Minggu, 26 Januari 2025

Sekilas Sejarah Perlawanan Rakyat di Tanah Kaili (4)

Silahkan bagikan :
۞ السَّــــــلاَمُ عَلَيْــــــكُمْ وَرَحْمَــةُ اللــــهِ وَبَرَكَاتُــــــــــهُ ۞
۞ بســـــــــــــم اللّـــه الرّحمٰن الرّحيـــــــــــــم ۞
-------------------------------------------------------------

 

Sekilas Sejarah Perlawanan Rakyat di Tanah Kaili

( Bagian 4 )

Oleh : Daeng Mangesa Datupalinge

 

MASA PENDUDUKAN JEPANG

          Pada tanggal 6 juli 1942 jepang menginjakkan kakinya di bumi Kaili ini, untuk menggantikan kedudukan pemerintah Hindu Belanda. Pagi hari waktu itu sebuah kapal armada jepang merapat dan bersandar di dermaga Limbuo/Talise Palu, bersama suatu kompi balatentaranya di pimpin seorang perwira bernama Takuda Myamoto. Mneurut cerita, sebelum jepangitu kemari, lebih dahulu mendarat di Toli-Toli secara singkat saja serdadu jepang ini mengadakan konsolidasi hingga dalam waktu tidak berapa lama tentara Dai Nipon itu telah dapat membentuk pemerintahan sipil dan dikepalai oleh seorang Bunken Kanrikan setingkat wedana bernama Obano, perwira angkatan laut. Orang kedua selaku pimpinan administrasi adalah seorang bintara berbaju sipil bernama Murayama berusia 25 thn. Menurutnya, dia baru selesai ikut pendidikan militer, terusdikirim ke medan tempur untuk kepentingan Asia Timur Raya. Seorang lagi bintara berbadan tinggisemampai bernama Katagiri, tugasnya di bidang pertanian (Toyobo), dan seorang militer bernamaTajima, kadang mewakili Toyobo selain mengurusi seni nyayi, dengan anggota-anggota pujinkai.Acap pula, dia mengadakan latihan baris-berbaris pada pujinkai dimaksudAmat senang si Tajima ini bergaul dengan gadis-gadis alam penghuni kampung ini, yang menurutTajima, nona-nona tahu adat dan budaya. (Kategori tentara jepang seperti itu, cuma bisa buattempo doloe, saja tentu tidak untuk sekarang).

          Di bidang kepemudaan khusus wilayah Distrik (Gunco) Dolo, Bunken Kanrikan mengangkat Daeng Mangerang-Gs sebagai Bun Danco (kepala pemuda).Bun Danco ini berhasilmembina para pemuda (Seinendan), dan kepada kader pemuda-pemuda Bun Danco tersebut seringmemberi pengertian ,tentang perlunya kita melatih fisik dan mental, tidak selamanya kita semuaini, hidup dalam tekanan lahir dan batin, disebabkan sikap dan tindakan penjajah, demikian BunDaco Daeng Mangerang. Berarti ia pun telah mengisi rohani para Sinendan agar mulai mengertinilai hidup serta martabat bangsa.

          Tahun 1943, Rakyat sudah mulai panen kapas, dan ulat sutera, kedua jenis hasil panen itu seluruhnya diserahkan pada pemerintah Jepang dengan harga yang minim, sesuai berat timbangan.Berapa puluh pikul kapas kering jika cuma setengah hektar, beberapa pikul pula berat kekompong-kepompong kering andai hanya sekarung dua?. Melihat keadaan begitu kadang kita merasa prihatinterhadap para petani yang nampak tinggal berwajah hampa dan muram ketika menerima hasil jerih payah cuma sekian puluh rupiah, sementara seusai dibayar, barang produknya diangkut.. Tidakseluruhnya buah kapas tersebut dibeli atau ditimbang, sebab cuma yang putih bersih. Sedang yangkuning-kuningan (afker), itulah yang bakal ditunggu oleh sang pemiliknya, guna dijadikan benangtenun untuk pakaian.

          Amang (nama panggilan penulis kisah ini) lebih lagi merasa bila mengerti hasil hasil panen kapas dan ulat sutra ayah bundanya tidak jadi. Artinya kalau sepuluh karung kapas kering yang ditimbang 5 karung. Sementara ulat sutra tidak sempat membungkus diri dengan air liurnya melaluisel jaringan tubuhnya kemudian binatang itu mati, bila sudah demikian halnya, Jepang lalu berangdan membentak petani dengan; Bagero .......! memang serdadu Dai Nipon sangat kejam, sekejam macan tutul, kata orang..

