SILATURRAHMI SRI MANGKU ALAM II

Kunjungan Silaturrahmi Sri Mangku Alam II di Pombewe

RAPAT DEWAN ADAT

Selesai Pelaksanaan Rapat di Rumah Ketua Dewan Adat Kab. Sigi, di Kaleke.

KUNJUNGAN RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol dengan Dewan Adat Kab. Sigi.

SILATURRAHMI DI RUMAH BUPATI SIGI

Kunjungan Silaturrahmi Pengurus Dewan Adat Kab. Sigi di Rumah Bupati Sigi ...

LIBU POTANGARA

Salah Satu Tugas Dewan Adat Kabupaten adalah menyelesaikan perkara yang tidak terselesaikan ditingkat bawah ....

SILATURRAHMI RAJA BUOL

Kunjungan Silaturrahmi Raja Buol di Kantor Bupati Sigi

FESTIFAL DANAU LINDU

Pelaksanaan Libu Mbaso Dewan Adat Kabupaten Sigi bersamaan Festifal Danau Lindu.

PENGURUS INTI DEWAN ADAT KAB. SIGI

Foto Bersama, Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, Wakil Sekretaris, Bendahara, dan Wakil Wandahara.

PELANTIKAN MAJELIS ADAT KECAMATAN

Pelantikan Pengurus Majelis Adat Kecamatan oleh Ketua Dewan Adat Kab. Sigi ...

LIBU POSAMPESUVU MAROSO

Mediasi Perselisihan Warga Desa Rarampadende dan Desa Pesaku ....

Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Mei 2025

Cara Melestarikan Kearifan Lokal di Era Modern

 


"Budaya bercerita sangat baik untuk menyampaikan nilai-nilai luhur pada generasi berikutnya." -Donna Widjadjanto. Menurut saya kearifan lokal adalah salah satu budaya atau kebiasaan dan juga ciri khas suatu masyarakat. Kearifan lokal ini ciri -- cirinya adalah turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya. 

Kearifan lokal lahir dari pemikiran masyarakat terhadap lingkungannya maka dari itu kearifan lokal setiap tempat berbeda -- beda. Contoh kearifan lokal yang berdasarkan kehidupan sehari -- hari saya  adalah saya berasal dari keluarga keturunan Tionghoa jadi setiap salah satu member keluarga berulang tahun kita harus memakan mie dan juga telur merah, karena mie melambangkan hidup yang panjang dan telur merah melambangkan kebahagiaan karena menurut etnis cina warna merah melambangkan kebahagiaan dan juga suasana yang meriah. 

Kearifan lokal ini sudah saya lakukan sejak dulu dan di ajarkan dari kakek dan nenek saya. Intinya kearifan lokal adalah ciri khas dan nilai budaya dalam masyarakat lokal yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Pentingnya kearifan lokal bagi masyarakat dan bangsa. Kearifan lokal sangat melekat dengan suatu masyarakat. Kearifan lokal juga adalah salah satu identitas suatu masyarakat, maka dari itu kita harus terus melestarikan kearifan lokal dan tidak boleh melupakannya. Di dalam kearifan lokal terdapat norma -- norma, nilai -- nilai dan juga kepercayaan masyarakat setempat maka dari itu kita harus menjaganya. Kita harus mempertahankan kearifan lokal karena itulah yang mengikat kita dalam kebersamaan dan merepresentasikan siapa diri kita. 

Kearifan lokal juga dapat menjaga dan melestarikan Sumber Daya Alam (SDA), berfungsi dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), dan juga berfungsi untuk pengembangan kebudayaan. Indonesia memiliki begitu banyak kebudayaan yang berbeda -- beda, ras yang berbeda, warna kulit yang berbeda, dan juga agama yang berbeda -- beda. Karena itu kita mempunyai Bhineka Tunggal Ika yaitu berbeda -- beda namun tetap satu. Dengan adanya kearifan lokal yang berbeda -- beda kita bisa belajar mengenai budaya di tempat itu.

Arti penting kearifan lokal bagi masyarakat dan bangsa adalah membuat generasi mengenal kebudayaan mereka, seiring berjalannya waktu pasti kearifan lokal ini akan di lupakan dan akan hilang maka dari itu generasi -- generasi berikutnya tidak bisa mengenal kebudayaan mereka karena itu kita harus tetap melestarikan kearifan lokal yang kita miliki. Dengan demikian orang -- orang juga akan lebih peduli dengan budaya tersebut.

Yang kedua kearifan lokal dapat membentuk karakter bangsa jika kearifan lokal ini positif maka orang -- orang yang berpartisipasi juga akan di bentuk menjadi karakter yang positif contohnya kearifan lokal bisa mengajarkan kehati -- hatian, toleransi, patriotism, dan berperilaku dengan baik. Contohnya adalah kearifan lokal dari Lombok Barat dan Bali yang bernama Awig -- Awig. Awig -- Awig adalah aturan yang selalu menjadi pedoman untuk berperilaku dan melakukan suatu tindakan. Terutama yang berkaitan dengan pengolahan sumber daya alam di lingkungan Lombok Barat dan Bali.

 


Yang ketiga arti pentingnya kearifan lokal bagi masyarakat dan bangsa adalah kearifan lokal menciptakan identitas sebuah negara. Kearifan lokal berhubungan dengan budaya seperti bahasa, makanan, tarian, lagu daerah, dan lain -- lain. Hal ini dapat mengajarkan kita dengan budaya -- budaya yang baru dari tempat -- tempat yang baru.

Cara melestarikan budaya lokal adalah dengan yang pertama mengajarkan kearifan lokal di sekolah agar para siswa bisa belajar mengenai kebudayaan -- kebudayaan tersebut. Generasi muda harus bisa mengetahui pentingnya kearifan lokal agar bisa terus melestarikannya sehingga bisa terjadi proses regenerasi dan menjaga kearifan lokal tersebut. 

Yang kedua adalah melakukan kegiatan festival kebudayaan. Seperti setiap tahunnya mengadakan festival mengenai kebudayaan supaya para masyarakat dapat mengetahui dan belajar mengenai kebudayaan tersebut. Yang ketiga adalah dengan menanamkan rasa cinta terhadap tanah air. Dengan itu generasi muda akan tertarik untuk mempelajari dan melestarikan kebudayaan tanah air mereka.

Semakin cepat berjalannya waktu dunia juga semakin berkembang dan seringkali manusia melupakan kebudayaan -- kebudayaannya karena terlalu fokus kepada masa depan. Kearifan lokal akan di anggap tidak penting dan juga tidak berguna. Semakin majunya dunia semakin kita lupa dengan identitas negara kita. Kita seharusnya terus melestarikan kebudayaan -- kebudayaan yang dimiliki negara kita. Kita tidak boleh melupakan identitas negara kita. 


