Sekilas Sejarah
Perlawanan Rakyat di Tanah Kaili
( Bagian 4 )
Oleh : Daeng
Mangesa Datupalinge
MASA PENDUDUKAN JEPANG
Pada tanggal 6 juli
1942 jepang menginjakkan kakinya di bumi Kaili ini, untuk menggantikan kedudukan pemerintah Hindu
Belanda. Pagi hari waktu itu sebuah kapal armada jepang merapat dan bersandar
di dermaga Limbuo/Talise Palu, bersama suatu kompi balatentaranya di pimpin
seorang perwira bernama Takuda Myamoto. Mneurut cerita, sebelum jepangitu
kemari, lebih dahulu mendarat di Toli-Toli secara singkat saja serdadu jepang
ini mengadakan konsolidasi hingga
dalam waktu tidak berapa lama tentara Dai Nipon itu telah dapat membentuk
pemerintahan sipil dan dikepalai oleh seorang Bunken Kanrikan setingkat wedana
bernama Obano, perwira angkatan laut. Orang kedua selaku pimpinan administrasi
adalah seorang bintara berbaju sipil bernama Murayama berusia 25 thn. Menurutnya, dia baru selesai
ikut pendidikan militer, terusdikirim ke medan tempur untuk kepentingan Asia
Timur Raya. Seorang lagi bintara berbadan tinggisemampai bernama Katagiri,
tugasnya di bidang pertanian (Toyobo), dan seorang militer bernamaTajima,
kadang mewakili Toyobo selain mengurusi seni nyayi, dengan anggota-anggota
pujinkai.Acap pula, dia mengadakan latihan baris-berbaris pada pujinkai
dimaksudAmat senang si Tajima ini bergaul dengan gadis-gadis alam penghuni
kampung ini, yang menurutTajima, nona-nona tahu adat dan budaya. (Kategori
tentara jepang seperti itu, cuma bisa buattempo doloe, saja tentu tidak untuk
sekarang).
Di bidang kepemudaan khusus
wilayah Distrik (Gunco) Dolo, Bunken Kanrikan mengangkat Daeng Mangerang-Gs
sebagai Bun Danco (kepala pemuda).Bun Danco ini berhasilmembina para pemuda
(Seinendan), dan kepada kader pemuda-pemuda Bun Danco tersebut seringmemberi
pengertian ,tentang perlunya kita melatih fisik dan mental, tidak selamanya
kita semuaini, hidup dalam tekanan lahir dan batin, disebabkan sikap dan
tindakan penjajah, demikian BunDaco Daeng Mangerang. Berarti ia pun telah
mengisi rohani para Sinendan agar mulai mengertinilai hidup serta martabat
bangsa.
Tahun 1943, Rakyat sudah
mulai panen kapas, dan ulat sutera, kedua jenis hasil panen itu seluruhnya
diserahkan pada pemerintah Jepang dengan harga yang minim, sesuai berat
timbangan.Berapa puluh pikul kapas kering jika cuma setengah hektar, beberapa
pikul pula berat kekompong-kepompong kering andai hanya sekarung dua?. Melihat
keadaan begitu kadang kita merasa prihatinterhadap para petani yang nampak
tinggal berwajah hampa dan muram ketika menerima hasil jerih payah cuma sekian
puluh rupiah, sementara seusai dibayar, barang produknya diangkut..
Tidakseluruhnya buah kapas tersebut dibeli atau ditimbang, sebab cuma yang
putih bersih. Sedang yangkuning-kuningan (afker), itulah yang bakal ditunggu
oleh sang pemiliknya, guna dijadikan benangtenun untuk pakaian.
Amang (nama panggilan
penulis kisah ini) lebih lagi merasa bila mengerti hasil hasil panen kapas dan
ulat sutra ayah bundanya tidak jadi. Artinya kalau sepuluh karung kapas kering
yang ditimbang 5 karung. Sementara ulat sutra tidak sempat membungkus diri
dengan air liurnya melaluisel jaringan tubuhnya kemudian binatang itu mati,
bila sudah demikian halnya, Jepang lalu berangdan membentak petani dengan;
Bagero .......! memang serdadu Dai Nipon sangat kejam, sekejam macan tutul,
kata orang..