          Suatu petang pada Bulan Desember di Mantikole. Disitu banyak anggota perajin kain, danentah dari mana semua, sedang mandi dalam kolam sumber air panas di sebut Mapane. Tengah para bidadari Pujinkai sedang santai mencelup diri, duduk tidak jauh dari tepi permandian itu adatuan Tajima. Tajima duduk di sebelah kursi kayu tua membelakangi kolam mandi kira-kira sejauhempat meter. Serdadu Jepang yang sudah dahaga benar ini sesekali menoleh kebelakang mencuri pandang pada gadis pemandi yang montok-montok asli buatan alam itu, membuat serdadu Jepangtinggal menelan ludah seraya darah tersirat.

          Amang yang mandi sebelah Utara dari pemandian para Punjinkai, yang jaraknya sekitarempat puluh meter dengan kaum hawa itu, selesai mandi dia beranjak hendak pulang bersamateman, berjalan di bawah bukit tempat Tajima duduk disana diatas bukit itu. Berjalan disitu agak jauh dari kaki bukit tempat sigalak itu duduk, Amang tengah memberi hormat lalu ia di.panggilnaik menemui Jepang yang sudah membentaknya. Sesampainyai di situ Jepang beranjak denganmengucap Bagero seraya melepas sekali tempelengan keras di pelipis kiri Si Amang. Amang berpura-pura menjatuhkan diri sebagai siasat untuk jangan mendapat aprokat beruntung kiri kanandari si keparat itu.

          Sikap dan tindakan kasar serupa itu sengaja Jepang terapkan di Indonesia . Jadi bukan cuma Amang seorang. Peristiwa itu disampaikan pada ayahnya, ayah marah besar dan mengutuk habis, celaka Nippon itu nanti tahun mendatang. Bila begini jelas mata ayah nampak merah. pertanda bahwa orang tua ini merasa robek perasaannya karena anaknya ditampar penjajah .Karena itu dalam batinnya telah yakin benar kelak tahun depan pemerintah Fasisme Jepang akangulung tikar. Dikiranya kekerasan serdadu itu membuat bangsa jajahan kian ikhlas bersimpuh diduli kaki maha raja Tenno Heika. Sungguh keliru malah cuma menimbulkan kian bertambah jengkelnya masyarakat.

          Kehidupan rakyat telah semakin perih dan compang-camping, diantaranya sudah banyak berpakain kulit kayu mengingatkan kita seolah hidup dijaman purbakala. Selama ini orang tak lagimelihat pedagang kain. Semuanya telah bersembunyi. Anak-anak sekolah malas belajar akibatrasa malu pakaian penuh tambal sulam. Bagi orang tua anak, yang masik menyimpan alat tenun ,anaknya sudah bisa berpakain kain kapas pergi sekolah, meskipun kadang digerayapi banyaktuma, hidup disela jahitan pakaian. Kata orang, tuma (kutu) pakaian muncul disebabkan abu dapurdigunakan sebagai pengganti sabun, untuk mencuci pakaian.

          Syukurlah, bagi Amang yang sekolah di Palu kelas IV masih sedikit beruntung ketikaorang, banyak sudah pakaian tambal-tambal. Kakaknya, banyak pakaian sejak zaman Belanda.Kadang ia bercelana wool pergi sekolah, walau bukan sembarang wool. Apa artinya itu? Artinya,celana wool terbuat dari petongan kaki celana panjang kakak, Intje Arbe.(Intje Arbe yang sangatdibenci Belanda karena tak pernah mau bayar blasting, diangkat Jepang jadi menteri Nantako.Sekolah di Palu, Amang duduk di kelas IV B sebangku dengan Azis cuma 2 bulan lamanya,kemudian pindah kekelas IV A diasuh oleh guru klas bernama Mamondo yang bersikap sebagai pemimpin itu. Berbeda dengan guru kelas IV B namanya Sandok yang galak itu. Bila ada muridsalah menerangkan hitungan di papan tulis, mulut orang disembur dengan air ludahnya sang guruitu). Itulah sebabnya Amang tinggalkan teman sebangkunya Azis (mantan BupatiDonggala/Gubernur Sulteng).

