiran rawa, tidak jarang manusia yang tersesat kedaerah rawapun dijadikannya santapannya, sehingga lama kelamaan jumlah anggota masyarakat yang menjadi mangsa Lindu menjadi banyak dan terus menerus bertambah banyak, sehingga mengakibatkan keresahan di kalangan masyarakat Lindu.

Keresahan yang menumpuk mulai menimbulkan ketakutan yang menghantui seluruh masyarakat pada saat itu. Keadaan ini mendorong totua maradika, ngata dan todea berkumpulah di suatu tempat untuk menyelenggarakan musyawarah (Mo Libu), dalam musyawarah itu para tokoh merundingkan cara untuk membunuh Lindu yang jahat itu.

Dikisahkan bahwa jalannya musyawarah berlangsung alot, silang pandapat terjadi antara para tokoh yang menghendaki agar setiap pemukiman mengirimkan sepuluh orang terkuatnya untuk membunuh lindu itu dengan para Tokoh yang mengusulkan untuk meminta bantuan ke keluarga mereka di Kerajaan Sigi, dengan pertimbangan hamparan rawa sangat luas bagi mereka, sehingga akan sulit untuk mengetahui dimana tepatnya lindu berada. Apalagi Lindu selalu berpindah dari satu tempat ketempat dalam mencari mangsanya, sehingga usul untuk meminta bantuan kesigilah yang diterima. Para pemuka bahwa percaya bantuan dari Kerajaan Sigi akan cepat menyelesaikan masalah.

Kerajaan Sigi pada waktu itu dipimpin oleh seorang raja perempuan yang bernama Bunga Manila , seorang raja yang terkeanl arif dan bijaksana, konon kabarnya ratu Bunga manila merupakan penjelmaan daun “tovavako”. Para pemuka di Lindu mengira saat itu Bunga Manila memiliki anjing pemburu yang terkenal berani, tangkas, kuat dan ganas yang bernama Liliwana atau penjelajah rimba. Menyusul keputusan itu, diberangkatkanlah beberapa orang menyampaikan ke kerajaan Sigi.

Di kerajaan Sigi, Ratu Bunga Manila, merasa sedih dan terharu begitu mengetahui kemalangan yang menimpa suadara-saudaranya di Lindu. Terlebih lagi ketika ia mengetahui maksud kedatangan keluarganya dari Lindu untuk memintai bantuannya mengirimkan Liliwana untuk menumpas sang Lindu, sementara ia tidak pernah memiliki anjing pemburu seperti dimaksudkan masyarakat Lindu itu.

Akan tetapi untung sekali, beberapa orang disekitar istana Bunga Manila yang turut mendengarkan percakapan itu mengaku pernah mendengar dan mengetahui perihal anjing perkasa yang bernama Liliwana itu. Disampaikannya Liliwana adalah anjing milik seorang raja di dari kerajaan Luwu di Sulawesi bagian Selatan. Mendengarkan hal ini Ratu Bunga Manila segera mengirimkan utusan ke kerajaan Luwu hal ini dilakukannya demi membantu saudara-saudaranya di Lindu.

Pada saat itu antara kerajaan sigi dengan kerajaan Luwu berikut kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi selatan telah terjalin hubungan yang baik. Hubungan itu antara lain terjalin melalui kerjasama di bidang perdagangan. Sebelum memberangkatkan utusannya Raja Sigi terlebih dahulu menyampaikan bahwa di selatan terdapat enam buah kerajaan, yang di ilustrasikan dengan ; “Payung ri Wulu, Somba ri Gua, Mangkau ri Bone, Datu ri Sopeng, Ade ri Sidrap dan Aung ri Wajo”.

Penyampaian ini dilakukan Raja Sigi agar supaya para utusan nantinya dapat menyampaikan pesan dengan baik-baik, santun dan berhati-hati, karena mereka akan berhadapan dengan raja-raja yang arif. Setelah memperoleh wejangan, berangkatlah utusan Raja Sigi yang terdiri dari tujuh orang. Dalam perjalanannya ke tujuh utusan pertama-tama menuju ke kerajaan Luwu. Di kerajaan ini para Utusan diterima dengan baik sekali, oleh Payung ri Wulu, mereka dijamu dengan baik mengingat hubungan yang baik antara kerajaan Sigi dan Luwu. Setelah melewati perjamuan di lingkungan istana, Payung ri Luwu memanggil utusan dari Raja Sigi itu untuk membicarakan maksud kedatangan mereka, ia menayakan berita apa yang hendak disampaikan oleh Raja Sigi kepadanya. Salah seorang utusan kemudian menceritakan apa yang terjadi dengan saudara mereka di Lindu sekaligus menyatakan maksud raja Sigi untuk meminjam Liliwana, anjaing pemburu yang kabarnya merupakan peliharaan Raja Luwu.