Suatu petang pada Bulan Desember
di Mantikole. Disitu banyak anggota perajin kain, danentah dari mana semua,
sedang mandi dalam kolam sumber air panas di sebut Mapane. Tengah para bidadari
Pujinkai sedang santai mencelup diri, duduk tidak jauh dari tepi permandian itu
adatuan Tajima. Tajima duduk di sebelah kursi kayu tua membelakangi kolam mandi
kira-kira sejauhempat meter. Serdadu Jepang yang sudah dahaga benar ini
sesekali menoleh kebelakang mencuri pandang pada gadis pemandi yang
montok-montok asli buatan alam itu, membuat serdadu Jepangtinggal menelan ludah
seraya darah tersirat.
Amang yang mandi sebelah
Utara dari pemandian para Punjinkai, yang jaraknya sekitarempat puluh meter
dengan kaum hawa itu, selesai mandi dia beranjak hendak pulang bersamateman,
berjalan di bawah bukit tempat Tajima duduk disana diatas bukit itu. Berjalan
disitu agak jauh dari kaki bukit tempat sigalak itu duduk, Amang tengah memberi
hormat lalu ia di.panggilnaik menemui Jepang yang sudah membentaknya.
Sesampainyai di situ Jepang beranjak denganmengucap Bagero seraya melepas
sekali tempelengan keras di pelipis kiri Si Amang. Amang berpura-pura
menjatuhkan diri sebagai siasat untuk jangan mendapat aprokat beruntung kiri
kanandari si keparat itu.
Sikap dan tindakan kasar
serupa itu sengaja Jepang terapkan di Indonesia . Jadi bukan cuma Amang
seorang. Peristiwa itu disampaikan pada ayahnya, ayah marah besar dan mengutuk habis,
celaka Nippon itu nanti tahun mendatang. Bila begini jelas mata ayah nampak
merah. pertanda bahwa orang tua ini merasa robek perasaannya karena anaknya
ditampar penjajah .Karena itu dalam batinnya telah yakin benar kelak tahun
depan pemerintah Fasisme Jepang akangulung tikar. Dikiranya kekerasan serdadu
itu membuat bangsa jajahan kian ikhlas bersimpuh diduli kaki maha raja Tenno
Heika. Sungguh keliru malah cuma menimbulkan kian bertambah jengkelnya
masyarakat.
Kehidupan rakyat telah
semakin perih dan compang-camping, diantaranya sudah banyak berpakain kulit
kayu mengingatkan kita seolah hidup dijaman purbakala. Selama ini orang tak
lagimelihat pedagang kain. Semuanya telah bersembunyi. Anak-anak sekolah malas
belajar akibatrasa malu pakaian penuh tambal sulam. Bagi orang tua anak, yang
masik menyimpan alat tenun ,anaknya sudah bisa berpakain kain kapas pergi
sekolah, meskipun kadang digerayapi banyaktuma, hidup disela jahitan pakaian.
Kata orang, tuma (kutu) pakaian muncul disebabkan abu dapurdigunakan sebagai
pengganti sabun, untuk mencuci pakaian.
Syukurlah, bagi Amang yang
sekolah di Palu kelas IV masih sedikit beruntung ketikaorang, banyak sudah
pakaian tambal-tambal. Kakaknya, banyak pakaian sejak zaman Belanda.Kadang ia
bercelana wool pergi sekolah, walau bukan sembarang wool. Apa artinya itu?
Artinya,celana wool terbuat dari petongan kaki celana panjang kakak, Intje
Arbe.(Intje Arbe yang sangatdibenci Belanda karena tak pernah mau bayar
blasting, diangkat Jepang jadi menteri Nantako.Sekolah di Palu, Amang duduk di
kelas IV B sebangku dengan Azis cuma 2 bulan lamanya,kemudian pindah kekelas IV
A diasuh oleh guru klas bernama Mamondo yang bersikap sebagai pemimpin itu.
Berbeda dengan guru kelas IV B namanya Sandok yang galak itu. Bila ada
muridsalah menerangkan hitungan di papan tulis, mulut orang disembur dengan air
ludahnya sang guruitu). Itulah sebabnya Amang tinggalkan teman sebangkunya Azis
(mantan BupatiDonggala/Gubernur Sulteng).
Masih dikenang pula bula
September 1943. Petang hari sebuah kereta mayat mengangkut calon jenazah dua
orang haji berasal dari Toli-Toli menuju kampung Tatura ke tempat pembantaian.