Sumber : DISINI

 

 

 


Minggu, 18 Mei 2025

"Nokeso Toniasa, Harmoni Warisan Jiwa"

 

"Nokeso Toniasa, Harmoni Warisan Jiwa"

Oleh : SADRI Datupamusu

Di tanah leluhur yang disiram cahaya pagi, terdengar lantunan doa yang bersatu dalam hening dipandu oleh Lamposiga. Asap dupa naik perlahan, membelah langit mengiringi langkah-langkah yang tak sekadar jejak, melainkan gema jiwa yang tengah tumbuh menuju dewasa.

Lamposiga ia bukan sekadar pelaku upacara, melainkan sabda adat yang mengurai benang-benang kehidupan. Di balik gerak tangan dan tarian dedaunan, terpatri nasihat para tetua dalam bahasa semesta, tentang tanggung jawab, tentang cinta yang tak bersyarat.

Lalu Lamposuruba datang seperti cahaya fajar, membasuh jiwa dalam sujud dan khusyuk. Ia menuntun hati menapaki jalan lurus, di mana adat dan keimanan saling memeluk, seperti embun dan daun yang tak pernah saling meninggalkan.

Dua kekuatan itu adat dan keimanan berjumpa dalam Nokeso Toniasa, perubahan sikap dari tunas yang rapuh menjadi pohon yang mampu menaungi semesta kecilnya. Inilah saatnya jiwa muda membaca dirinya, menafsir dunia bukan hanya dengan mata, tapi juga dengan nurani.

Sebab anak pertama, vati ntinana, memikul kelembutan, kasih, dan kebijaksanaan sang ibu. Sedang anak kedua, vati ntuamana, menyandang keberanian, keteguhan, dan suara hati ayahnya. Dua sifat, dua warisan, bersatu dalam darah dan doa.

Agar mereka anak-anak tanah ini berbakti kepada yang melahirkan, kepada yang menggendong dunia dengan sabar dan peluh.

Agar mereka jauh dari malapetaka, terhindar dari penyakit yang tak hanya menggerogoti tubuh, tapi juga hati yang lupa arah.

Beginilah kisah ditulis oleh leluhur, dalam nyanyian bambu, dalam tarian, dalam langkah yang penuh makna dan pengabdian.

Lamposiga dan Lamposuruba, dua jiwa dan roh satu tujuan, mengantar jiwa muda melewati gerbang Nokeso Toniasa menuju dewasa, menuju suci, menuju manusia yang tahu darimana ia datang dan kemana ia harus kembali.



Jumat, 28 Maret 2025

Uniknya Kain dari Kulit Kayu

UNIKNYA KAIN DARI KULIT KAYU
peninggalan leluhur masyarakat kaili sulteng

                               
                                                        
Pakaian kulit kayu yang ada di kabupaten sigi tepatnya di desa tombevwe masih terjaga sampai sekarang. Dalam pakaian kulit kayu ini memiliki keunikan bagaimana bisa hanya dari kulit kayu bisa menjadi pakaian yang bisa di gunakan
Suku kaili memiliki banyak peninggalan yang salah satunya adalah pakaian dari kulit kayu. Tradisi pembuatan kain kulit kayu di Sulawesi Tengah sampai sekarang masih berlangsung dan di lakukan oleh masyarakat.
Kain kulit kayu adalah jenis kain yang menyerupai kertas yang terbuat dari kulit pohon Mao/Malo, pohon beringin. Proses pembuatanya masih di kelolah secara tradisional dan pada umumnya di buat oleh kaum wanita. Pembuatanya di di lakukan setelah menanam padi hingga menunggu waktu panen. Kulit kulit pohon jenis beringin diambil lalu di keluarkan serat serat yang masih terdapat dalam kayu kemudian di pukul pukul hingga merata dengan menggunakan batu ike.
Dalam wawancara dan perbincangan dengan Atman Spt.Msi ketua sanggar kesenian lando bulili mengatakan “ada beberapa ciri dalam pemakaian baju kulit kayu dan warnalah yang membedakan strata dari si pemakai kulit kayu misalnya jika pakaian kulit kayu tidak berwarna dan sederhana itu biasa di pakai oleh orang biasa dan jika warna dari pakaian kulit kayu mempunyai motif dan corak warna itu di pakai oleh keluarga kerajaan atau orang yang punya strata lebih tinggi kain kulit kayu juga di pakai untuk berbagai macam upacara adat”. Saya pun bertanya kepada budayawan ini apakah kain dari kulit kayu ini masih di pakai oleh masyarakat sekarang ? diapun mengatakan bahwa “ pakaian kulit kayu masih di pakai jika ada upacara upacara adat” dalam perbincanganpun pria berkulit sawo matang ini mengeluarkan semua koleksi peninggalan kain dan pakaian kulit kayu. Saya begitu takjub melihat koleksinya ini bagaimana tidak melihat peninggalan unik ini yang begitu menarik bagi saya adalah corak dari kain kulit kayu yangt masih sangat sederhana dan bukan hanya baju celana tapi topi dan selendang dari kulit kayupun ada di rumah budayawan ini. begitu banyak koleksi peninggalan leluhur yang ada di rumah ini saya pun sempat bertanya apakah koleksi yang begitu banyak ini tidak di sumbangkan saja ke museum beliapun mengatakan biarlah dia yang menjaga sebagai budayawan kesenian lando bulil. Setelah puas melihat lihat kain dari kulit kayu beliaupun segera menyimpan kembali kain kulit kayu tersebut.
Dari berbagai sumber sumber yang saya dapat pakain kulit kayu di Sulawesi tengah ini tidak hanya terdapat di kab.sigi saja tapi ada beberapa seperti di kab.poso di lembah bada dan besoa di kedua lembah itu kain kulit kayu juga tidak jauh beda kegunaanya dengan yang ada di kab.sigi, di lembah besoa bada pakaian kulit kayu di gunakan sebagai pakaian,upacara adat dan yang uniknya di pakai untuk menutup mayat/jenazah.






Susu-Suku di Sulawesi Tengah

Suku Kaili. Suku Kaili adalah suku yang mayoritas mendiami wilayah Sulawesi Tengah.

Suku Mori. Suku Mori adalah kelompok masyarakat asli yang mendiami kawasan di Kabupaten Poso, tepatnya di tiga kecamatan di Poso. Tiga kecamatan itu adalah Kecamatan Mori Atas, Petasio, dan Kecamatan Lembo. Petasio berada di pesisir, sedangkan dua kecamatan lainnya di pedalaman.

Permukiman orang-orang Suku Mori berkelompok, tetapi sebagian lagi ada yang terpencar karena tuntutan pola pekerjaan. Mayoritas masyarakat suku ini bekerja sebagai petani damar, padi, dan rotan. Ada juga orang Suku Mori yang menjadi pedagang dan nelayan.