Raja Luwu membenarkan berita itu, ia juga bersedia meminjamkan Liliwana kepada Raja Sigi, demi persahabatan yang sudah terjalin, sembari berpesan agar anjing pemburu itu diperlakukan sebaik-baiknya, seperti halnya memperlakukan anak sendiri.

Singkat cerita, utusan Raja Sigi segera pulang. Karena keadaan yang sangat mendesak lama waktu perjalanan dari Luwu ke Sigi yang biasa ditempuh selama tujuh hari dapat di lalui dalam satu hari. Setibanya di Sigi, Liliwana diistirahatkan dua hari, setelah itu barulah si anjing pemburu yang perkasa meneruskan perjalanan ke dataran Lindu. Tiba di Lindu, anjing pemburu yang gagah berani ini tidak menyia-nyiakan waktu, dengan indera penciumannya yang tajam, ia segera melacak keberadaan si Lindu. Dalam waktu yang singkat Liliwana segera menemukan buruannya, sejenak kemudian terjadilah pertarungan yang seru antara Liliwana dan Lindu. Dalam perkelahian yang sengit itu kedua hewan saling menyerang, menggigit dan bergumul. Suatu waktu Liliwana terlilit dan berada di bawah, tetapi disaat yang lain, Lindu yang berada di bawah. Demikianlah terjadi berulang kali dalam waktu yang lama.

Pertarungan antara Lindu dan Liliwana disaksikan oleh masyarakat yang dari tujuh pemukiman yang berada di perbukitan dan pegunungan disekeliling rawa. Mereka menyaksikan pertarungan itu dengan perasaan was-was dan khawatir, tidak sedikit yang meneteskan air mata karena tegangnya, mereka sangat khawatir kalau-kalau Liliwana tidak dapat mengalahkan si Lindu, karena dapat dibayangkan bagaimana akibatnya bila ternyata sang Lindu keluar sebagai pemenang.

Namun untunglah, pada suatu kesempatan Liliwana berhasil menggigit kepala Lindu itu dengan kuatnya, taring-taringnya yang tajam menghunjam kedalam daging hingga tengkorak Lindu, dan mencengkeramnya dengan kuat. Si Lindu menggelatarkan badannya yang besar, meronta-ronta, sambil memukul-mukulkan badannya mengipasi tumbuhan dan pepohonan yang ada dipermukaan rawa yang berlumpur, namun cengkeraman Liliwana terlalu kuat, sehingga ia tak kuasa meloloskan diri, sehingga lama kelamaan Lindu menjadi lemah dan akhirnya menemui ajalnya. Liliwana keluar sebagai pemenang.

Kemenangan Liliwana disambut dengan penuh suka cita oleh seluruh penduduk lindu mereka bersorak dan bersyukur, sambil mengucapkan terima kasih didalam hati kepada Liliwana, anjing pemburu yang perkasa.

Sejak itu, masyarakat Lindu menguak lembaran baru dalam hidupnya, mereka mulai membuka pemukiman baru di sekitar rawa, diatas tanah-tanah yang landai, diseputar rawa, tanpa ada rasa takut terhadap serangan Lindu. Ditempat ini mereka dapat mencetak sawah dan membuka perkebunan yang luas. Apalagi tanah disekitar rawa merupakan tanah yang subur, karena di bentuk melalui pelapisan humus yang dibawa aliran sungai yang berhulu di gunung-gunung disekelilingnya.

Sementara itu, akibat pertarungan yang maha dahsyat antara Lindu dan Liliwana, permukaan rawa yang luas menjadi terkuak, membentuk sebidang danau yang besar. Orang-orang yang tinggal di sekitarnya menamakannya sebagai Rano Lindu atau Danau Lindu.