Seorang diantaranya yang namanya masih ingat adalah H. Laili. Keduanya di
tuduhsebagai mata-mata musuh (sekutu) Amerika, dan amat berbahya bagi Asia
Timur Raya. Banyakanak-anak sekolah ikut manyaksikan sebab kata Jepang harus
disaksikan oleh umum, pelaksanaan potong leher tersebut. Sadis benar kejadian
itu. Orang pertama disuruh duduk ditepi lahat, ialah H.Laili, sementara Kenpe
Tai/tukang potong itu melompat-lompat dengan samurainya dileher H.Laili, lebih
dahulu menebas batang pisang. Cuma sekali tebas terjerembatlah H. Laili
tersebut jatuh masuk dalam liang. Lalu menyusul yang satunya sebagai kambing
saja layaknya hamba Allah ini,dibuat oleh manusia kafir dan jahannam. Dia
ditarik dan dipaksa duduk di tepi lubang, walau punmenyeringai ketakutan yang
amat sangat. Sekali sikat saja batang lehernya, kendati tidak putus benar
disertai tendangan dan terhujamlah korban itu jatuh kedalam lubang kubur.
Mengerikan sekali peristiwa
potong leher itu, yang disaksikan sendiri Amang bersamateman-teman sekolahnya
seperti; Ismail, Djaro, dan banyak lagi lainnya. Kemudian dua jenazatersebut
ditutupi daun pisang seraya ditimbuni tanah bekas galian semula. Kenpe Tai mengharuskan
anak sekolah supaya hadir, meskipun itu bukan upacara sarasehan potong
tumpengserupa adat Jawa.
Beberapa bulan kemudian
setelah tebas leher diatas, hari sabtu siang bulan juli Tahun1944, udara kota
Palu dipenuhi pesawat tempur Amerika menggetarlah kota, dan terus
langsungmenuju ke arah selatan. Sejurus kemudian terdengarlah dentuman berulang
kali. Lapangan udara diSidera dijatuhi bom, sementara pekerja di lapangan udara
ini masih istirahat seusai makan tengahhari. Dalam peristiwa pengeboman itu,
dua orang pekerja dari desa Kaleke tewas masing-masing Lapareke dan Tipadongga
sedang seorang luka berat bernama ; Lasangki, tulang pahanya patah dan
pincanglah ia setelah sembuh dari rumah sakit. Pelabuhan udara yang sedang
diperbaiki itu, akibat kerusakan karena pemboman pesawat tempur Jepang, di
malam menjelang subuh, bulan Mei 1942 sebagai pertanda bakal Jepang segera
mendarat merebut kota Palu. Maka, dua bulan setelah itumendaratlah serdadu
Jepang, seperti telah diutarakan sebelumnya. Seusai peristiwa di atas,spontan
muncul perhitungan bahwa sebaiknya pindah sekolah saja di Biromaru. Sebab bukan
mustahil, kota Palu kelak akan mendapat giliran pemboman oleh tentara sekutu. Di
sinilah Amang akan menammatkan sekolah kelas V, Amang tinggal di rumah paman – MadikaMatua (Toma I Daengmaria).
Perang Pasifik kian
berkecamuk. Seiring opsir-opsir Jepang berkunjung ke Kaleke , antara lain Kenpe
Tai Sirabayasi. Perkunjungan opsir serdadu Nippon ini, dengan maksud tertentu,
sebab mereka sudah mengerti bahwa disini masih ada bekas anti penjajah, bekas
buangan, dan bekas pembunuh berpuluh serdadu kompeni, yang utama sekali dua
pejabat,yang menurut istilah jaman Belanda tempo dulu: “ Datu yang tak Pernah
Mau Jinak ”. Sudah Tentu bukan hal mustahil, padasuatu hari ketika kelak,
bangsa kita pun akan mereka benci lalu mengusirnya dari sini,
sebabmenganggapnya juga sebagai bangsa penjajah sama dengan penjajah bangsa
Belanda demikianotak jepang itu berpendapat.
