Dewan Adat Sigi

Waktu selesai rapat di rumah Ketua Dewan Adat Sigi di Kaleke.

SOSIALISASI

Sosialisasi pendidikan Pemilih.

TOTUA NU ADA

Totua nu Ada. Ane nggaulu Totuamo gala hi nompakenggenisi ngata ...

Silaturrahmi

Silaturrahmi dengan Yang Mulia Sri Paduka Mangku Alam II.

Senin, 24 Juli 2023

Sejarah Singkat Masyarakat adat TORO

 


Sejarah Singkat Masyarakat adat TORO

Komunitas Toro yang sekarang dikenal dengan Ngata Toro terbentuk pada 1950-an, yaitu pada saat kedatangan orang Rampi dalam jumlah yang cukup besar. Perpindahan itu terjadi ketika berlangsungnya pemberontakan DI/TII Kahar Muzakar pada awal tahun 1950-an di Propinsi Sulawesi Selatan. Masuknya orang Rampi secara bergelombang ini telah meningkatkan jumlah kelompok masyarakat ini di Toro. Namun, keragaman kelompok masyarakat di Toro tidak terbatas pada orang Rampi semata. Pada akhir 1960-an, Toro kembali menampung migrasi kelompok masyarakat Uma yang berasal dari Kulawi bagian barat. Berbeda dari pola migrasi sebelumnya, kedatangan orang Uma ke Toro ini merupakan bagian dari proyek pemukiman kembali(resettlement) yang dilakukan secara paksa oleh pemerintah terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang dianggap terasing dan terbelakang. Dengan sejarah demografi ini, maka komposisi penduduk Toro saat ini terdiri atas tiga kelompok dominan, yaitu orang Moma sebagai penduduk asli dengan jumlah mayoritas, orang Rampi dan Uma sebagai etnis pendatang yang jumlahnya juga cukup signifikan. Yang menarik, keragaman kelompok masyarakat ini ternyata telah menciptakan struktur pemukiman yang terdistribusi menurut kelompoknya sehingga menciptakan boya-boya (dusun-dusun) dengan komposisi penduduk yang secara etnis relatif homogen. Orang Moma terkonsentrasi di Boya 1, 2, 3 dan sebagian Boya 4 sedangkan orang Rampi di Boya 5 dan 7 dan orang Uma terpusat di Boya 6 Meskipun keragaman kelompok masyarakat di Toro ini membentuk pola pemukiman yang saling terpisah, namun keragaman ini dalam derajat tertentu telah dirajut oleh ikatan-ikatan kekerabatan dan yang telah dimapankan oleh rasa saling hormat menghormati dan saling menghargai antara penduduk asli dan penduduk pendatang. Semua orang Toro menyebut diri dengan ‘kami adalah masyarakat Toi Toro’.

Mitos asal-usul memiliki kedudukan yang penting di masyarakat Toro dan amat sentral bagi proses identifikasi kelompok dan penumbuhan kesadaran akan kesatuan dan sekaligus perbedaan. Proses identifikasi semacam ini merupakan hal yang amat perlu bagi masyarakat Toro, terutama untuk memproduksi pranata sosial yang ada dengan melibatkan segenap unsur di masyarakat Toro. Dengan demikian, meskipun mitos mengisahkan kejadian-kejadian yang tidak biasa ditemui di dunia nyata, mitos bukanlah cerita kosong belaka tanpa makna. Mitos di Toro merupakan merupakan unsur yang menggambarkan ”angan-angan sosial” yang ikut membentuk identitas pada kelompok dan makna pada sejarahnya. Angan-angan sosial tersebut terbangun dari berbagai unsur peristiwa nyata, realitas sosial, dan lingkungan fisik kelompok yang bersangkutan. Suatu pernyataan mitos tentang kejadian masa lampau berfungsi sebagai “cerminan bagi kehidupan masa kini”.