Meskipun mengandung beberapa perbedaan, namun pada intinya kedua versi cerita rakyat diatas meyakini bahwa pembentukan danau Lindu, diawali dengan terjadinya pertarungan antara seekor Lindu dengan se ekor anjing pemburu.

Jika dikaitkan secara ilmiah menurut Whitten (1987) yang menghubungkan dengan analisa binatang moluska, menyatakan bahwa Danau Lindu terbentuk pada masa kira-kira antara 5 sampai 1.6 juta tahun yang lalu. Cerita versi kedua lebih mendekati nyata.

Kedua riwayat juga mengkaitkan riwayat pembentukan danau Lindu dengan kerajaan sigi dan bangsawan-bangsawan dari sulawesi selatan, yaitu Sawerigading dari Bone dan Payung Ri Luwu dari kerajaan Luwu, melalui intermediasi raja perempuan Sigi. Keterkaitan itu dijalinkan melalui kepemilikan mereka terhadap anjing pemburu yang perkasa (Liliwana versi Tampilangi atau La Bolong versi Matulada).

Sawerigading adalah tokoh legendaris dalam cerita rakyat tanah kaili. Tokoh ini dihubungkan dengan kedudukan kerajaan Bone, sebagai kerajaan bugis di Sulawesi selatan yang mempunyai hubungan persaudaraan dengan kerajaan-kerajaan di tanah kaili. Dapat diperkirakan bahwa hubungan-hubungan yang akrab antara kerjaan Bone dengan kerajaan-kerajaan di Tana kaili berlangsung pada abad ke-17. adapun tokoh sawerigading di sulawesi selatan tersebut terdapat dalam epos la-galigo, dipandang sebagai peletak dasar dan cikal bakal raja-raja bugis, khusunya dikerajaan Luwu yang terletak di sebelah utara kerajaan Bone. (Matulada, 1976, et al.,)

Menurut Matulada (et al.,) ada beberapa kriteria yang dapat digunakan sebagai alat identifikasi etnologis, untuk suatu kelompok manusia dalam suatu komunitas tertentu untuk membedakannya dari kelompok-kelompok lainnya. Biasanya digunakan beberapa kedaan khusus dari kelompok itu sebagai alat identifikasi yang dimaksud seperti ; dialek, ciri kebudayaan, nama tempat, keadaan alam tertentu dan sebagainya, keadaan itulah yang kemudian menjadi identitas atau sebutannya.

Matulada (et al.,) juga mencontohkan bentuk pengelompokan yang dimaksud, misalnya berdasarkan bahasa, terdapat sebutan orang bugis atau orang jawa, kepada suatu kaum dikarenakan mereka berbahasa bugis maupun bahasa jawa; demikian halnya, berdasarkan dialeknya, sebagaimana Adriani dan Kruijt dalam Matulada (et al.,) mengelompokan dialek-dialek dalam kalangan yang disebutnya Toraja, dengan menggunakan kata sangkal seperti ; tae, rai, ledo, daá dan lain-lain. Selajutnya, berdasarkan ciri kebudayaan yang melekat pada suatu kaum Matulada, mencontohkan penamaan yang terjadi pada “to panambe” , yaitu masyarakat yang bermata pencaharian hidup dengan menggunakan alat penangkap ikan yang disebut “panambe”, sedangkan untuk suatu kelompok atau kaum yang diidentifikasikan menurut nama tempatnya, dicontohkan To Palu, To (ri) palu, ialah orang atau kaum yang bermukim di palu.

Menggunakan pendekatan serupa itu, nampaknya identifikasi atau sebutan bagi Toi Lindu didasarkan pada nama tempat mereka bermukim saat ini, yaitu dataran di sekitar danau Lindu, sehingga masyarakat yang bermukim disekelilingnya di kenal sebagai To Lindu atau orang yang bermukim di dataran Lindu.

To Lindu, merupakan sub kultur atau sub etnik Kaili. Matulada, 1976 mengelompokan beberapa kelompok etnis yang dapat dikategorikan sebagai bagian dari etnis Kaili, yang dalam pernyataan-pernyataan kulturalnya saat itu dapat disebut sesuai dengan nama tempat pemukimannya. Sebagai berikut ; 1) To palu, 2) To Biromaru, 3) To Dolo, 4) To Sigi, 5) To Pakuli, To Bangga, To Baluase, To Sibalaya, To Sidondo, 6) To Lindu, 7) To Banggakoro, 8. To Tamungkulowi dan To Baku, 9) To Kulawi, 10) To Tawaeli, 11) To Susu, To Balinggi, To Dolago, 12) To Petimpe 13) To Raranggonau, 14) To Parigi.