Ken Petai Sirabayasi telah
mencurigai Gunco Dolo Rajamuda Datupamusu. Sirabayasitahu Gunco Dolo
menyembunyikan adiknya Radjagunu setelah dapat meloloskan diri sewaktuhendak
disembelih/dipotong lehernya oleh Jepang, sesaat mertuanya raja Todjo
Tadjombulu sedang dilaksanakan penebasan batang lehernya. Kenpe Tai mengerti
bahwa Radjagunu algojo Sirabayasi itu paham benar kalau Gunco bersama adik-adik
sepupunya tak pernah mau bermesra,menggauli bangsa penjajah sejak penjajah
kolonial Belanda sampai pada penjajah baru tentarafasisme Jepang kini. Justeru
itu mereka tetap siap menantang, terutama moral kaum wanita yangtergabung dalam
organisasi pujinkai.Di atas Madika Tandjombulu telah dibicarakan sebagai
penguasa kerajaan Todjo. Pembacamungkin bertanya mengapa bangsawan dari Tanah
Kaili bisa diangkat jadi raja (Magau)Todjo/Ampana waktu itu, sedang sekarang
ini kawasan tersebut adalah wilayah Kabupaten Poso.Jawabnya, memang kisah ini
berlaku waktu dahulu di jaman kekuasaan raja-raja (Swapraja) di bawah
pengawasan bangsa penjajah Belanda. Kkarena Todjo/Ampana dan sekitarnya
termasukwilayah Kaili menurut sejarah, sudah tentu Madika dari tanah Kaililah
yang merasa berhak jadi penguasa di sana dan terakhir raja Todjo, Tandjombulu
(cucu dari raja Dolo-Sigi Lolontemenesekandung raja Lolu Arungtasik, alias
Aruntasi) ditebas batang lehernya oleh samurai Kenpe Tai Jepang.
Dirembang petang
Hari selasa minggu pertama
November, Amang bersama teman-teman sedang asyik memandang dari kejauhan,
beberapa buah pesawat tempur sekutu merajai angkasa kota Palu.Pesawat berwarna
hitam itu sesekali nampak terbang menukik dan bila begitu terdengarlahdentuman
dahsyat mengerikan Amang bersama teman-temannya menyaksikan peristiwa itu,
beradadi bawah pohon kelapa sebelah barat rumah paman tempat ia menumpang
selama sekolah diBiromaru. Bebas benar pesawat tempur Amerika membom toko dan
rumah penduduk. Tiada hambatan karena Jepang tidak memiliki meriam penangkis
udara walau sebuah pun juga.
Atas perintah guru
Winerungan, Amang membawa anak-anak sekolah dari Biromaru kePalu untuk
memadamkan api akibat pembomam sekutu petang tadi. Pukul 07.00 malam Amang dengan
barisan remaja teman sekolahnya tiba di kota. Kota yang gelap karena selama 40
tahunkurang lebih dijajah Belanda, penjajah itu tidak sanggup mengadakan
perlistrikan. Apalagi penjajah pengganti ini sudah tiga tahun rakyat cuma pakai
lampu berasal dari buah jarak (poindo pelo Bahasa Kaili), akibat telah
bersembunyinya pedagang minyak tanah dan lain-lain barangdagangan.
Sedang menuju kota seberang
kota pusat pertokoan yang dibumi hanguskan bom tentara udara sekutu,
sekonyong-konyong barisan pelajar itu dibentak; “kuraa .... pigi mana, kaa.. ?” dan
bentakan keras seperti itu membuat betapa terperanjatnya Amang bersama
rekan-rekannya. Sekilas mereka terpencar berhamburan cari perlindungan dalam
belukar jati kecil-kecil, yang tumbuh sebelah kiri kanan jalan (sebelah timur
kantor CPM sekarang), Amang melompat ke Arah kanan berlindung di sebatang pohon
besar yang kebetulan disitu tempat si pembentak tadi.
Ternyata yang membentak
adalah Nurayama dengan seragam militer Jepang, hebat jugadia kali ini. Dan
setelah saling mengerti, Amang bicara langsung bersama kawannya ke tempat tujuan.
Tiada seorang pun lagi penghuni kota dan semua sudah membawa nyawanya
berlari-lari pergi entah kemana saja karena takut yang amat.
Yang ditemui disini cuma ada
dua orang serdadu Jepang Hitachi dan Mioru, keduanya bisa menjinakkan sebuah
bom sampai tidak meledak ketika jatuh didepan rumah eks Asisten H.