Ada tiga mitos yang hidup di tengah masyarakat Toro yang menjelaskan tentang asal-usul dan identitas kolektif mereka. Dalam bahasa Kulawi Moma kata ‘Toro’ berarti ‘sisa’. Pengertian ini mengacu pada suatu wilayah yang ditinggal pergi oleh penduduknya sehingga telah menjadi hutan belantara dan bukan merupakan pemukiman lagi. Selain itu, juga mengacu pada pelarian sisa-sisa penduduk kampung Malino yang akhirnya menempati wilayah yang telah ditinggalkan tadi. Kedua mitos ini saling berkaitan dan dirajut oleh mitos ketiga tentang kegiatan berburu “Balu” (bangsawan Kulawi). Ketiga mitos ini secara bersama-sama saling terjalin erat sebagai kisah terbentuknya komunitas Toro. Berikut ini adalah narasi dari ketiga mitos yang hidup di tengah – tengah masyarakat Toro akan diuraikan pada bagian berikut ini.

• Mitos tentang tempat. Mitos pertama ini mengisahkan tentang lokasi yang sekarang ini membentuk Ngata Toro. Dikisahkan tentang riwayat tempat ini yang semula didiami oleh etnis Uma. Bencana banjir besar dan longsor menyebabkan tempat ini ditinggalkan oleh penduduknya. Tempat pemukiman itu kemudian berubah menjadi danau setelah terjadinya banjir besar itu. Konon kisah terjadinya banjir di awali dengan pertengkaran dua kakak beradik yang memperebutkan tambur emas (karatu bulawa). Salah satu dari mereka yang bertengkar memotong kaki kucing, kemudian dipakai untuk menabuh tambur tersebut dengan sekeras kerasnya. Padahal kucing dianggap hewan keramat yang menurut kepercayaan tidak boleh dimandikan, apalagi sampai diusik dan disakiti. Diyakini, tindakan semacam itu akan mendatangkan bencana besar. Tidak lama setelah pemotongan kaki kucing, menjelang sore hari, hujan mendadak turun dengan derasnya disertai angin ribut dan bunyi petir yang meledak-ledak. Kegelapanpun meliputi pemukiman, pohon-pohon mulai bertumbangan, tanahpun mulai longsor. Ini berlangsung selama tiga hari tiga malam. Akhirnya pemukiman ini hancur lebur dilanda bencana alam dan menjadi sebuah danau.

• Kisah pelarian orang Malino Berbeda dengan mitos pertama yang mengisahkan riwayat sebuah tempat, mitos kedua menceriterakan tentang penduduk Malino yang diserang oleh makhluk halus sehingga melarikan diri dari kampungnya. Para pelarian Malino inilah yang membentuk satu perkampungan baru yang dikenal dengan nama Toro yang sekarang. Konon kisahnya diawali dengan permainan gasing antara anak-anak penduduk Malino dengan anak orang bunian. Anak-anak bunian menggunakan gasing dari emas dan gasing anak-anak Malono dikalahkan semuanya. Anak-anak Malino melapor kepada orang tuanya bahwa tadi siang mereka bermain gasing dengan orang yang tidak dikenal. Gasing mereka semuanya berwarna kuning mengkilap, demikian pula anak-anak tak dikenal tersebut. Keesokan harinya orang tua dari anak-anak penduduk Malino membunuh anak yang memakai gasing emas dan mengambil gasing emasnya. Sore setelah peristiwa itu terdengar suara yang bergemuruh seperti orang yang sedang berperang. Namun, tidak ada siapapun yang terlihat selain parang dan tombak yang beterbangan menyerang. Sadarlah orang Malino bahwa mahluk halus telah datang menyerang untuk menuntut balas atas kematian anaknya. Penduduk Malino tercerai berai karena tidak mampu melawan para penyerang yang tidak kelihatan. Sebagian besar penduduk Malino terbunuh dan hanya 7 rumah tangga yang berhasil selamat pergi mengungsi ke tempat lain. Para pelarian dari Malino ini lantas membuka hutan dan membangun pemukiman, bertani hingga membentuk satu perkampungan yang mereka beri nama Toro atau yang tersisa menurut dialek Moma.