Suku Napu juga merupakan penduduk asli Sulawesi Utara yang bermukim di kawasan Kabupaten Poso. Letak permukiman mereka ada di Kecamatan Lore Utara dan Poso Pesisir, tersebar dalam sembilan desa, di antaranya Mahalo, Tamadoe, Tatatu, dan lain sebagainya. Mereka memiliki bahasa sendiri yang dikenal dengan bahasa Napu. Kebudayaan orang-orang Suku Napu memiliki tingkat kemiripan yang tinggi dengan Suku Lore.

Suku Balaesang. Disadur dari buku Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (2015) oleh Zulyani Hidayah, masuarakat suku ini dikenal sebagai suku yang mempunyai kearifan lokal berupa menyatu dengan alam. Contoh kearifan yang masih dipertahankan adalah larangan untuk menggunakan perahu mesin di danau Rano lantaran khawatir akan mengakibatkan air danau menjadi tercemar.

Suku Balaesang Disadur dari buku Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (2015) oleh Zulyani Hidayah, masyarakat suku ini dikenal sebagai suku yang mempunyai kearifan lokal berupa menyatu dengan alam. Contoh kearifan yang masih dipertahankan adalah larangan untuk menggunakan perahu mesin di danau Rano lantaran khawatir akan mengakibatkan air danau menjadi tercemar.

 

Orang Kadambuku digolongkan ke dalam kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami daerah sekitar Danau Poso di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Orang Lamusa digolongkan oleh ahli etnografi ke dalam salah satu bagian dari kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami daerah sekitar Danau Poso, dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Lembo digolongkan sebagai salah satu sub sku dari kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami beberapa tempat di daerah sekitar hulu Sungai Kalaena, dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

 

Orang Longkea digolongkan oleh ahli etnografi klasik ke dalam salah satu bagian dari kelompok suku bangsa Pamona yang mendiami daerah sekitar Danau Poso dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Pakambia digolongkan sebagai salah satu sub suku dari suku bangsa Pamona. Mereka mendiami daerah lembah Sungai Laa bagian hulu, yaitu di sebelah timur Danau Poso, yang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Mian Banggai adalah salah satu sub suku dari suku bangsa Banggai. Mereka mendiami Pulau Banggai yang termasuk wilayah Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Mereka memakai dialek Mian Banggai.

Orang Mian Sea-Sea juga tergolongan dalam sub suku bangsa Banggai. Ciri-ciri fisik mendekati ras Vedoid atau Australoid. Mereka mendiami Pulau Peleng yang berada dalam Kepulauan Banggai, Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Palende digolongkan sebagai salah satu sub suku dari suku bangsa Pamona. Mereka berdiam di daerah sekitar lembah Sungai Laa bagian hulu, yaitu di sebelah timur Danau Poso, dalam wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah.

Orang Ra'u tergolong sebagai salah satu sub suku dari suku bangsa Pamona yang berdiam di sekitar Teluk Tomini dan leher jazirah Sulawesi Tengah, di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

 

 

 

Suku-suku Lain di Sulawesi Tengah

Kulawi

Bada

Bajau

Balantak

Banggai

Bungku

Buol

Dampelas

Dondo

Muna

Tomia

 

Rumah Adat SOU RAJA

Rumah adat Sou raja dahulu berfungsi sebagai tempat tinggal para raja dan keluarga. Selain itu rumah adat tersebut juga sebagai pusat pemerintahan kerajaan. Pembangunan Sou Raja ini atas prakarsa Raja Yodjokodi pada sekitar abat 19 masehi.
Bangunan Banua Oge atau Sou Raja adalah bangunan panggung yang memakai konstruksi dari kayu dan dengan paduan arsitektur bugis dan kaili. Luas keseluruhan Banua Oge atau Sou Raja adalah 32×11,5 meter. Tiang pada bangunan induk berjumlah 28 buah dan bagian dapur 8 buah. Atapnya berbentuk piramide segitiga, bagian depan dan belakang atapnya ditutup dengan papan yang dihiasi dengan ukiran disebut panapiri dan pada ujung bubungan bagian depan dan belakang diletakkan mahkota berukir disebut bangko-bangko.

Bangunannya terdiri dari 4 bagian yaitu :
1. Gandaria (Serambi)
Ruangan yang berfungsi sebagai tempat ruang tunggu untuk tamu. Dibagian depan terletak anjungan sebagai tempat bertumpuhnya tanggah yang terdiri dari 9 anak tanggah dengan posisi saling berhadapan.
2. Lonta Karavana (Ruang Depan)
Bagian ruangan ini digunakan sebagai penjamuan atau penerimaan tamu untuk kaum laki-laki dalam pelaksanaan upacara adat. Fungsi lainnya yaitu digunakan sebagai tempat tidur para lelaki.
3. Lonta Tatangana (Ruang Tengah)
Pada bagian Ruangan tengah difungsikan sebagai tempat musyawarah Raja beserta para tokoh-tokoh adat dan di dalam ruangan ini terdapat dua kamar tidur untuk Raja.
4. Lonta Rarana (Ruang Belakang)
Ruangan ini digunakan sebagai tempat makan untuk Raja beserta keluarga. Diruangan ini juga terdapat kamar untuk wanita dan para anak gadis. Selain itu ruangan ini juga digunakan untuk menerima kerabat dekat.


Hiasan
Pada bangunan Souraja terdapat hiasan berupa kaligrafi huruf Arab tertampang pada jelusi-jelusi pintu atau jendela, atau ukiran pada dinding, loteng, dibagian lonta-karavana, pinggira cucuran atap, papanini, bangko-bangko dengan motif bunga-bungaan dan daun-daunan. Semua hiasan tersebut melambangkan kesuburan, kemuliaan, keramah-tamahan dan kesejahteraan bagi penghuninya.



Baju Adat Sulawesi Tengah

4 Baju Adat Sulawesi Tengah 
| Adatnusantara - Provinsi Sulawesi Tengah adalah provinsi yang memiliki penduduk dari banyak etnis didalamnya. Tercatat setidaknya ada 15 etnis besar di provinsi yang beribukota di Palu ini.

Sebut saja diantaranya ada etnis Kaili, Lore, Mori, Saluan, Mamasa, Taa, Bare'e, Buol, Toli-toli, dan Dampelas. Dan dari berbagai suku tersebut dilansir dari Wikipedia Indonesia, di Sulawesi Tengah terdapat 22 Bahasa yang berbeda disetiap suku nya. Namun demikian, masing-masing suku dapat berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

Dalam bidang kebudayaan, tentu saja masing-masing suku ini memiliki beragam kebudayaan yang berbeda-beda. Salah satu kebudayaan yang akan kita temui dalam artikel ini adalah tentang Baju Adat.

Dalam posting ini,  kita akan mengenal beragam baju adat Sulawesi Tengah yang tentu saja berasal dari keragaman suku adat penduduk provinsi Sulawesi Tengah.