Sunusi.Selesai mengumpul mayat serta mencari korban-korban lainnya anak-anak
sekolah ini pamit pulang pada serdadu yang sedang mengawasi bom terlentang di
tengah jalan itu. Kagum benar akumelihat keberanian serdadu Jepang itu. Masa
senjata bembunuh maha dasyat ledakannya bisadigagalkan begitu saja sampai di
tanah, demikian Amang memuji sahabatnya, sahabat ketika iamasih sekolah di Palu
tempo hari sebelum pindah sekolah di Biromaru.
Banyak betul manusia Cina
tewas. Di depan Mesjid Arab seorang korban tewas dalam selokan badannya tidak
lagi utuh. Kepalanya terbang entah kemana tidak lagi diketemukan. Cumayang
menggelikan serdadu Jepang tadi, melihat Amang terjerat masuk got berair limbah
busuk akibat terkejut yang amat sangat . dia membuka daun kelapa penutup korban
di tepi jalan. Ternyata sosok mayat terlentang menengadah dengan mulut terbuka
lebar. Sebab itulah kedua serdadu Nippon tertawa setengah mati seraya memapah
Amang bangkit berdiri basah kuyup dan penuh lumpur yang berbau bukan main.
Pemboman kedua kalinya berlangsung siang hari. Anak sekolah dari Biromaru pergi memadamkan api . Tidak seorang pun teman sekolah Amang tempo doloe bertemu dia. Entah kemana mereka pergi mengungsi dan selama berpisah sekolah tak pernah lagi jumpa.Di Biromaru pun sekolah di bawah pohon mangga di tengah belukar rimbun sebelah timur agak sekilometer lebih dari gedung sekolah semula. Bersekolah disini seperti tak ada waktu lowong untuk tenang belajar. Sebab hampir tiap hari udara penuhi pesawat-pesawat udara sekutu. Tak adasebutir peluruh Jepang pun keluar menembaki pesawat musuh meskipun musuh tersebut seringmemberaki batok kepala mereka dari udara.
Amang kembali
mengingat-ingat ramalan ayahnya tiga tahun yang lalu, yang mengatakan Jepang
menjajah lamanya cuma seumur jagung, kemudian pergi lari dari sini semoga ada
benarnya.Sebab jika tidak benar dia pasti dikirim kependidikan militer yang
dikatakan orang Kai In Yosei Joentah dimana nanti, sementara yang lulus testing
itu sudah diperintahkan siap-siap saja menunggu keberangkatan . Amang lulus
bersama beberapa teman sekolah antara lain Lahasim dan Husen.Andai kata jadi
berangkat kependidikan sementara disitu perang semakin berkecamuk begini,
berarti sebuah kematian bakal ditemukan.
Bertambah gelisah Amang
setelah mendengar desas desus orang bahwa ayahnya empat bersaudara serta
seorang keponakan (Goncu Dolo) telah dileshitamkan untuk menerima hukuman
pancung, sebab dianggap selaku mata-mata musuh Amerika. Mereka adalah
Datupamusu,Datupalinge, Gagaramusu, Lapasere dan Goncu Radjamuda (putra
Datupamusu eks Magau Dolo).Mendengar berita tersebut Goncu Dolo cuma bilang
begini :
“sudah tentu hal
itu karena laporan dan fitnah penjilat-penjilat pantat Belanda dahulu dan
pantatnya Nippon sekarang ini. Sejak jaman dulu orang tua kita takan dijajah”
Demikian Gunco Dolo R.M Datupamusu kepada adik sepupunya Amang sesaat Goncu
berada di rumah pamannya Datupalinge.
Begitulah sifat hidup
manusia pendendam, memfitnah itu amatlah mudah baginya seperti saja dilihatnya
sendiri orang bakal difitnah itu, sudah menerima tugas dari tentara sekutu.
Sudah begitukah manusia dilaknat Tuhan. Begitulah tentara Jepang mengerti dan
mengerti benar siapadan bagaimana kekerasan kepada pemimpin yang sudah tua.
Selama keberadaan bangsa Belanda didaerah ini. Yang jelas mereka hanya tunduk
pada tubuhnya saja namun jiwa mereka bersamaseluruh rakyat dalam wilayah
kekuasaan mereka, tetap bergejolak ingin selalu memberontakmenghalau penjajah
bangsa asing.