          Masih dikenang pula bula September 1943. Petang hari sebuah kereta mayat mengangkut calon jenazah dua orang haji berasal dari Toli-Toli menuju kampung Tatura ke tempat pembantaian. Seorang diantaranya yang namanya masih ingat adalah H. Laili. Keduanya di tuduhsebagai mata-mata musuh (sekutu) Amerika, dan amat berbahya bagi Asia Timur Raya. Banyakanak-anak sekolah ikut manyaksikan sebab kata Jepang harus disaksikan oleh umum, pelaksanaan potong leher tersebut. Sadis benar kejadian itu. Orang pertama disuruh duduk ditepi lahat, ialah H.Laili, sementara Kenpe Tai/tukang potong itu melompat-lompat dengan samurainya dileher H.Laili, lebih dahulu menebas batang pisang. Cuma sekali tebas terjerembatlah H. Laili tersebut jatuh masuk dalam liang. Lalu menyusul yang satunya sebagai kambing saja layaknya hamba Allah ini,dibuat oleh manusia kafir dan jahannam. Dia ditarik dan dipaksa duduk di tepi lubang, walau punmenyeringai ketakutan yang amat sangat. Sekali sikat saja batang lehernya, kendati tidak putus benar disertai tendangan dan terhujamlah korban itu jatuh kedalam lubang kubur.

          Mengerikan sekali peristiwa potong leher itu, yang disaksikan sendiri Amang bersamateman-teman sekolahnya seperti; Ismail, Djaro, dan banyak lagi lainnya. Kemudian dua jenazatersebut ditutupi daun pisang seraya ditimbuni tanah bekas galian semula. Kenpe Tai mengharuskan anak sekolah supaya hadir, meskipun itu bukan upacara sarasehan potong tumpengserupa adat Jawa.

          Beberapa bulan kemudian setelah tebas leher diatas, hari sabtu siang bulan juli Tahun1944, udara kota Palu dipenuhi pesawat tempur Amerika menggetarlah kota, dan terus langsungmenuju ke arah selatan. Sejurus kemudian terdengarlah dentuman berulang kali. Lapangan udara diSidera dijatuhi bom, sementara pekerja di lapangan udara ini masih istirahat seusai makan tengahhari. Dalam peristiwa pengeboman itu, dua orang pekerja dari desa Kaleke tewas masing-masing Lapareke dan Tipadongga sedang seorang luka berat bernama ; Lasangki, tulang pahanya patah dan pincanglah ia setelah sembuh dari rumah sakit. Pelabuhan udara yang sedang diperbaiki itu, akibat kerusakan karena pemboman pesawat tempur Jepang, di malam menjelang subuh, bulan Mei 1942 sebagai pertanda bakal Jepang segera mendarat merebut kota Palu. Maka, dua bulan setelah itumendaratlah serdadu Jepang, seperti telah diutarakan sebelumnya. Seusai peristiwa di atas,spontan muncul perhitungan bahwa sebaiknya pindah sekolah saja di Biromaru. Sebab bukan mustahil, kota Palu kelak akan mendapat giliran pemboman oleh tentara sekutu. Di sinilah Amang akan menammatkan sekolah kelas V, Amang tinggal di rumah paman –  MadikaMatua (Toma I Daengmaria).

          Perang Pasifik kian berkecamuk. Seiring opsir-opsir Jepang berkunjung ke Kaleke , antara lain Kenpe Tai Sirabayasi. Perkunjungan opsir serdadu Nippon ini, dengan maksud tertentu, sebab mereka sudah mengerti bahwa disini masih ada bekas anti penjajah, bekas buangan, dan bekas pembunuh berpuluh serdadu kompeni, yang utama sekali dua pejabat,yang menurut istilah jaman Belanda tempo dulu: “ Datu yang tak Pernah Mau Jinak ”. Sudah Tentu bukan hal mustahil, padasuatu hari ketika kelak, bangsa kita pun akan mereka benci lalu mengusirnya dari sini, sebabmenganggapnya juga sebagai bangsa penjajah sama dengan penjajah bangsa Belanda demikianotak jepang itu berpendapat.