Baju Adat Sulawesi Tengah

1. Pakaian Adat Sulawesi Tengah - Suku Kaili


Etnis Kaili adalah etnis / suku adat yang telah berdiam di kabupaten Donggala, Parigi Moutong, Sigi dan kota Palu secara turun temurun.

Suku Kaili memiliki baju adat yang digunakan pada acara tertentu seperti pada acara pernikahan. Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum wanita dari suku kaili di kota palu dikenal dengan nama baju nggembe, semetara pakaian adat yang digunakan oleh kaum pria disebut baju koje/puruka pajana.

pakaian adat kaili sulteng

- Baju Nggembe

Baju Nggembe adalah baju adat suku Kaili Sulawesi Tengah yang digunakan untuk kaum wanita. Baju adat Sulawesi Tengah yang disebut Baju Nggembe merupakan busana atasan berbentuk segi empat dengan panjang blus sampai sebatas pinggang, berkerah bulat, dan berlengan selebar kain yang dilengkapi dengan penutup dada dengan hiasan payet sebagai pemanis busana yang dipadukan dengan bawahan berupa sarung tenun Dongala.

Sebagai pemanis ditambahkan pula berbagai aksesoris berupa kalung beruntai atau gemo, gelang panjang atau ponto ndate, anting panjang atau dali taroe, serta pending atau pende. Pending merupakan ikat pingang yang dibuat dari bahan emas atau perak dan umumnya dikenakan oleh wanita dalam memainkan pertunjukan tarian khas Sulawesi Tengah. Dibagian dalam pending dibuat sebuah tempat untuk memasukkan tali pengikat kain berwarna kuning sebagai hiasannya.

baju adat sulawesi tengah

- Baju Adat Koje/Puruka Pajana

Setelah kita mengenal pakaian adat suku kaili Sulawesi Tengah yang digunakan oleh kaum wanita, kini kita akan mengenal pakain pria Kaili. Pakaian adat pria terdiri dari 2 bagian yaitu Baju Koje dan Puruka Pajama. Baju Koje atau baju ceki adalah kemeja yang bagian keragnya tegak dan pas dileher, berlengan panjang, panjang kemeja sampai ke pinggul dan dipakai di atas celana.
Puruka Pajana atau celana sebatas lutut, modelnya ketat, namun killnya harus lebar agar mudah untuk duduk dan berjalan. Pakaian ini dilengkapi dengan sarung dipinggang, keris, serta sebagian kepala menggunakan destar atau siga.


2. Pakaian Adat Sulawesi Tengah - Suku Saluan

Suku Saluan merupakan salah satu suku bangsa Indonesia yang tinggal di Kabupaten Luwuk Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Masyarakat asli Saluan mempunyai sebutan khas, yaitu orang Loinang. Loinang bila diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti orang gunung. Hal ini sesuai dengan tempat tinggal suku asli Saluan yang sebagian besar di daerah pegunungan.

Berbeda dengan masyarakat suku kaili yang menggunakan baju nggembe dan puruka pajana sebagai pakaian adat, masyarakat suku saluan memiliki pakaian adat tersendiri yang khusus dikenakan pada upacara tumpe. Tumpe merupakan salah satu rangkaian upacara adat yang disakralkan oleh masyarakat Loinang dan hanya diadakan pada acara khusus seperti upacara pernikahan, upacara penyambutan tamu dan upacara pelepasan Burung Maleo.

Berikut ini penjelasan baju adat Sulawesi Tengah khususnya masyarakat Suku Saluan :

a. Baju adat Suku Saluan Laki-laki

Pakaian yang dikenakan oleh kaum laki-laki orang Loinang adalah pakean nu'moane yaitu serupa kemeja pria yang dipadukan dengan celana panjang yang disebut koja dalam bahasa saluan. Ditambahkan pula penggunaan sungkup nu’ubak sebagai penutup dibagian kepala, serta sarung (lipa) sebagai pelengkap celana panjang.


b. Baju adat Suku Saluan Wanita


Sedangkan untuk kaum wanita dalam upacara adat tumpe yaitu berupa baju sungkup nu’ubak berwarna merah jambu yang dipadukan dengan ikat pinggang warna hitam serta rok mahantam berwarna merah jambu bercorak belang-belang. Sebagai pelengkap ditambahkan pula pengunaan aksesoris berupa kalung atau kalong, gelang atau potto, anting atau sunting, jaling, serta selempang atau salandoeng.


3. Pakaian Adat Sulawesi Tengah - Suku Mori


Suku Mori merupakan salah satu suku yang berasal dari Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, Indonesia. Wilayah otoritas suku ini adalah wilayah Kabupaten Morowali bagian utara. Beberapa nama kota dan kelurahan yang termasuk dalam wilayah suku mori adalah Kolonodale, Beteleme, Tiu, Lembobelala, Lembobaru, Tingkea'o, Wawopada, Tomata, Taliwan, Ensa, Tompira, dan lain-lain.

a. Pakaian adat pria suku Mori

Pakaian adat yang dikenakan oleh kaum pria dari suku Mori juga dikenal dengan sebutan Lambu, yaitu berupa blus berwama merah atau hitam yang dihiasi denan motif rantai berwama kuning yang dipadukan denan celana panjang berwama merah yang disebut dengan saluara. Sebagai pelengkap ditambahkan penggunaan destar atau melpa bate pada bagian kepala, sambengko (selempang), serta metampi ponal (sarung dan pedang).


b. Pakaian adat wanita Suku Mori

Kaum wanita biasa mengenakan blus lengan panjang atau bahasa Mori disebut dengan Lambu, berwarna merah dengan hiasan dan motif rantai berwama kuning. Untuk bawahannya merka mengenakan rok panjang berwama merah atau hawu juga bermotif rantai berwama kuning. Mahkota atau pasapu digunakan untuk bagian kepala. Adapun aksesoris yang digunakan pada pakaian ini ialah Konde atau Pewutu Busoki, Tusuk Konde atau Lansonggilo, Anting-anting atau Tole-tole, Kalung atau Enu-enu, Gelang Tangan atau Mala, Ban Pinggang atau Pebo’o, Cincin atau Sinsi.


4. BajuAdat Sulawesi Tengah - Suku Toli-toli

Seperti halnya 3 suku adat lainnya di Sulawesi Selatan, Suku Toli-toli yang terdapat di Kabupaten Toli-toli merupakan suku adat Sulawesi Tengah yang juga memiliki pakaian adat yang khas.

a. Pakaian adat Wanita Suku Toli-toli

Pakaian Adat Perempuan  suku toli-toli terdiri dari Blus lengan pendek atau Badu yang pada bagian lengan terdapat lipatan-lipatan kecil, dihiasi manik-manik dan pita emas. Untuk kebawahannya berupa celana panjang atau Puyuka panjang dihiasi pita emas dan manik-manik. Kemudian menggunakan sarung sebatas lutut atau Lipa. Selendang atau Silempang Ban pinggang berwarna kuning.