Matulada mengakui bahwa dalam kalangan sub etnik tersebut acapkali terjadi penggolongan yang lebih kecil lagi, dengan ciri-ciri khusus, yang kelihatannya lebih dekat kepada kelompok kekerabatan, yang menunjukan sifat satuan geneologisnya. Kekhususan yang dimaksud dapat pula meliputi ceritera asal usul maupun dialek, yang merupakan pernyataan kulturalnya.

Hal demikian dapat dijumpai pada To Lindu. untuk menegaskan identitasnya, To Lindu memiliki sejumlah cerita rakyat (Folk Tale), mitos, tokoh-tokoh legendaris yang menjadi suatu pengikat solidaritas bagi anggota masyarakat yang terhisap kedalam sub etnis Lindu.

         Bahasa To Lindu digunakan To Lindu berdialek Tado. Dialek ini merupakan salah satu jenis dialek yang tergolong delam rumpun bahasa kaili sebagaimana Unde, Ledo, Tara, Daá dan lain-lain. Penggunaan dialeg ini juga membedakan To Lindu dengan kelompok-kelompok masyarakat lainnya dalam rumpun kaili, termasuk To Kulawi yang berbahasa Uma maupun Moma maupun Ompa. Dibandingkan dengan Pemakaian dialek lain dalam rumpun bahasa kaili, pemakaian dialek Tado kemungkinan merupakan populasi terkecil. Selain To Lindu, komunitas asli Sinduru di Desa Tuva, juga mengklaim diri sebagai pengguna dialek ini, meskipun dengan sedikit varian. Mereka menyebut dialek mereka sebagai dialek “Tado Mbei” , dalam cerita mengenai asal-usulnya, masyarakat Sinduru di Tuva, mengakui bahwa leluhur mereka dulunya berasal dari dataran Lindu, yang bermigrasi ke daerah barat dan membuka pemukiman pertamanya di Oda vatu, suatu tempat yang terletak di sebelah timur desa Tuva kecamatan Gumbasa saat ini.

          To lindu juga memiliki sejumlah cerita rakyat maupun mitos mengenai asal-usul mereka, maupun legeda-legenda mengenai ketokohan leluhur mereka, yang selain menimbulkan kebanggan pada diri mereka sebagai bagian dari To Lindu, juga menjadi pengikat solidaritas. Oleh Paul Cohen (2001, et al.,) menekankan bahwa mitos Mitos ini bukan berarti sesuatu yang salah atau tidak nyata. Sejarah sebagai mitos dimaksudkan sebagai sejarah yang dipakai untuk justifikasi tindakan masa kini.



Sumber : DANAU LINDU

Selasa, 28 Januari 2025

Zaman Prasejarah

 Zaman Prasejarah : Pengertian dan Pembagiannya 


Prasejarah/Prakasara yaitu suatu kurun waktu yang terpanjang dalam sejarah umat manusia. Di mana sejak hadirnya manusia di bumi hingga ditemukannya pengetahuan tentang tulisan atau aksara yang menandai era sejarah.

Penelitian di bidang prasejarah berupaya menjelaskan kehidupan manusia purba melalui peninggalan-peninggalan mereka. Peninggalan tersebut meliputi sisa-sisa tulang belulang manusia maupun benda-benda (artefak) yang dibuat, dipakai, atau dibuang oleh mereka.

Benda alam tersebut seperti batu, tulang hewan (ekofak), cangkang kerang, atau arang sisa pembakaran juga dipelajari. Untuk mengetahui bentuk interaksi antar manusia purba dengan alam sekitarnya.


Pengertian Zaman Pra Sejarah

Zaman pra sejarah adalah zaman dimana belum ada atau belum dikenalnya sebuah tulisan di dalam kehidupan manusia. Dapat dikatakan demikian karena pada zaman tersebut belum ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa tulisan oleh para ahli.