Jiwa patriotisme para
pemimpin itu tidak pernah kendur sementara Magau sebagai pejabat pribumi di
kerajaan terdekat dengan kerajaan Dolo kian mengandalkan kekuatan serdadu
kompeni guna menaklukkan perlawanan bersenjata dan berlanjut dengan pengasingan
para tokoh pejuang penyebar paham partai politik. Karena menganggap wadah
perjuangan bagai itu sungguh merupakan sembilu tajam yang sangat mudah
mengoyak-ngoyak batin serta menyelusup keseluruh relung hati manusia-manusia
pejabat pribumi berhati penjajah.
Bekas penguasa kerajaan
Dolo inilah yang paling lama dan berulang-ulang mengadakan perlawanan bertempur
dengan serdadu Belanda di wilayah kekuasaannya. Bahkan pertempuran atau
perlawanan rakyat di kawasan lain mereka pergi secara suka rela membantunya
bersama-samadengan para Tadolako harapan seperti perlawanan Raja Bulu Bale,
Malonda, Raja Tombolotutu Moutong, Rakyat Dampalas-Sojol, Dombu, Raja Kulawi,
perlawanan rakyat Sigi dipimpin MadikaMalolo Lamasatu atas prakarsa bersama
dengan dua orang yang bernama awal Datu penguasakerajaan Dolo yang bersikap
tunduk dulu tapi selamanya tetap menanduk pula.
Tindakan zalim yang
diperlihatkan oleh pemerintah fasisme tentara Dai Nippon kepada bangsa
jajahannya telah sering terjadi dimana-mana terutama di pulau Jawa. Dari sini
ratusan romusha dikirim ke daerah lain di pekerjakan secara paksa membuat
manusia romusha menjadi kurus kering tinggal kulit pembalut tulang.
JEPANG SUDAH MULAI LOYO.
Pemerintah atau penguasa
yang gemar melakukan kezaliman biasanya cepat mendapat kutukan serta palu
godamnya yang maha kuasa, benar demikian dan bila hal serupa itu akan terjadi.
Nah, berpasrahlah kepada-Nya kepastian akan datang dengan sendirinya jika yang
maha adil telah menepati janji-Nya Tuhan akan menghapus kekejaman manusia akan
manusia lainnya di atas dunia ini. Dan untuk menghilangkan dan menyelamatkan
kesewenangan serupa iti kita harus terus berusaha dan bekerja demi untuk itu
semua.
Pemerintah Jepang seperti
tidak lagi mempedulikan hidup dan kehidupan rakyat, kendati rakyat sudah
semakin compang-camping terutama rakyat petani selama tiga tahun ini, telah
berbagai macam bentuk penderitaan yang dialami menerjang kehidupan masyarakat.
Suatuterjangan nan sungguh memilukan hati dan barangkali karena itu semua
kepada Madika tua Datupalinge salah seorang calon pancung leher itu,
orang-orang selalu datang bertanya apakahmasih lama Nippon ini memerintah.
Kalau masih lama baiklah kita memberontak seperti kitalakukan acapkali di zaman
Belanda. Memang semakin nampak nilai kehidupan masyarakat seolahmulai rapuh dan
semuanya sudah porak-poranda oleh penguasa pemerintah Jepang secara
habis-habisan. Apa saja kehendak sang penjajah itu pada bangsa jajahannya
dengan dukungan penjilat boleh saja mereka buat seperti hewan sembelihan
demikian pikir Amang. Amang lalu berpikir tentang masa depannya yang kelabu,
hendak kemana dan sampai dimana kelak ia bisa bertahandalam hidup ini dibawah
pergi tentara Nippon ke pendidikan “Kai In Yosewi Jo” di tengah dunia dilanda
perang semakin gila ini. Terpikir olehnya bagaimana nanti nasib ayah dan
pamannya sertakakak sepupunya Gunco Dolo RM. Datupamusu yang semuanya sudah
bakal dimakan samurai algojo Nippon.
Amang membayangkan semua
kejadian sangat mengerikan itu bakal datang, bila sudah terpikir demikian
hatinya serasa menjadi luluh lantak semangatnya sekilas jadi buyar. Disisi
lainkhawatir pula dia andai kata perintah berangkat kependidikan tiba-tiba
diterimanya. Bila sudah demikian hendak mau bilang apa. Sudah amat jauh Amang
merenung lalu merasa ngeri sendiri. Diarenungi peristiwa silam yang sungguh
kejam dan sadis menimpa batang leher H. Laili dengan seorang temannya dari
Toli-Toli yang mana penebasan leher manusia itu ditonton banyak orang.