• Kisah penguasaan tempat

Mitos ketiga ini menuturkan aktivitas berburu Balu, seorang bangsawan Kulawi. Balu, seorang Maradika (bangsawan) Kulawi, yang memerintah saat itu, dikenal sebagai orang yang gemar berburu. Tidak puas dengan tempat yang sudah pernah didatangi, ia pun pergi menjelajah gunung-gunung dan lembah-lembah baru untuk mencari tempat perburuan. Akhirnya ia menemukan lembah yang amat subur karena terbentuk dari danau yang telah surut. Tempat ini adalah bekas pemukiman pada masa lampau yang ditinggalkan karena bencana alam. Kemudian Balu mengajak orang pelarian dari Malino untuk melihat-lihat lokasi perburuan yang ditemukannya. Setelah melihat-lihat keadaan di sana dan merasa cocok, maka terjadi tawar menawar antara Balu dan Mpone, si pemimpin rombongan pelarian. Dicapailah kesepakatan untuk membeli lembah dan gunung-gunung yang ada di sekitarnya dengan harga tujuh gumpal emas sebesar burung pipit. Lokasi terjadi kesepakatan jual beli itu kelak di belakang hari disebut Kaputua yang berarti tempat mencapai keputusan. Setelah transaksi, para pelarian Malino kemudian tinggal di tempat ini dan berkembang kian banyak. Lama kelamaan tempat ini dikenal dangan nama “Toro” karena didiami pelarian sisa-sisa orang dari Malino. Sejarah panjang komunitas Toro dengan lingkungannya telah membentuk suatu lanskap budaya dan stabilitas ekologis yang mantap. Hal ini tercermin baik pada aras pranata sosialbudaya maupun sistem pemanfaatan sumberdaya alam yang terdapat pada komunitas ini.

Hak atas tanah dan pengelolaan Wilayah

Pembagian ruang menurut adat

• Wana Ngkiki, yaitu kawasan hutan primer di puncak gunung yang sebagiannya didominasi oleh rerumputan, lumut dan perdu. Kawasan ini dianggap amat penting sebagai sumber udara segar (winara), dan tidak boleh dijamah aktivitas manusia. Dalam kawasan Wana Ngkiki ini tidak terdapat hak

• Wana, yaitu hutan primer di sebelah bawah Wana ngkiki yang merupakan habitat hewan dan tumbuhan langka, dan sebagai kawasan tangkapan air. Karena itu, di area ini dilarang membuka lahan pertanian karena bisa menimbulkan bencana alam. Wana hanya boleh dimanfaatkan untuk kegiatan berburu dan mengambil getah damar, bahan wewangian dan obat-obatan, serta rotan. Kepemilikan pribadi (Dodoha) di dalam kawasan ini hanya berlaku pada pohon damar yang penentuannya tergantung pada siapa yang pertama kali mengolahnya. Sementara sumber daya alam yang selebihnya merupakan hak penguasaan kolektif sebagai bagian ruang hidup dan wilayah kelola tradisional masyarakat (Huaka).

• Pahawa pongko yaitu, campuran hutan semi-primer dan sekunder merupakan hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama sekitar 25 tahun atau lebih sehingga sudah menyerupai pangale. Pohonnya sudah besar, jadi untuk menebangnya sudah harus menggunakan pongko (pijakan yang terbuat dari kayu) yang cukup tinggi agar dapat menebangnya dengan mudah. Penebangan pada tempat yang agak tinggi ini dimaksudkan agar tunggulnya bisa bertunas kembali ( karena itu disebut pahawa yang berarti “pengganti“). Seperti halnya pangale, kawasan ini juga tidak tercakup dalam hak pemilikan pribadi terkecuali pohon damar yang ada di dalamnya.