Lalu akssesoris yang digunakan antara lain : anting-anting panjang, gelang panjang, kalung panjang warna kuning, kembang goyang

b. Pakaian adat pria suku Toli-toli

Pakaian Pria suku Toli-toli terdiri dari blus lengan panjang, leher tegak, dihiasi dengan pita emas dan manik-manik wama kuning. Kebawahan baju adat pria toli-toli adalah celana panjang atau Puyuka panjang Sarung sebatas lutut  serta mengenakan tutup kepala atau Songgo


Demikian Sobat Tradisi, 4 baju adat Sulawesi Tengah yang terdiri dari baju adat laki-laki dan perempuan dari 4 suku adat yang ada di Provinsi Sulawesi Tengah. Semoga bermanfaat


Mengenal Ikat Kepala SIGA

          


          Mengenal Pernak Pernik Budaya dan Tradisi Masyarakat Suku Kaili adalah satu keberuntungan tersendiri bagi penulis ketika diamanahi sebagai Ketua Ikatan Pemandu Museum Indonesia (IPMI) Provinsi Sulawesi Tengah. Bukan semata mengurusi kepemanduan museum, tetapi juga mengenal kehidupan sosial budaya Suku Kaili yang menjadi etnis terbesar di Sulawesi Tengah.

Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia Tahun 2010 dengan jumlah penduduk 2.623.679 jiwa, suku bangsa di provinsi Sulawesi Tengah termasuk beragam. Suku mayoritas adalah suku asli setempat termasuk suku Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Saluan, dan lainnya, sebanyak 1.630.937 jiwa (62,16%).

Dari segi bahasa lokal, Bahasa Suku Kaili termasuk dalam penutur Austronesia dengan karakter ras mongoloid (Purwanti, 2016; Yuniawati, 2016). Dengan bahasa dari komunitas Kaili sehingga rumpun ini juga termasuk bangsa Austronesia.

Stratifikasi sosial masyarakat suku Kaili tercermin dari klasifikasi rumah tinggalnya, sementara rumah ibadah yang disebut Masigi juga memiliki arti masjid, menandakan bahwa mayoritas suku Kaili menganut Agama Islam. Simbolisasi stratifikasi sosial untuk menandakan seseorang itu bangsawan atau tidak dalam masyarakat Suku Kaili juga dapat dilihat dari pakaian adat yang dikenakan, dan terkhusus pada ikat kepalanya.

Baju adat Suku Kaili, begitu pula ikat kepalanya tercermin dari bahan kain tenun beragam warna. Hampir keseluruhan pakaian adat Suku Kaili tersebut menggunakan kain tenun, yang ditenun menggunakan alat tradisional khas Suku Kaili. Ciri khas yang paling mudah dikenali adalah Ikat Kepala Siga, aksesoris penutup kepala yang menggambarkan simbol kebesaran masyarakat Kaili.

Siga adalah kain penutup kepala yang digunakan oleh pria Suku Kaili. Ikat kepala ini memiliki makna tersendiri bila dilihat dari warnanya. Siga yang berwarna kuning dengan lipatan kedepan biasanya digunakan oleh tetua adat, para raja (magau) dan bangsawan, warna biru dengan lipatan ke kanan dan ke kiri dikhususkan untuk para pejabat. Sementara warna merah dengan lipatan ke belakang dikhususkan bagi kalangan masyarakat umum. Siapa saja dapat memakai siga warna merah tanpa membedakan kelas sosial.

Tak lengkap rasanya bagi para lelaki di Sulawesi Tengah menghadiri upacara adat bila tanpa mengenakan siga. Ikat kepala Siga yang asli, sebagaimana banyak ditemukan di Donggala, itu sebenarnya terbuat dari kulit kayu, dipercayai sebagai simbol kebesaran dan penanda bagi mereka yang dianggap mampu mengayomi Orang-orang disekitarnya.

Bagi masyarakat adat Suku Kaili di Kabupaten Donggala, siga bukan cuma sekedar kain yang diikat di kelapa, tapi juga sebagai penanda status sosial penggunanya. Ikat kepala siga biasanya diberi motif-motif geometris. Tak lupa dilengkapi dengan hiasan sulangkambaja, yaitu sulaman benang berwarna keemas atau perak yang dipercaya sebagai simbol suami yang sayang anak dan istrinya.

Meskipun tidak lagi digunakan dalam busana sehari-hari, masyarakat dan pemerintah Sulawesi Tengah masih menjadikan filosofi SIGA sebagai pegangan dalam berkehidupan serta landasan budaya kerja di daerahnya.

Kini, setiap orang di Sulawesi Tengah, khususnya di Kota Palu dapat memakai ikat kepala Siga yang menjadi kebanggaan masyarakat Kaili tanpa melihat kasta pemakainya, aksesori tersebut kini tersedia dalam berbagai pilihan warna guna mempermudah padu padan dengan pakaian yang digunakan. Meski demikian, Ikat kepala Siga tetap menjadi simbol kebesaran, khususnya bagi masyarakat Kaili. (*)

 



Sumber : DISINI


     Ikat Kepala Siga merupakan salah satu simbol kebesaran masyarakat Kaili di Palu, Sulawesi Tengah. Ikat kepala yang khusus dikenakan oleh kaum laki-laki ini memiliki makna tersendiri dalam pemakainnya, yaitu status sosial dibalik warna. Warna kuning adalah warna tertinggi, yang hanya dapat dikenakan oleh para raja dan bangsawan. Si warna laut, biru, menunjukkan strata sosial pemakainya yang memangku tugas sebagai gubernur atau bupati atau perangkat pemerintah lainnya. Sedangkan warna merah dapat dipakai oleh siapapun tanpa membedakan kelas sosial.

     Kini, siapapun dapat memakai Ikat Kepala Siga kebanggan masyarakat Kaili. Tidak lagi memandang kasta sosial si pemakai, si aksesoris budaya ini kini sudah tersedia dalam berbagai warna, memudahkan pemakai memadu madankan warna dengan pakaian. Pun tidak lagi perlu bersusah payah mengikat, kini sudah tersedia pula ikat kepala yang bisa langsung dikenakan. Namun bagaimanapun, Ikat Kepala Siga tetaplah menjadi simbol kebesaran dan kebanggan masyarakat Kaili, Sulawesi Tengah.



          Siga adalah aksesori kepala yang digunakan oleh pria Suku Kaili. Warna warni dari sebuah aksesoris kepala pria merupakan salah satu simbol kebesaran masyarakat kaili di kota palu sulawesi tengah. Ikat kepala yang khusus di kenakan oleh kaum laki laki ini memiliki makna tersendiri dalam pemakaiannya, yaitu status sosial dibalik warna:

Warna kuning adalah warna tertinggi yang hanya dapat dikenakan oleh para raja (magau) dan bangsawan,

warna biru menunjukan strata sosial pemakainya yang memangku sebagai Gubernur,Walikota dan Bupati atau perangkat pemerintah lainnya

warna merah dapat dipakai oleh siapapun tanpa membedakan kelas sosial.