          Ken Petai Sirabayasi telah mencurigai Gunco Dolo Rajamuda Datupamusu. Sirabayasitahu Gunco Dolo menyembunyikan adiknya Radjagunu setelah dapat meloloskan diri sewaktuhendak disembelih/dipotong lehernya oleh Jepang, sesaat mertuanya raja Todjo Tadjombulu sedang dilaksanakan penebasan batang lehernya. Kenpe Tai mengerti bahwa Radjagunu algojo Sirabayasi itu paham benar kalau Gunco bersama adik-adik sepupunya tak pernah mau bermesra,menggauli bangsa penjajah sejak penjajah kolonial Belanda sampai pada penjajah baru tentarafasisme Jepang kini. Justeru itu mereka tetap siap menantang, terutama moral kaum wanita yangtergabung dalam organisasi pujinkai.Di atas Madika Tandjombulu telah dibicarakan sebagai penguasa kerajaan Todjo. Pembacamungkin bertanya mengapa bangsawan dari Tanah Kaili bisa diangkat jadi raja (Magau)Todjo/Ampana waktu itu, sedang sekarang ini kawasan tersebut adalah wilayah Kabupaten Poso.Jawabnya, memang kisah ini berlaku waktu dahulu di jaman kekuasaan raja-raja (Swapraja) di bawah pengawasan bangsa penjajah Belanda. Kkarena Todjo/Ampana dan sekitarnya termasukwilayah Kaili menurut sejarah, sudah tentu Madika dari tanah Kaililah yang merasa berhak jadi penguasa di sana dan terakhir raja Todjo, Tandjombulu (cucu dari raja Dolo-Sigi Lolontemenesekandung raja Lolu Arungtasik, alias Aruntasi) ditebas batang lehernya oleh samurai Kenpe Tai Jepang.

 

Dirembang petang

          Hari selasa minggu pertama November, Amang bersama teman-teman sedang asyik memandang dari kejauhan, beberapa buah pesawat tempur sekutu merajai angkasa kota Palu.Pesawat berwarna hitam itu sesekali nampak terbang menukik dan bila begitu terdengarlahdentuman dahsyat mengerikan Amang bersama teman-temannya menyaksikan peristiwa itu, beradadi bawah pohon kelapa sebelah barat rumah paman tempat ia menumpang selama sekolah diBiromaru. Bebas benar pesawat tempur Amerika membom toko dan rumah penduduk. Tiada hambatan karena Jepang tidak memiliki meriam penangkis udara walau sebuah pun juga.

          Atas perintah guru Winerungan, Amang membawa anak-anak sekolah dari Biromaru kePalu untuk memadamkan api akibat pembomam sekutu petang tadi. Pukul 07.00 malam Amang dengan barisan remaja teman sekolahnya tiba di kota. Kota yang gelap karena selama 40 tahunkurang lebih dijajah Belanda, penjajah itu tidak sanggup mengadakan perlistrikan. Apalagi penjajah pengganti ini sudah tiga tahun rakyat cuma pakai lampu berasal dari buah jarak (poindo pelo Bahasa Kaili), akibat telah bersembunyinya pedagang minyak tanah dan lain-lain barangdagangan.

          Sedang menuju kota seberang kota pusat pertokoan yang dibumi hanguskan bom tentara udara sekutu, sekonyong-konyong barisan pelajar itu dibentak; “kuraa .... pigi mana, kaa.. ?” dan bentakan keras seperti itu membuat betapa terperanjatnya Amang bersama rekan-rekannya. Sekilas mereka terpencar berhamburan cari perlindungan dalam belukar jati kecil-kecil, yang tumbuh sebelah kiri kanan jalan (sebelah timur kantor CPM sekarang), Amang melompat ke Arah kanan berlindung di sebatang pohon besar yang kebetulan disitu tempat si pembentak tadi.

          Ternyata yang membentak adalah Nurayama dengan seragam militer Jepang, hebat jugadia kali ini. Dan setelah saling mengerti, Amang bicara langsung bersama kawannya ke tempat tujuan. Tiada seorang pun lagi penghuni kota dan semua sudah membawa nyawanya berlari-lari pergi entah kemana saja karena takut yang amat.

          Yang ditemui disini cuma ada dua orang serdadu Jepang Hitachi dan Mioru, keduanya bisa menjinakkan sebuah bom sampai tidak meledak ketika jatuh didepan rumah eks Asisten H. Sunusi.Selesai mengumpul mayat serta mencari korban-korban lainnya anak-anak sekolah ini pamit pulang pada serdadu yang sedang mengawasi bom terlentang di tengah jalan itu. Kagum benar akumelihat keberanian serdadu Jepang itu. Masa senjata bembunuh maha dasyat ledakannya bisadigagalkan begitu saja sampai di tanah, demikian Amang memuji sahabatnya, sahabat ketika iamasih sekolah di Palu tempo hari sebelum pindah sekolah di Biromaru.