Karena saking resah tak
terkendalikan lagi, Amang pergi kePalu hanya karena hal ikhwal yang
menggelisahkan selama ini. Ditemuinya sahabatnya bangsa Nippon itu Hiroshin dan
Mitsuodi Tangsi Besusu. Atas penjelasan kedua orang Heiteisan (serdadu) ini,
Amang merasa sungguh menjadi lega seketika olehnya itu seakan dia mau melompat
karena girang. Tapi Amang tidaksampai begitu sikapnya. Sebab diketahuinya pula
pasti Heitaisan tersebut merasa tersinggung jadinya. Menurut Hirochin semua
keputusan Bunken Kanrikan dibatalkan atas perintah Jenderal Hitosyi Imamura dan
perdana Menteri Hideki Tojo yang tahun 1944 datang di Betawi.
Pemerintah militer Jepang
ini nampaknya seperti daun layu, barangkali itulah sebabmereka melampiaskan
dengan cara main pukul tempeleng terhadap rakyat. Kekasaran serupa
ini dianggapnya sebagai cendra mata buat daerah jajahan untuk selalu dikenang
sewaktu-waktuwalaupun sudah puluhan tahun berpisah. Seperti tidak lagi mereka
hiraukan rombongan pesawat- pesawat pergi dan datang berakrobatik di angkasa
kota Palu, memancing kalau-kalau ada pelurumeriam penangkis udara disemprotkan
Jepang dari bawah, ternyata tak ada sama sekali. MemangJepang menyerbu kemari
cuma pakai senjata ringan disamping keberanian yang luar biasa.
Sanggupkah ayah bersama
para calon lainnya akan melawan bila munculnya tiba-tibaseperti tempo dulu,
ketika mereka selalu membawa rakyatnya bersatu melawan serdadu
Kompeni.Barangkali benar juga kata ayah beberapa waktu lalu bahwa Jepang tidak
akan berani melakukan kekejaman atas mereka, begitu kata ayah. Sesaat mendengar
berita yang santer di desas-desuskan.Hanya tukang fitnah itu saja
disembelihbatang lehernya kata ayah, sembari geram.
Apakah ayah tahu siapakah
pelaku yang tampil sebagai tukang fitnah itu. Tapi beliau tidak kabarkan. Cukup
mereka saja sebagai calonnya saja mengetahuinya. Tentu itu musuh kami jaman
Belanda dulu, kata ayah pula yakin. Siapa lagi kalau bukan mereka! Sambung Ayah
tambah yakin.
Bunken Kanrikan yang telah
beberapa bulan tinggal di Dolo, beberapa hari lalu telah kembali ditempat
semula (Palu). Ini berarti, atau petanda bahwa Jepang tidak lagi datang
mampu meneruskan perang Dai Toesenso-nya, melawan tentara sekutu himpunan dari
beberapa negara besar eropa.
Angkasa kota Palu
sekitarnya telah sepi selama beberapa minggu lewat ini. Pesawat sekutu tidak
lagi datang sebab mungkin sudah menganggap percuma karena perlawanan Jepang
tidak pernah ada. Petang itu hari minggu tanggal 15 Juni 1945, Amang baru kembali
ke Kaleke dari Biromaru setelah pagi tadi kesana untuk mohon pamit pada paman
Madika Matua seisi rumah tempat dia numpang selama sekolah menamatkan SD-nya
disana.
Untuk melepaskan lelahnya,
Amang duduk di kursi jati tua milik khusus tempat duduk ayahnya, dekat jendela
menghadap jalan. Amang duduk tenang disitu, menelentangkan kakinya kakinya di
atas palang jendela. Tak ada seorang pun dalam rumah ketika ia datang beberapa
oranglalu-lalang di jalan seperti tidak dihiraukannya. Di antaranya ada
orang-orang Jepang sepertiKatairi, Tajima dan seorang lagi yang masih asing
bagi Amang karena mungkin serdadu Jepangkesasaran mereka itu, tentu dari rumah
om Danco Daeng Mangeran.
Ketika serdadu Jepang itu
lewat, Amang cuma membuang mukanya kearah lain karena takmau lagi memberi
hormat kepada Jepang itu, jawab hatinya telah dijangkiti oleh perasaan
jengkel,mendengar orang tuanya bakal dipancung itu.