Kini di kota pPalu siapapun dapat memakai ikat kepala Siga yang menjadi kebanggaan masyarakat kaili itu yang tidak lagi melihaat kasta si pemakai, bahkan sekarang di kota palu siga digunakan Setiap hari kamis oleh anak sekolah dasar dan Pegawai Negri Sipil di jajaran pemerintah kota palu yang di promotori oleh walikota palu Drs. Hidayat M.Si, Aksesori Budaya ini kini sudah tersedia Dalam berbagai Warna memudahkan si pemakai memadukan warna dengan pakaian yang digunakan, walaupun sekarang sudah banyak tersedia pula ikat kepala yang bisa langsung di kenakan, Namun SIGA tetap Menjadi Simbol kebesaran Dan Kebanggaan Masyarakat kaili.

 

Sumber:http://palukota.go.id/v2/siga-simbol-kebesaran-suku-kaili/


          
          Menurut Kakek Lahasa (Tomaitawiya), diceritakannya kepada puteranya Abdullah (Tomaiyaro), kemudian diceritakan Abdullah (Tomaiyaro) kepada kami, bahwa sejak beliau berhenti jadi Totua nu Ngata (Kepala Kampung) Kalukubula, beliau diangkat sebagai  Totua nu Ada. Beliau bertugas sebagai Totua nu Ada yang ditunjuk oleh Magau Dolo Datupamusu, meskipun tinggalnya di Kalukubula yang waktu itu menjadi Wilayah Magau Sigi Biromaru.

Beliau menceritakan, bahwa Siga adalah pengikat kepala, bukan hanya sekedar sebagai penutup kepala seperti Toru, atau penutup kepala lain, yang saat itu wajib dikenakan oleh semua Totua nu Ada, maupun Totua nu Ngata. Tidak ada pengecualian untuk penggunaan Siga, karena sangat tergantung pada kesiapan yang ada. Tidak ada penjelasan mengenai warna, dan jenis apapun kain yang digunakan untuk mengikat kepala, bahkan waktu itu masih ada juga yang menggunakan kain dari Kulit Kayu. Semua yang digunakan untuk mengikat kepala, itulah yang disebut Siga, Dan adapula dari Ngata/Boya/Soki (Kampung) lain yang menyebutnya Higa, dll.

Tidak ada larangan bagi Masyarakat Adat lainnya yang menggunakan Siga, tergantung dari kesiapan dan persiapan dari warga itu sendiri. Hanya saya pada waktu itu tidak seorangpun yang berani memakai Siga yang sama persis seperti Magau. Bukan karena adanya larangan, atau ancaman sanksi Givu, tetapi adalah bentuk penghargaan dan penghormatan warga kepada sang Magau.

Dahulu juga kalangan bangsawan maupun masyarakat biasa (masyarakat adat) sangat sulit mendapatkan kain tenun, sehingga digunakan pada waktu itu kain dibuat dari kulit kayu. Ukuran yang digunakan sebagai Siga belum beraturan, sehingga bentuknya sangat berbeda-beda.

Dalam sejarah, sekitar abad ke-7 di Kerajaan Swiwijaya, masyarakat sudah banyak menggunakan kain tenun sebagai ikat kepala. Ukurannya kecil hanya sebesar sapu tangan, atau dalam bahasa Kaili Ledo disebut Pasapu (Sapu tangan). Pasapu mulai digunakan sebagai pengikat kepala yang disebut Siga. Pasapu mulai dikenal dalam keadatan Kaili, namun sebenarnya itu kemungkinan kesamaan penggunaan kata dengan masyarakat adat di kerajaan Gowa, yang menyebutnya itu sebagai Passapu.

Hadirnya jenis penutup kepala ini tidak terlepas dari budaya Melayu yakni Sumatera, Padang, dan Malaysia. Meski begitu masing-masing daerah memiliki ciri khas dan penamaan tersendiri.

Jadi ada pengaruh makanya kalau kita lihat sekarang orang-orang Melayu, Sumatera, Padang, Malaysia, dan sebagainya ada yang menggunakan penutup kepala yang lancip," 

Passapu mulai dikenakan pada masa Kerajaan Gowa yang ke-10. Saat itu Kerajaan Gowa dipimpin oleh Raja I Manriwagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng.




Sumber : DISINI



IKAT KEPALA  "SIGA"
Bahan             : Kain
Jenis               : Etnografi
No.Inventaris : 23522
Lembaga        : Musium Nasional Indonesia

       Tak lengkap rasanya bagi lelaki Sulawesi Tengah menghadiri upacara adat bila tanpa menggunakan Siga. Selain menambah kepercayaan diri, ikat kepala yang terbuat dari kulit kayu ini juga menjadi simbol kebesaran dan penanda badi mereka yang dianggap mampu mengayomi orang-orang disekitarnya. Bagi masyarakat adat suku Kaili, Kabupaten Donggala, Siga bukan cuman sekedar kain yang diikat di kepala, tetapi juga sebagai penanda status sosial penggunanya. Siga yang berwarna kuning dengan lipatan kedepan biasanya digunakan Totua Adat, warna biru dengan  lipatan ke kanan dan ke kiri dikhususkan untuk para pejabat. Sementara warna merah dengan lipatan kebelakang dikhususkan bagi kalangan masyarakat biasa.
     Ikat kepala Siga biasanya diberi motif-motif geometris. Tak lupa dilengkapi dengan hiasan sula ngkabaja, yaitu sulaman benang,yaitu sulaman benang keemasan atau perak yang dipercaya sebagai simbol suami yang sayang anak dan isterinya. Meskipun tidak lagi digunakan dalam busana sehari-hari, masyarakat dan Pemerintah Sulawesi Tengah masih menjadikan filosofi SIGA sebagai pegangan dalam kehidupan  serta landasan budaya kerja di daerahnya.

Sumber : DISINI


Kamis, 20 Februari 2025

Prosesi Adat Balia di Desa Binangga: Ritual Penyembuhan Tradisional

 

Prosesi Adat Balia di Desa Binangga: Ritual Penyembuhan Tradisional

Oleh : Sadri 

 


Binangga, 24 Februari 2025 – Prosesi Adat Balia, sebuah ritual penyembuhan tradisional yang dipercaya dapat mengobati penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh medis, telah sukses dilaksanakan di Desa Binangga, Kabupaten Sigi. Acara ini berlangsung selama empat hari, dari tanggal 20 hingga 23 Februari 2025, dan dihadiri oleh pemerintah setempat serta pemangku adat dari berbagai wilayah di Kabupaten Sigi.