          Banyak betul manusia Cina tewas. Di depan Mesjid Arab seorang korban tewas dalam selokan badannya tidak lagi utuh. Kepalanya terbang entah kemana tidak lagi diketemukan. Cumayang menggelikan serdadu Jepang tadi, melihat Amang terjerat masuk got berair limbah busuk akibat terkejut yang amat sangat . dia membuka daun kelapa penutup korban di tepi jalan. Ternyata sosok mayat terlentang menengadah dengan mulut terbuka lebar. Sebab itulah kedua serdadu Nippon tertawa setengah mati seraya memapah Amang bangkit berdiri basah kuyup dan penuh lumpur yang berbau bukan main.

          Pemboman kedua kalinya berlangsung siang hari. Anak sekolah dari Biromaru pergi memadamkan api . Tidak seorang pun teman sekolah Amang tempo doloe bertemu dia. Entah kemana mereka pergi mengungsi dan selama berpisah sekolah tak pernah lagi jumpa.Di Biromaru pun sekolah di bawah pohon mangga di tengah belukar rimbun sebelah timur agak sekilometer lebih dari gedung sekolah semula. Bersekolah disini seperti tak ada waktu lowong untuk tenang belajar. Sebab hampir tiap hari udara penuhi pesawat-pesawat udara sekutu. Tak adasebutir peluruh Jepang pun keluar menembaki pesawat musuh meskipun musuh tersebut seringmemberaki batok kepala mereka dari udara.

          Amang kembali mengingat-ingat ramalan ayahnya tiga tahun yang lalu, yang mengatakan Jepang menjajah lamanya cuma seumur jagung, kemudian pergi lari dari sini semoga ada benarnya.Sebab jika tidak benar dia pasti dikirim kependidikan militer yang dikatakan orang Kai In Yosei Joentah dimana nanti, sementara yang lulus testing itu sudah diperintahkan siap-siap saja menunggu keberangkatan . Amang lulus bersama beberapa teman sekolah antara lain Lahasim dan Husen.Andai kata jadi berangkat kependidikan sementara disitu perang semakin berkecamuk begini, berarti sebuah kematian bakal ditemukan.

          Bertambah gelisah Amang setelah mendengar desas desus orang bahwa ayahnya empat bersaudara serta seorang keponakan (Goncu Dolo) telah dileshitamkan untuk menerima hukuman pancung, sebab dianggap selaku mata-mata musuh Amerika. Mereka adalah Datupamusu,Datupalinge, Gagaramusu, Lapasere dan Goncu Radjamuda (putra Datupamusu eks Magau Dolo).Mendengar berita tersebut Goncu Dolo cuma bilang begini :

“sudah tentu hal itu karena laporan dan fitnah penjilat-penjilat pantat Belanda dahulu dan pantatnya Nippon sekarang ini. Sejak jaman dulu orang tua kita takan dijajah”  

Demikian Gunco Dolo R.M Datupamusu kepada adik sepupunya Amang sesaat Goncu berada di rumah pamannya Datupalinge.

          Begitulah sifat hidup manusia pendendam, memfitnah itu amatlah mudah baginya seperti saja dilihatnya sendiri orang bakal difitnah itu, sudah menerima tugas dari tentara sekutu. Sudah begitukah manusia dilaknat Tuhan. Begitulah tentara Jepang mengerti dan mengerti benar siapadan bagaimana kekerasan kepada pemimpin yang sudah tua. Selama keberadaan bangsa Belanda didaerah ini. Yang jelas mereka hanya tunduk pada tubuhnya saja namun jiwa mereka bersamaseluruh rakyat dalam wilayah kekuasaan mereka, tetap bergejolak ingin selalu memberontakmenghalau penjajah bangsa asing.

          Jiwa patriotisme para pemimpin itu tidak pernah kendur sementara Magau sebagai pejabat pribumi di kerajaan terdekat dengan kerajaan Dolo kian mengandalkan kekuatan serdadu kompeni guna menaklukkan perlawanan bersenjata dan berlanjut dengan pengasingan para tokoh pejuang penyebar paham partai politik. Karena menganggap wadah perjuangan bagai itu sungguh merupakan sembilu tajam yang sangat mudah mengoyak-ngoyak batin serta menyelusup keseluruh relung hati manusia-manusia pejabat pribumi berhati penjajah.