Suatu pagi awal bulan Juli, ayahnya berkata begini ;”tidak lama lagi bangsa
kita dapat rejeki besar dan mulia, ini mimpiku tadi malam, dan semoga ada buktinya nanti!”
begitu bicaraayah selesai shalat
subuh. Mendengar ayahnya, Amang bertanya dalam hati, apakah ayah
takutmengatakan kebebasa atau kemerdekaan bangsa. Tapi tidak! Ayahku tidak
pernah takut sejak penjajahan Belanda tempo dulu. Kalau takut, cuma ayah
mungkin ikut-ikutan bertempur bersamakakaknya Datupamusu berkali-kali melakukan
perlawanan sampai akhirnya karena digencet dandiasingkan agar tak boleh lagi
menguasai wilayah Dolo sampai kerajaan mereka kuasai.
Begitulah kiranya arti
mimpi ayah si Amang yang merenung ini. Dan Amang lalu mencatat tanggal 5 Juli
1945 peristiwa mimpi ayahnya. Memang sejak pertengahan tahun lalu
dikalangan sipil dan militer Jepang telah mendapat firasat bahwa kekalahan sudah
tak bisa lagi dihindarkan. Cuma bagaimana caranya ditempuh, hingga kekalahan
itu bisa disebut, kalah terhormat. Ucapan seperti itulah mereka inginkan.
Sementara ada seorang perwira Kolonel Makoto Mitsutani, anggota staf umum
angkatan darat berusaha menyakinkan P.M. Hideki Tojo agar Jepang minta berdamaisaja
lebih baik. Akibat usul perwira tersebut, besok harinya dia digiring ke medan
perang di daerahcina.
Puluhan kota-kota besar
kecil di Jepang telah hancur bersama korban manusia dan salahsatu diantaranya
kota Nagoya. Jepang menderita parah dan rapuh akibat timpahan kelaparan yang melanda
negeri Sakura No Hana itu.
Tanggal 22 Juni lalu, kota
Okinawa diduduki oleh tentara sekutu Amerika dan semakin membawa malapetaka
bagi negeri, saudara tua. Berkaitan dengan penghancuran hampir semua wilayah
Jepang sana, di Indonesia pun sudah pula mengalami bencana serupa. Berkali-kali
telah mengalami pemboman dan penghancuran termasuk moral bangsa penghuni ribuan
pulau ini. Telah amat banyak tugas yang sudah dapat diselesaikan, teristimewa
negeri Jepang. Ya, kalau negeriJepang saja, biar lebur jadi laut, masa bodoh.
Sebagai akhir dan setelah
ribuan liter darah mambasahi bumi negeri Jepang dan bumi Indonesia selaku
negeri jajahan tentar Nippon, maka tentara sekutu menjatuhkan bom atom di atas kota
Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 – 9 Agustus 1945. Pada hari penghancuran
itu, diIndonesia segera pula tersebar berita tersebut, sehingga makin loyolah
Bun Ken Kanrikan Palu. bersama serdadunya.
Tanggal 15 Agustus tahun
yang sama, kaisar Hirohito selaku Tenno Heika menyerah kalah tanpa syarat pada
tentara sekutu. Mendengar itu semua pemimpin bangsa Indonesia yang sejak lama
merindukan kemuliaan, kebersamaan seperti bangsa yang tidak pernah mengalami
penjajahan, mengucapkan “Alhamdulilah”. Yang paling gembira ketika itu ialah
mereka yang sudah jadi calon tebas leher seperti Datupalinge, Datupamusu,
Gagaramusu dan Goncu Dolo R.M.Datupamusu, tinggallah si pelapor serta pendendam
pada mereka itu, menggigit bibir.
Benar juga kata ayah bahwa
Jepang menjajah lamanya hanya seumur jagung, tafsiran ayah seperti itu telah
banyak di bicarakan diatas jauh sebelum cerita perang pasifik ini berakhir
hingga disini. Dua hari kemudian kemerdekaan bangsa Indonesia di proklamasikan
oleh Bung Karno Dan Bung Hatta.
Disalin Kembali Sesuai Aslinya ; oleh Moh. Takdir Tembandjobu
Sumber : Sekilas Sejarah Perlawanan Rakyat di Tanah Kaili
0 comments:
Posting Komentar