Pembagian Zaman Pra Sejarah

Dalam hal pembagian zaman pra sejarah sendiri diklasifikasikan berdasarkan 2 (dua) aspek, yaitu berdasarkan geologi dan berdasarkan arkeologi. Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi, baik dari strukturnya, fisiknya dan proses pembentukannya. Oleh sebab itu, klasifikasi zaman pra sejarah berdasarkan geologi dapat dibagi menjadi :

Zaman Arkaezoikum atau zaman tertua

Zaman Arkaezoikum, zaman ini berlangsung sekitar 2500 juta tahun yang lalu. Pada zaman Arkaezoikum belum terdapat tanda-tanda kehidupan makhluk hidup. Karena pada zaman tersebut merupakan zaman dimana bumi dalam proses pembentukan.

Zaman Paleozoikum atau zaman primer

Pada zaman arkaezoikum bumi masih dalam proses pembentukan sehingga permukaan bumi masih sangat panas, tidaklah sama dengan zaman paleozoikum. Pada zaman ini, bumi sudah mulai mendingin. Zaman ini sendiri berlangsung pada 340 juta tahun yang lalu.

Sehingga pada zaman Paleozoikum diperkirakan sudah terdapat makhluk hidup bersel satu yang merupakan makhluk yang hidup pertama kali di permukaan bumi.

Zaman Mesozoikum atau zaman sekunder

Zaman Mesozoikum disebut juga zaman dinosaurus, hal ini karena pada zaman Mesozoikum, telah hidup hewan ber-sel banyak di bumi yang berupa dinosaurus. Bumi pada saat itu mulai berangsur-angsur menyatu satu sama lain, sehingga nampak seperti sekarang ini. Pada zaman ini diperkirakan berlangsung pada 140 (seratus empat puluh) juta tahun yang lalu.

Zaman Neozoikum

Zaman neozoikum adalah zaman bumi baru, di zaman ini kehidupan di bumi sudah mengalami kestabilan. Reptil-reptil besar seperti donosaurus sudah mulai berkurang dan terdapat makhluk hidup yang menyusui berupa monyet serta kera. Pada zaman neozoikum mamalia mulai berkembang. Adapun pada zaman neozoikum ini dibagi menjadi dua, yaitu:

Zaman tertier

Pada zaman tertier, reptile besar sudah mulai punah dan sebagai besar dari penggantinya muncul. Kemudian berkembanglah makhluk hidup mamalia seperti kera dan monyet.

Zaman kuarter

Pada zaman kuarter, mulai muncul kehidupan manusia. Zaman ini sendiri terbagi menjadi dua yaitu zaman pleistosen atau diluvium yang terjadi sekitar 600 ribu tahun yang lalu. Pada zaman pleistosen ini terjadi penurunan suhu dengan drastis, sehingga membentuk zaman es atau glasial.

Daratan benua Asia menyatu dengan pulau jawa, bali, serta Kalimantan. Saat es mulai mencair, maka mulailah zaman interglasial dimana pulau sumatera, jawa, Kalimantan mulai terpisah kembali dari benua Asia. Kedua, zaman Holosen atau Aluvium, yang terjadi sekitar 20 ribu tahun yang lalu, pada zaman Holosen ini terlahir jenis manusia berupa homo sapiens, yang bentuknya kurang lebih seperti manusia sekarang.

Sedangkan jika melihat berdasarkan ilmu yang mempelajari tentang kebudayaan manusia di masa lalu yang dikaji melalui penemuan benda-benda pada masa lalu (arkeologi). Menurut arkeologi, zaman pra sejarah tersebut dibagi menjadi 3 zaman, yaitu zaman batu, zaman logam dan zaman besi.


1. Zaman batu

Zaman batu adalah zaman dimana alat-alat dalam menunjang proses kehidupan manusia kebanyakan terbuat dari batu. Walaupun terdapat sebagian dari alat tersebut yang terbuat dari tulang atau kayu. Pada zaman batu sendiri terbagi lagi, yaitu :

Zaman batu tua (Paleolithikum)

Dinamakan zaman batu tua karena pada zaman ini batu yang dipergunakan sebagai alat sehari-hari belum dipoles dengan baik dan rapi, dan tidak diasah. Batu ini sendiri biasanya digunakan untuk berburu, menangkap ikan, memahat tulang, serta bisa digunakan sebagai senjata.