          Bekas penguasa kerajaan Dolo inilah yang paling lama dan berulang-ulang mengadakan perlawanan bertempur dengan serdadu Belanda di wilayah kekuasaannya. Bahkan pertempuran atau perlawanan rakyat di kawasan lain mereka pergi secara suka rela membantunya bersama-samadengan para Tadolako harapan seperti perlawanan Raja Bulu Bale, Malonda, Raja Tombolotutu Moutong, Rakyat Dampalas-Sojol, Dombu, Raja Kulawi, perlawanan rakyat Sigi dipimpin MadikaMalolo Lamasatu atas prakarsa bersama dengan dua orang yang bernama awal Datu penguasakerajaan Dolo yang bersikap tunduk dulu tapi selamanya tetap menanduk pula.

          Tindakan zalim yang diperlihatkan oleh pemerintah fasisme tentara Dai Nippon kepada bangsa jajahannya telah sering terjadi dimana-mana terutama di pulau Jawa. Dari sini ratusan romusha dikirim ke daerah lain di pekerjakan secara paksa membuat manusia romusha menjadi kurus kering tinggal kulit pembalut tulang.

  

JEPANG SUDAH MULAI LOYO.

          Pemerintah atau penguasa yang gemar melakukan kezaliman biasanya cepat mendapat kutukan serta palu godamnya yang maha kuasa, benar demikian dan bila hal serupa itu akan terjadi. Nah, berpasrahlah kepada-Nya kepastian akan datang dengan sendirinya jika yang maha adil telah menepati janji-Nya Tuhan akan menghapus kekejaman manusia akan manusia lainnya di atas dunia ini. Dan untuk menghilangkan dan menyelamatkan kesewenangan serupa iti kita harus terus berusaha dan bekerja demi untuk itu semua.

          Pemerintah Jepang seperti tidak lagi mempedulikan hidup dan kehidupan rakyat, kendati rakyat sudah semakin compang-camping terutama rakyat petani selama tiga tahun ini, telah berbagai macam bentuk penderitaan yang dialami menerjang kehidupan masyarakat. Suatuterjangan nan sungguh memilukan hati dan barangkali karena itu semua kepada Madika tua Datupalinge salah seorang calon pancung leher itu, orang-orang selalu datang bertanya apakahmasih lama Nippon ini memerintah. Kalau masih lama baiklah kita memberontak seperti kitalakukan acapkali di zaman Belanda. Memang semakin nampak nilai kehidupan masyarakat seolahmulai rapuh dan semuanya sudah porak-poranda oleh penguasa pemerintah Jepang secara habis-habisan. Apa saja kehendak sang penjajah itu pada bangsa jajahannya dengan dukungan penjilat boleh saja mereka buat seperti hewan sembelihan demikian pikir Amang. Amang lalu berpikir tentang masa depannya yang kelabu, hendak kemana dan sampai dimana kelak ia bisa bertahandalam hidup ini dibawah pergi tentara Nippon ke pendidikan “Kai In Yosewi Jo” di tengah dunia dilanda perang semakin gila ini. Terpikir olehnya bagaimana nanti nasib ayah dan pamannya sertakakak sepupunya Gunco Dolo RM. Datupamusu yang semuanya sudah bakal dimakan samurai algojo Nippon.

          Amang membayangkan semua kejadian sangat mengerikan itu bakal datang, bila sudah terpikir demikian hatinya serasa menjadi luluh lantak semangatnya sekilas jadi buyar. Disisi lainkhawatir pula dia andai kata perintah berangkat kependidikan tiba-tiba diterimanya. Bila sudah demikian hendak mau bilang apa. Sudah amat jauh Amang merenung lalu merasa ngeri sendiri. Diarenungi peristiwa silam yang sungguh kejam dan sadis menimpa batang leher H. Laili dengan seorang temannya dari Toli-Toli yang mana penebasan leher manusia itu ditonton banyak orang.

          Karena saking resah tak terkendalikan lagi, Amang pergi kePalu hanya karena hal ikhwal yang menggelisahkan selama ini. Ditemuinya sahabatnya bangsa Nippon itu Hiroshin dan Mitsuodi Tangsi Besusu. Atas penjelasan kedua orang Heiteisan (serdadu) ini, Amang merasa sungguh menjadi lega seketika olehnya itu seakan dia mau melompat karena girang. Tapi Amang tidaksampai begitu sikapnya. Sebab diketahuinya pula pasti Heitaisan tersebut merasa tersinggung jadinya. Menurut Hirochin semua keputusan Bunken Kanrikan dibatalkan atas perintah Jenderal Hitosyi Imamura dan perdana Menteri Hideki Tojo yang tahun 1944 datang di Betawi.