Prosesi Adat Balia merupakan warisan budaya masyarakat Kaili yang masih tetap dijaga hingga saat ini. Ritual ini dipimpin oleh seorang manuru, yakni pemimpin upacara yang memiliki kemampuan spiritual dalam menjalankan prosesi penyembuhan. Dalam prosesi ini, berbagai instrumen musik tradisional seperti lalove (seruling bambu khas Kaili), gimba (gendang besar), dan gambusu (alat musik petik khas Sulawesi Tengah) turut dimainkan untuk mengiringi jalannya ritual.

 


Salah satu bagian menarik dari prosesi ini adalah kehadiran topotaro, yaitu para pelaku adat yang mengelilingi manuru selama ritual berlangsung. Mereka menjalankan berbagai gerakan dan mantra adat yang diyakini mampu membantu dalam proses penyembuhan.

Kepala Desa Binangga, Mohamad Ridwan dalam sambutannya, menyampaikan bahwa Prosesi Adat Balia bukan hanya tentang penyembuhan, tetapi juga sebagai bentuk pelestarian budaya yang harus terus diwariskan kepada generasi muda. “Kami berharap ritual ini tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Kaili,” ujarnya.

Pemerintah sekitar juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan ritual ini. Salah satu perwakilan dari Dinas Kebudayaan menyatakan bahwa pihaknya akan terus mendukung kegiatan adat seperti Balia agar tetap eksis di tengah arus modernisasi.

Masyarakat yang hadir dalam prosesi ini turut merasakan khidmatnya suasana sakral yang diciptakan selama upacara berlangsung. Beberapa warga bahkan menyatakan bahwa mereka masih percaya akan kekuatan penyembuhan dalam ritual Balia yang telah diwariskan secara turun-temurun.

  


Dengan suksesnya penyelenggaraan Prosesi Adat Balia tahun ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya menjaga budaya lokal semakin meningkat. Ritual ini tidak hanya menjadi bagian dari warisan budaya, tetapi juga menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat di tengah masyarakat modern.


Sumber : https://karebakakitapura.blogspot.com/2025/02/prosesi-adat-balia-di-desa-binangga.html

Selasa, 18 Februari 2025

Prosesi Adat No Raa Binangga, Tradisi Suku Kaili Memohon Kelimpahan Air

 

Prosesi Adat No Raa Binangga, Tradisi Suku Kaili Memohon Kelimpahan Air

Oleh : Sadri

Palu, 19 Februari 2025 – Masyarakat Suku Kaili di Kelurahan Kawatuna kembali menggelar prosesi adat "No Raa Binangga", sebuah tradisi sakral yang bertujuan memohon kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, agar menganugerahkan kelimpahan air bagi kehidupan. Upacara yang dipimpin oleh pemangku adat ini dihadiri oleh perwakilan adat dari Kota Palu dan Kabupaten Sigi, serta jajaran pemerintah setempat.



Prosesi "No Raa Binangga" merupakan warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat Kaili. Dalam ritual ini, para pemangku adat melantunkan doa-doa dan melakukan serangkaian prosesi khusus yang melambangkan harapan akan keberkahan dan kesuburan tanah. Air dianggap sebagai sumber kehidupan, sehingga permohonan akan kelimpahan air memiliki makna mendalam bagi keberlangsungan hidup masyarakat.

 


Acara ini diawali dengan pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat dan tokoh agama, dilanjutkan dengan prosesi adat yang mencakup penyampaian harapan serta simbolisasi penghormatan kepada alam. Para peserta mengenakan pakaian adat khas Kaili, menambah kekhidmatan suasana ritual.

Hadir dalam acara tersebut perwakilan dari Pemerintah Kota Palu dan Kabupaten Sigi yang menyampaikan apresiasi atas upaya masyarakat dalam melestarikan budaya lokal. Pemerintah berkomitmen untuk terus mendukung dan menjaga keberlanjutan tradisi ini sebagai bagian dari identitas budaya daerah.

 


Prosesi "No Raa Binangga" menjadi pengingat akan pentingnya keseimbangan antara manusia dan alam. Dengan mempertahankan adat dan tradisi, masyarakat tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga memperkuat nilai-nilai spiritual dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan terselenggaranya prosesi ini, diharapkan keberkahan air dan kesuburan tanah akan terus melimpah bagi masyarakat Kaili dan sekitarnya, serta adat istiadat ini tetap lestari di tengah arus modernisasi.

 


 


Sumber :  https://karebakakitapura.blogspot.com/2025/02/prosesi-adat-no-raa-binangga-tradisi.html

 

Sabtu, 08 Februari 2025

Upacara Adat Molili Ngata

 Upacara Adat Molili Ngata











Selasa, 28 Januari 2025

Zaman Prasejarah

 Zaman Prasejarah : Pengertian dan Pembagiannya 


Prasejarah/Prakasara yaitu suatu kurun waktu yang terpanjang dalam sejarah umat manusia. Di mana sejak hadirnya manusia di bumi hingga ditemukannya pengetahuan tentang tulisan atau aksara yang menandai era sejarah.

Penelitian di bidang prasejarah berupaya menjelaskan kehidupan manusia purba melalui peninggalan-peninggalan mereka. Peninggalan tersebut meliputi sisa-sisa tulang belulang manusia maupun benda-benda (artefak) yang dibuat, dipakai, atau dibuang oleh mereka.

Benda alam tersebut seperti batu, tulang hewan (ekofak), cangkang kerang, atau arang sisa pembakaran juga dipelajari. Untuk mengetahui bentuk interaksi antar manusia purba dengan alam sekitarnya.


Pengertian Zaman Pra Sejarah

Zaman pra sejarah adalah zaman dimana belum ada atau belum dikenalnya sebuah tulisan di dalam kehidupan manusia. Dapat dikatakan demikian karena pada zaman tersebut belum ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa tulisan oleh para ahli.


Pembagian Zaman Pra Sejarah

Dalam hal pembagian zaman pra sejarah sendiri diklasifikasikan berdasarkan 2 (dua) aspek, yaitu berdasarkan geologi dan berdasarkan arkeologi. Geologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bumi, baik dari strukturnya, fisiknya dan proses pembentukannya. Oleh sebab itu, klasifikasi zaman pra sejarah berdasarkan geologi dapat dibagi menjadi :

Zaman Arkaezoikum atau zaman tertua

Zaman Arkaezoikum, zaman ini berlangsung sekitar 2500 juta tahun yang lalu. Pada zaman Arkaezoikum belum terdapat tanda-tanda kehidupan makhluk hidup. Karena pada zaman tersebut merupakan zaman dimana bumi dalam proses pembentukan.

Zaman Paleozoikum atau zaman primer

Pada zaman arkaezoikum bumi masih dalam proses pembentukan sehingga permukaan bumi masih sangat panas, tidaklah sama dengan zaman paleozoikum. Pada zaman ini, bumi sudah mulai mendingin. Zaman ini sendiri berlangsung pada 340 juta tahun yang lalu.