Berdasarkan letak penemuannya, alat-alat tersebut bisa dikategorikan ke dalam kebudayaan Pacitan atau kebudayaan Ngandong. Alat-alat yang dihasilkan tersebut berupa kapak genggam, alat-alat dari tulang binatang, dan flakes (sejenis alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon). Manusia pendukung zaman ini ialah pithecanthropus dan homo.

Zaman batu tengah (mesolitikum)

Alat-alat batu yang ditemukan pada zaman ini telah jauh lebih baik dari pada zaman sebelumnya. Manusia pada zaman ini masih melakukan kebiasaan food gathering (mengumpulkan makanan) dan nomaden (berpindah-pindah).

Ada suatu keunikan pada zaman ini, yaitu ditemukannya banyak bukit kerang atau kyoken moddinger. Alat-alat yang dipakai pada masa ini ialah kapak genggam, kapan pendek, pipisan, dan kapak-kapak yang terbuat dari batu kali. Manusia pendukung zaman ini adalah papua-melanosoid.

Zaman batu muda (neolitikum)

Alat-alat yang terbuat pada zaman batu muda sudah mulai dihaluskan dan diasah dengan rapi. Adapun alat-alat yang digunakan yaitu seperti kapak persegi, kapak bahu, kapak lonjong, dan peralatan-peralatan lainnya. Manusia pendukung pada zaman ini ialah Austronesia (Austria), dan Austro-Asia (Khamer-Indocina).

Zaman batu besar (megalitikum)

Di zaman ini, manusia sudah mulai mengenal serta meningkatkan kebudayaannya ke batu-batu besar. Pada masa ini pula, manusia telah mengenal adanya keprcayaan terhadap roh nenek moyang.

Alat-alat yang ditemukan adalah punden berundak (tempat untuk memuja roh nenek moyang), dolmen (meja untuk meletakkan sesajian), sarkofagus (peti yang berisi mayat dan banyak alat-alat lainnya), menhir, serta kubur batu.

Zaman Prasejarah Pengertian dan Pembagiannya


2. Zaman Logam

Zaman logam ini juga disebut dengan zaman perundagian (karena munculnya golongan undagi yang mahir dalam membuat suatu kerajinan tangan). Pada zaman ini juga manusia sudah mulai membuat alat-alat yang menunjang kehidupan mereka dengan bahan dari logam.

Perlu untuk diketahui, bahwa tidak hanya logam yang ada pada zaman ini, melainkan alat-alat yang terbuat dari batu tetap ada. Bahkan terus bertahan sampai sekarang, tetapi alat-alat dari logamlah yang mendominasi. Di Indonesia sendiri, zaman logam terbagi menjadi 2 fase, yaitu :

Zaman perunggu

Pada zaman ini, manusia telah bisa mencampur bahan tembaga dan timah untuk bisa mendapatkan bahan yang lebih kuat. zaman perunggu identic dengan kebudayaan Dongson-Tonkin dari china. Alat-alat yang terbuat dari perunggu dizaman ini yaitu seperti kapak corong, nekara perunggu, bejana perunggu, dan arca perunggu.

Zaman besi

Di zaman besi ini, manusia terampil untuk membuat alat dari hasil peleburan biji besi untuk bisa mendapatkan alat yang diperlukan. Alat-alat yang terbuat dari besi adalah mata kapak bertungkai kayu, mata pisau, mata sabit, dan cangkul.

Demikian Artikel tentang Zaman Prasejarah : Pengertian dan Pembagiannya (Lengkap). Semoga  dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda. Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 23 Januari 2025

Ethnographical Studies in Celebes: Games and dances in Celebes

Ethnographical Studies in Celebes: Art in central Celebes

Ethnographical Studies In Celebes V. Megalithic finds in Central Celebes

Migrations Of The Toradja In Central Celebes

Senin, 03 Oktober 2022

Sejarah Kerajaan Palu.

 

SEJARAH KERAJAAN PALU

Panjaroro (Pue Bongo) putra dari Mbulava Lemba,  Pangeran dari Bangga. Kawin dengan Yenda Bulava. Yenda Bulava puteri Pue Nggari, Magau Pertama yang di islamkan pertama Datokarama bersama pemberian payung kerajaan dari Sulawesi Selatan.