          Pemerintah militer Jepang ini nampaknya seperti daun layu, barangkali itulah sebabmereka melampiaskan dengan cara main pukul tempeleng terhadap rakyat. Kekasaran serupa ini dianggapnya sebagai cendra mata buat daerah jajahan untuk selalu dikenang sewaktu-waktuwalaupun sudah puluhan tahun berpisah. Seperti tidak lagi mereka hiraukan rombongan pesawat- pesawat pergi dan datang berakrobatik di angkasa kota Palu, memancing kalau-kalau ada pelurumeriam penangkis udara disemprotkan Jepang dari bawah, ternyata tak ada sama sekali. MemangJepang menyerbu kemari cuma pakai senjata ringan disamping keberanian yang luar biasa.

           Tak ada gairah lagi Jepang itu, suatu petanda bahwa kekalahan perang sudah hampir dan sudah pula meleleh di depan mata. Walau demikian Amang tetap perihatin terhadap nasib ayahnya dan pamannya serta kakak sepupunya Gunco. Siapa bisa menyangka kalau Kenpe Tai Sirabayasi hendak ingin ambil kesempatan melampiaskan rasa dendamnya terhadap oknum anti penjajah dan juga bekas pejuang jaman Belanda. Sudah tentu Jepang juga tahu segalanya, pemurka serta pembenci pada penjajah Belanda diantara bekas raja selaku penguasa kerajaan di jaman HindiBelanda adalah penguasa kerajaan Dolo yang paling lama dan barulang kali mengadakan perlawanan berdarah terhadap penjajah. Itulah sebabnya hanya bekas penguasa kerajaan Dolo masuk calon pemenggalan leher.

          Sanggupkah ayah bersama para calon lainnya akan melawan bila munculnya tiba-tibaseperti tempo dulu, ketika mereka selalu membawa rakyatnya bersatu melawan serdadu Kompeni.Barangkali benar juga kata ayah beberapa waktu lalu bahwa Jepang tidak akan berani melakukan kekejaman atas mereka, begitu kata ayah. Sesaat mendengar berita yang santer di desas-desuskan.Hanya tukang fitnah itu saja disembelihbatang lehernya kata ayah, sembari geram.

          Apakah ayah tahu siapakah pelaku yang tampil sebagai tukang fitnah itu. Tapi beliau tidak kabarkan. Cukup mereka saja sebagai calonnya saja mengetahuinya. Tentu itu musuh kami jaman Belanda dulu, kata ayah pula yakin. Siapa lagi kalau bukan mereka! Sambung Ayah tambah yakin.

          Bunken Kanrikan yang telah beberapa bulan tinggal di Dolo, beberapa hari lalu telah kembali ditempat semula (Palu). Ini berarti, atau petanda bahwa Jepang tidak lagi datang mampu meneruskan perang Dai Toesenso-nya, melawan tentara sekutu himpunan dari beberapa negara besar eropa.

          Angkasa kota Palu sekitarnya telah sepi selama beberapa minggu lewat ini. Pesawat sekutu tidak lagi datang sebab mungkin sudah menganggap percuma karena perlawanan Jepang tidak pernah ada. Petang itu hari minggu tanggal 15 Juni 1945, Amang baru kembali ke Kaleke dari Biromaru setelah pagi tadi kesana untuk mohon pamit pada paman Madika Matua seisi rumah tempat dia numpang selama sekolah menamatkan SD-nya disana.

          Untuk melepaskan lelahnya, Amang duduk di kursi jati tua milik khusus tempat duduk ayahnya, dekat jendela menghadap jalan. Amang duduk tenang disitu, menelentangkan kakinya kakinya di atas palang jendela. Tak ada seorang pun dalam rumah ketika ia datang beberapa oranglalu-lalang di jalan seperti tidak dihiraukannya. Di antaranya ada orang-orang Jepang sepertiKatairi, Tajima dan seorang lagi yang masih asing bagi Amang karena mungkin serdadu Jepangkesasaran mereka itu, tentu dari rumah om Danco Daeng Mangeran.

          Ketika serdadu Jepang itu lewat, Amang cuma membuang mukanya kearah lain karena takmau lagi memberi hormat kepada Jepang itu, jawab hatinya telah dijangkiti oleh perasaan jengkel,mendengar orang tuanya bakal dipancung itu.