• Oma yakni hutan belukar yang terbentuk dari bekas kebun yang sengaja dibiarkan untuk diolah lagi dalam jangka waktu tertentu menurut masa rotasi dalam sistem perladangan bergilir. Oleh karena itu, pada kategori ini sudah melekat hak kepemilikan pribadi (Dodoha) dan tidak berlaku lagi kepemilikan kolektif (Huaka) karena lahan ini merupakan areal yang dipersiapkan untuk diolah lagi menurut urutan pergilirannya. Urutan pergiliran ini membentuk tiga kategori Oma yaitu:

- Oma ntua, apabila lahan ini dibiarkan selama 16 hingga 25 tahun, mengingat usianya, jenis ini sudah tua sehingga tingkat kesuburan tanahnya sudah pulih dan dapat diolah

- Oma ngura, yaitu kategori yang lebih muda karena dibiarkan selama 3 hingga 15 tahun. Lahan ini didominasi rerumputan dan belukar. Pohon-pohon yang tumbuh masih kecil sehingga masih bisa ditebas memakai parang tanpa banyak kesulitan.

- Oma nguku adalah bekas kebun belum sampai 3 tahun ditinggalkan. Lahan ini masih di dominasi oleh rerumputan, ilalang dan semak perdu.

• Balingkea yaitu bekas kebun yang sudah berkurang kesuburannya dan sudah harus di istirahatkan. Meskipun begitu, lahan ini masih bisa diolah untuk tanaman palawija seperti jagung, ubi kayu, kacang-kacangan, cabe, dan sayuran. Balingkea sudah termasuk hak kepemilikan pribadi (Dodoha).

• Pangale, yaitu kawasan hutan semi-primer yang dulu sudah pernah diolah menjadi kebun namun telah ditinggalkan selama puluhan tahun sehingga telah menghutan kembali. Kawasan ini dalam jangka panjang dipersiapkan untuk dibuat lahan kebun, sedangkan datarannya untuk dijadikan sawah. Pangale juga dimanfaatkan untuk mengambil rotandan kayu untuk bahan rumah dan keperluan rumah tangga, pandan hutan ntuk membuat tikar dan bakul, bahan batobatan, getah damar dan wewangian.

 

Sistem Penguasaan & Pengelolaan Wilayah

• Hak kepemilikan bersama (Katumpuia Hangkani) Tanah dan segala sumber daya alam yang ada di wilayah adat (huaka) termasuk tanah Desa adalah milik bersama seluruh masyarakat adat Ngata Toro mencakup wana ngkiki, wana dan pangale dengan segala yang ada di dalamnya kecuali damar yang sudah diolah oleh orang. Hak pemilikan bersama ini tidak boleh diperjual-belikan, disewakan (dikontrak) kepada siapapun juga. Hak pemilikan kolektif/komunal terbatas pada pemanfaatan yang diatur dan ditetapkan oleh lembaga adat Ngata Toro.

• Hak pemilikan pribadi/individu (Katumpuia Hadua) Tanah dan segala sumber daya alam dalam kawasan tertentu dapat menjadi milik pribadi/individu apabila sudah dikelola sebagai lahan pertanian. Umumnya pemilikan ini atas nama yang membuka pertama kali hutan di situ yang disebut dengan “popangalea”. Semua lahan yang dikuasai melalui popangalea disebut “dodoha”. Dasar pemilikan yang lain adalah hasil pembelian (raiadai), internal, pemberian secara cuma-cuma (ahirara) dan yang diminta (perapi). Milik pribadi mencakup pahawa pongko, oma, balingkea, dengan segala yang ada di dalamnya dan damar di wana.