Hasil perkawinan pebolai dengan adik Magau Dolo (Pue Puti). Pue Puti dibuatkan istana di Tangga Banggo. Di istana inilah Panjororo dilahirkan. Pue Nggari Pangeran dari Besusu yang menerima payung kerajaan dari Sulawesi Selatan. Adapun Payung kerajaan yang ada dilemba Kaili masing masing :

-          Payung Kerajaan Palu berasal dari Gowa yang dibawah Dato Karama diterima Pue Nggari di Besusu. Pada akhir abad ke 19 Payung kerajaan dibawah ketatanga.

-          Payung Kerajaan Dolo berasal dari Bone, dibawah Manuradja diterima oleh Sumba Lemba di Palu, kemudian diteruskan Sumba Bulava di Dolo pada waktu itu berkedudukan di Bodi, Sumba Bulava pangkatnya Magau.

-          Payung kerajaan Sigi berasal dari Luwu di bawah oleh Towiwa, kemudian Towiwa kawin dengan Bakulu, hasil perkawinan dengan Bakulu melahirkan Saera dan Tandalabua, mereka inilah menurunkan raja raja Sigi dan Tawaili. Towiwa ini berpangkat Kapita pada waktu itu pusat kerajaan Sigi berpusat Sigimpu.

-          Pue Nggari mempunyai dua orang isteri antara lain isteri pertama dari Bulu Masomba di bawah keistana Besusu.

-          Isteri Nibolai berasal dari Dolo tinggal di Tangga Banggo.

Di lembah Kaili pada saat itu ada dua persekutuan yaitu Rantempanau yang terdiri kerajaan Palu dibawah Pimpinan Pue Sese, Kerajaan Dolo dibawah Pimpinan Pue Boga dan Rantempandake yang terdiri dari kerajaan Sigi dan Tawaeli pada saat itu dipimpin oleh (Tomai Bakulu).

 Atas perkawinan Pue Nggari dengan Pue Puti Madika Dolo lahir dua orang puteri, yaitu :

 1. Bulava

2. Daesana

Pue Puti semasa kawin dengan Pue Nggari menempati istana Tangga Banggo. Istana ini ditempati juga oleh Yendabulava, Yendabulava dikawini oleh bangsawan dari Bangga yang bernama Mbulawa Lemba. Dan hasil perkawinan Yendabulawa dengan Bulawa Lemba lahir seorang putera bernama Panjaroro  yang dikenal dengan nama (Pue Bongo). Daesana dikawini oleh bangsawan dari Tavaili, Panjoro yang disebut sekarang dengan nama Pue Bongo yang berjasa meluaskan kerajaan palu.

Eksepansi Panjaroro, ke sebelah barat sampai dengan tanah kasolowa yaitu di Sorodu melahirkan seorang  putera bernama Tiro Lemba.

Mbangejo Lemba  kawin dengan Daeng Mangipi Madika (Bulanggo Dolo), hasil perkawinan Mbangejo Lemba dengan Daeng Mangipi lahir seorang anak bernama Yaruntasi. Yaruntasi inilah diangkat sebagai Magau Dolo yang ke 4. Panjororo juga kawin di Labuan dan anak dari labuan kawin dengan Makagera (Pue Lemba) melahirkan Jalalemba,Limuintan (Madika Randalabuan) kemudian kawin lagi di Maboro dan Palu.

          Setelah Panjaroro meluaskan kerajaan Palu kemudian bergerak ke utara sampai ke Buol. Setelah tiba di Buol Panjororo  (Pue Bonggo) tinggal puluhan tahun di Buol. Setelah puluhan tahun di Buol kerajaan Palu diserang dari arah timur dan selatan oleh kerajaan Sigi kecuali ibu kota kerajaan tidak diserang yaitu Besusu dengan diplomasi Sigi dari Magau Mombine.

Setelah rombongan Pue Sese dan Pue Bongo tiba di Palu dibuatlah serangan pembalasan terhadap kerjaan Sigi kemudian Pue Sese dan Pue Bongo mengatur persiapan pasukan untuk serangan balasan. Pasukan yang disiapkan terdiri dari -Pasukan dari Dombu : Gunung Gawalise dibawah pimpinan Bangsawan Pindagi dari Bangga.

Panjororo juga ikut berperang langsung sebagai penanggung jawab. Pue Indate Ngisi dan Pue Mpero sebagai panglima perang.

Pasukan terbagi dua masing masing dibawah pimpinan Pue Mpero dan Pue Ndatengisi, setelah siap semua persiapan serangan balasan serangan dilaksanakan pada waktu sigi mengadakan Salia Madika  (pesta raja).