Sehingga pada zaman Paleozoikum diperkirakan sudah terdapat makhluk hidup bersel satu yang merupakan makhluk yang hidup pertama kali di permukaan bumi.

Zaman Mesozoikum atau zaman sekunder

Zaman Mesozoikum disebut juga zaman dinosaurus, hal ini karena pada zaman Mesozoikum, telah hidup hewan ber-sel banyak di bumi yang berupa dinosaurus. Bumi pada saat itu mulai berangsur-angsur menyatu satu sama lain, sehingga nampak seperti sekarang ini. Pada zaman ini diperkirakan berlangsung pada 140 (seratus empat puluh) juta tahun yang lalu.

Zaman Neozoikum

Zaman neozoikum adalah zaman bumi baru, di zaman ini kehidupan di bumi sudah mengalami kestabilan. Reptil-reptil besar seperti donosaurus sudah mulai berkurang dan terdapat makhluk hidup yang menyusui berupa monyet serta kera. Pada zaman neozoikum mamalia mulai berkembang. Adapun pada zaman neozoikum ini dibagi menjadi dua, yaitu:

Zaman tertier

Pada zaman tertier, reptile besar sudah mulai punah dan sebagai besar dari penggantinya muncul. Kemudian berkembanglah makhluk hidup mamalia seperti kera dan monyet.

Zaman kuarter

Pada zaman kuarter, mulai muncul kehidupan manusia. Zaman ini sendiri terbagi menjadi dua yaitu zaman pleistosen atau diluvium yang terjadi sekitar 600 ribu tahun yang lalu. Pada zaman pleistosen ini terjadi penurunan suhu dengan drastis, sehingga membentuk zaman es atau glasial.

Daratan benua Asia menyatu dengan pulau jawa, bali, serta Kalimantan. Saat es mulai mencair, maka mulailah zaman interglasial dimana pulau sumatera, jawa, Kalimantan mulai terpisah kembali dari benua Asia. Kedua, zaman Holosen atau Aluvium, yang terjadi sekitar 20 ribu tahun yang lalu, pada zaman Holosen ini terlahir jenis manusia berupa homo sapiens, yang bentuknya kurang lebih seperti manusia sekarang.

Sedangkan jika melihat berdasarkan ilmu yang mempelajari tentang kebudayaan manusia di masa lalu yang dikaji melalui penemuan benda-benda pada masa lalu (arkeologi). Menurut arkeologi, zaman pra sejarah tersebut dibagi menjadi 3 zaman, yaitu zaman batu, zaman logam dan zaman besi.


1. Zaman batu

Zaman batu adalah zaman dimana alat-alat dalam menunjang proses kehidupan manusia kebanyakan terbuat dari batu. Walaupun terdapat sebagian dari alat tersebut yang terbuat dari tulang atau kayu. Pada zaman batu sendiri terbagi lagi, yaitu :

Zaman batu tua (Paleolithikum)

Dinamakan zaman batu tua karena pada zaman ini batu yang dipergunakan sebagai alat sehari-hari belum dipoles dengan baik dan rapi, dan tidak diasah. Batu ini sendiri biasanya digunakan untuk berburu, menangkap ikan, memahat tulang, serta bisa digunakan sebagai senjata.

Berdasarkan letak penemuannya, alat-alat tersebut bisa dikategorikan ke dalam kebudayaan Pacitan atau kebudayaan Ngandong. Alat-alat yang dihasilkan tersebut berupa kapak genggam, alat-alat dari tulang binatang, dan flakes (sejenis alat-alat kecil yang terbuat dari batu Chalcedon). Manusia pendukung zaman ini ialah pithecanthropus dan homo.

Zaman batu tengah (mesolitikum)

Alat-alat batu yang ditemukan pada zaman ini telah jauh lebih baik dari pada zaman sebelumnya. Manusia pada zaman ini masih melakukan kebiasaan food gathering (mengumpulkan makanan) dan nomaden (berpindah-pindah).

Ada suatu keunikan pada zaman ini, yaitu ditemukannya banyak bukit kerang atau kyoken moddinger. Alat-alat yang dipakai pada masa ini ialah kapak genggam, kapan pendek, pipisan, dan kapak-kapak yang terbuat dari batu kali. Manusia pendukung zaman ini adalah papua-melanosoid.

Zaman batu muda (neolitikum)

Alat-alat yang terbuat pada zaman batu muda sudah mulai dihaluskan dan diasah dengan rapi. Adapun alat-alat yang digunakan yaitu seperti kapak persegi, kapak bahu, kapak lonjong, dan peralatan-peralatan lainnya. Manusia pendukung pada zaman ini ialah Austronesia (Austria), dan Austro-Asia (Khamer-Indocina).

Zaman batu besar (megalitikum)

Di zaman ini, manusia sudah mulai mengenal serta meningkatkan kebudayaannya ke batu-batu besar. Pada masa ini pula, manusia telah mengenal adanya keprcayaan terhadap roh nenek moyang.

Alat-alat yang ditemukan adalah punden berundak (tempat untuk memuja roh nenek moyang), dolmen (meja untuk meletakkan sesajian), sarkofagus (peti yang berisi mayat dan banyak alat-alat lainnya), menhir, serta kubur batu.

Zaman Prasejarah Pengertian dan Pembagiannya


2. Zaman Logam

Zaman logam ini juga disebut dengan zaman perundagian (karena munculnya golongan undagi yang mahir dalam membuat suatu kerajinan tangan). Pada zaman ini juga manusia sudah mulai membuat alat-alat yang menunjang kehidupan mereka dengan bahan dari logam.

Perlu untuk diketahui, bahwa tidak hanya logam yang ada pada zaman ini, melainkan alat-alat yang terbuat dari batu tetap ada. Bahkan terus bertahan sampai sekarang, tetapi alat-alat dari logamlah yang mendominasi. Di Indonesia sendiri, zaman logam terbagi menjadi 2 fase, yaitu :

Zaman perunggu

Pada zaman ini, manusia telah bisa mencampur bahan tembaga dan timah untuk bisa mendapatkan bahan yang lebih kuat. zaman perunggu identic dengan kebudayaan Dongson-Tonkin dari china. Alat-alat yang terbuat dari perunggu dizaman ini yaitu seperti kapak corong, nekara perunggu, bejana perunggu, dan arca perunggu.

Zaman besi

Di zaman besi ini, manusia terampil untuk membuat alat dari hasil peleburan biji besi untuk bisa mendapatkan alat yang diperlukan. Alat-alat yang terbuat dari besi adalah mata kapak bertungkai kayu, mata pisau, mata sabit, dan cangkul.

Demikian Artikel tentang Zaman Prasejarah : Pengertian dan Pembagiannya (Lengkap). Semoga  dapat bermanfaat dan menambah wawasan Anda. Terima kasih.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

۞ SEKRETARIAT SEMENTARA DEWAN ADAT KAB. SIGI ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