Suatu pagi awal bulan Juli, ayahnya berkata begini ;”tidak lama lagi bangsa kita dapat rejeki besar dan mulia, ini mimpiku tadi malam, dan  semoga ada buktinya nanti!”

 begitu bicaraayah selesai shalat subuh. Mendengar ayahnya, Amang bertanya dalam hati, apakah ayah takutmengatakan kebebasa atau kemerdekaan bangsa. Tapi tidak! Ayahku tidak pernah takut sejak penjajahan Belanda tempo dulu. Kalau takut, cuma ayah mungkin ikut-ikutan bertempur bersamakakaknya Datupamusu berkali-kali melakukan perlawanan sampai akhirnya karena digencet dandiasingkan agar tak boleh lagi menguasai wilayah Dolo sampai kerajaan mereka kuasai.

           Kalimat mulia keluar dari mulut ayah tadi, mengandung kehendak memuliakan kami dan generasi bangsa. Sedang kemulian itu sendiri, bagi suatu bangsa dan negara, sudah tentu berada didalam bangsa dan negara yang sdh merdeka serta berdaulat.

          Begitulah kiranya arti mimpi ayah si Amang yang merenung ini. Dan Amang lalu mencatat tanggal 5 Juli 1945 peristiwa mimpi ayahnya. Memang sejak pertengahan tahun lalu dikalangan sipil dan militer Jepang telah mendapat firasat bahwa kekalahan sudah tak bisa lagi dihindarkan. Cuma bagaimana caranya ditempuh, hingga kekalahan itu bisa disebut, kalah terhormat. Ucapan seperti itulah mereka inginkan. Sementara ada seorang perwira Kolonel Makoto Mitsutani, anggota staf umum angkatan darat berusaha menyakinkan P.M. Hideki Tojo agar Jepang minta berdamaisaja lebih baik. Akibat usul perwira tersebut, besok harinya dia digiring ke medan perang di daerahcina.

          Puluhan kota-kota besar kecil di Jepang telah hancur bersama korban manusia dan salahsatu diantaranya kota Nagoya. Jepang menderita parah dan rapuh akibat timpahan kelaparan yang melanda negeri Sakura No Hana itu.

          Tanggal 22 Juni lalu, kota Okinawa diduduki oleh tentara sekutu Amerika dan semakin membawa malapetaka bagi negeri, saudara tua. Berkaitan dengan penghancuran hampir semua wilayah Jepang sana, di Indonesia pun sudah pula mengalami bencana serupa. Berkali-kali telah mengalami pemboman dan penghancuran termasuk moral bangsa penghuni ribuan pulau ini. Telah amat banyak tugas yang sudah dapat diselesaikan, teristimewa negeri Jepang. Ya, kalau negeriJepang saja, biar lebur jadi laut, masa bodoh.

          Sebagai akhir dan setelah ribuan liter darah mambasahi bumi negeri Jepang dan bumi Indonesia selaku negeri jajahan tentar Nippon, maka tentara sekutu menjatuhkan bom atom di atas kota Hiroshima dan Nagasaki pada tanggal 6 – 9 Agustus 1945. Pada hari penghancuran itu, diIndonesia segera pula tersebar berita tersebut, sehingga makin loyolah Bun Ken Kanrikan Palu. bersama serdadunya.

          Tanggal 15 Agustus tahun yang sama, kaisar Hirohito selaku Tenno Heika menyerah kalah tanpa syarat pada tentara sekutu. Mendengar itu semua pemimpin bangsa Indonesia yang sejak lama merindukan kemuliaan, kebersamaan seperti bangsa yang tidak pernah mengalami penjajahan, mengucapkan “Alhamdulilah”. Yang paling gembira ketika itu ialah mereka yang sudah jadi calon tebas leher seperti Datupalinge, Datupamusu, Gagaramusu dan Goncu Dolo R.M.Datupamusu, tinggallah si pelapor serta pendendam pada mereka itu, menggigit bibir.

          Benar juga kata ayah bahwa Jepang menjajah lamanya hanya seumur jagung, tafsiran ayah seperti itu telah banyak di bicarakan diatas jauh sebelum cerita perang pasifik ini berakhir hingga disini. Dua hari kemudian kemerdekaan bangsa Indonesia di proklamasikan oleh Bung Karno Dan Bung Hatta.


Disalin Kembali Sesuai Aslinya ; oleh Moh. Takdir Tembandjobu

Sumber : Sekilas Sejarah Perlawanan Rakyat di Tanah Kaili

 


۞ الحمد لله ربّ العٰلمين ۞

-------------------------------------------------------------

0 comments:

Posting Komentar

۞ PETA LOKASI Wilayah ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