Pasukan Pue Ndatengisi menyerang dari arah timur, Pasukan Pue Mpera menyerang dari arah barat yaitu dari Dolo. Kecuali ibu kota kerajaan Sigi tidak diserang.

Pasukan dari Palu mengobrak-abrik Pasukan Sigi yang berada d Vatunonju dan Bora. Rakyat dari Watu nonju bernama Lolu di jadikan tawanan perang kemudian di bawah ke Palu. Dan sebagian tinggal di Biromaru, dan rakyat berasal dari Sigi tinggal di Palu kemudian diberikan tempat tinggal yang baru yaitu karena mereka berasal dari Sigi. Setelah Panjororo membawa kemenangan melawan pasukan Sigi maka diadakan beberapa isi perjanjian :

1.       Diadakan upacara Ntiro Uve yaitu upacara sumpah setia mengeluarkan Batu Putih yang diambil dari Sigi pada muara sunggai Palu dengan sumpah setia berbunyi : “Meumbapa VatuPuti hie pade Mahancuru Tanah nu Palu”

2.       Diadakan pemindahan ibukota kerajaan dari Besusu keseberang sungai Palu bagian barat.

3.       Magau kedua yaitu Pue Sese mengadakan Manjingge Toru artinya melepaskan dan menyerahkan Kaogea.

4.       Panjororo akan dikawinkan dengan Puteri dari Siralangi yang bernamaBuse Mbaso, tindakan angka 2, 3, dan 4 disebut diatas dilaksanakan secara damai.

 Setelah Pue Sese menyerahkan jabatan magau kepada Panjaroro yang disebut saat ini Pue Bongo yaitu dengan acara Panjingge Toru, ibu kota kerajaan dipindahkan dari Besusu ke Besusu kota yang sekarang disebut  Kelurahan Baru. Maka terjadilah hal sebagai berikut :

1.       Panjororo yang disebut Pue Ponggo dan keturunannya berhak menduduki tahta Magau Palu dengan Bulanggo.

2.       Labunggulili dan dinastinya menduduki jabatan sebagai madika Malolo Palu.

3.       Keturunan Pue Sese  beserta dinastinya akan menjadi Madika Matua Palu.

4.       Labungguli  dan dinastinya menjadi Baligau Palu.

Hal-hal tersebut diatas hasil perjanjian : sumpah setia agar tidak terjadi perebutan kekusaan di kerajaan Palu. Setelah Panjororo tinggal di Besusu Busi Mbaso dari hasil perkawinannya lahir seorang anak bernama Malasigi.

Malasigi  inilah menggantikan ayahnya sebagai magau kedua untuk kerajaan Palu. Malasigi mempunyai yang diakui oleh kerajaan yaitu seorang berkedudukan di Besusu dan seorang lagi berkedudukan di Panggona (Kel. Lere) saat ini.

Yalibose salah seorang bangsawan yang berpengaruh kuat di Dolo. dan siapa yang berhak menggantikan Yaruntasi, apakah Pue Bengge atau Yanuraja atau Putra dari  Yalibose. dan untuk menyelesaikan masalah ini diadakan musyawarah dikerajaan antara kerajaan Dolo dengan kerajaan Palu dipimpin oleh Madika Matua dari Besusu dan hasil musyawarah yaitu dibuatkan baruga lima di Kaleke baruga 7 di Dolo.

1.       Saudara dari Yanu Raja bernama Satimanuru dikawinkan dengan Jalalolu (Pue langgo).

2.       Saudara dari Pue Bengge bernama Pue mbaso dikawinkan dengan Lasambili.

3.       Para Bangsawan masing-masing menerima upeti yang sama

4.       Anak dari Pue Mbaso dan Lasambili setelah besar akan berkedudukan di kerajaan Dolo.

Isteri dari Besusu lahir seorang anak laki-laki yang diberi nama Raja Dewa. Isteri dari Panggona ini keturunan dari Silalangi kemudian lahir seorang anak lakilaki bernama Lamakaraka (Tondate Dayo).

.


Sumber : https://www.scribd.com/document/411384589/Sejarah-Tadulako-Tanah-Kaili

۞ SEKRETARIAT SEMENTARA DEWAN ADAT KAB. SIGI ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