 

Kelembagaan Adat

Nama    Ngata Toro

Struktur               - Maradika - Totua Ngata - Tina Ngata - Huro ngata - Tondo Ngata

Tugas dan Fungsi Pemangku Adat

Ketiga kepengurusan tersebut dipilih melalui pertemuan kampung berdasarkan garis keturunan.

a. Maradika

Mengatur hubungan ngata (kampung) dengan ngata lain yang disebut ”Hintuwu Ngata”, Menentukan perang dengan ngata lain, tempat pengambilan keputusan terakhir. Kalau dimasa sekarang ini Maradika adalah Kepala Kampung.

b. Totua Ngata

Mengatur dan mengawasi aturan adat yang disepakati dalam musyawarah, Memimpin dan melaksanakan setiap upacara adat, menentukan besar kecilnya sanksi adat atas pelanggaran, memimpin sidang menyangkut penyelesaian perselisihan pada tingkat dusun atau kampung, mengatur pelaksanaan perkawinan adat serta menentukan besar kecilnya mas kawin menurut keturunan dari keluarga yang bersangkutan.

c. Tina Ngata

Perancang pekerjaan dalam pertanian, pendingin artinya jika ada konflik dan dalam kampung kalau ada perempuan biasanya hal yang begitu tegang sekalipun cepat reda sehingga selesai dengan jalan damai.

d. Huro Ngata : Humas

e. Tondo Ngata : Keamanan

Mekanisme Pengambilan keputusan

Molibu

Hukum Adat

Aturan adat yang berkaitan dengan pengelolaan Wilayah dan Sumber daya alam

Larangan :

• Tidak diperkenankan membuka hutan atau mengolah hutan di tempat yang ada mata air

• Dilarang menebang kayu-kayuan yang ada pada palungan sungai atau kali-kali kecil yang ada dalam hutan ataupun pelungan suingai/kali kecil yang melewati pemukiman penduduk, pada saat menebang pohon tidak diperkenankan menebang habis pohon yang diketahui mempunyai khasiat obat-obatan tradisional, seperti pohon beringin dan melinjo.

• Dilarang menebang pohon/membuka lahan perkebunan di daerah kemiringan yang terjal.

• Larangan keras membuka lahan perkebunan di Wana Ngkiki dan Wana.

• Dilarang membuka kebun dibekas pangale, Oma, Balingkea, Pahawa pongko orang lain.

 

Pantangan :

• Dilarang membawa hasil hutan seperti rotan, pandan hutan, bambu mentah dalam jumlah yang banyak ke rumah melewati persawahan pada masa padi dalam keadaan berbuah.

• Dilarang mengilir rotan di sungai pada masa padi akan keluar buah, karena akan mempengaruhi keberhasilan panen (buah padi akan hampa/kurang berisi).

• Larangan membuka hutan yang diketahui ada pohon damar, dan membuka hutan sampai pada puncak gunung.

• Larangan menebang kayu yang diketahui sebagai makanan pokok burung-burung dalam hutan.

• Mampeoni : Upacara adat utk pembukaan lahan baru, sambil meletakan sesajian di area lahan yg akan dibuka.

• biasanya akan dilakukan pemotongan ayam, dan jika ayam tsb empedunya pica maka pembukaan lahan tdk akan dilanjutkan atau biasanya hatih ayam diketemukan Hatinya hanya satu maka tdk akan dilanjutkan.

 

Aturan Adat terkait Pranata Sosial

• Kasus pencurian : Menurut aturan adat Toro, mencuri adalah perbuatan yang memalukan dan merusak tatanan kehidupan masyarakat. Orang yang kedapatan mencuri , dihadapkan ke peradilan adat, disertai saksi-saksi dan barang bukti yang ada. Jika perbuatan tersebut terbukti, makanya kepadanya akan diberikan sanksi adat berupa ”tiga ekor kerbau, tiga lembar kain mbesa, tiga puluh buah dulang (bahasa lokal : TOLU MPOLE, TOLU ONGU, TOLU NGKAU).

• Perselisihan antar warga : Untuk menyelesaikan kasus perselisihan, masyarakat Toro senantiasa melibatkan tua-tua adat. Tua-tua adat melakukan musyawarah adat di rumah adat (Lobo), dengan menghadirkan keduabelah pihak tua-tua adat dari warga yang bertikai. Yang melakukan Tindakan perselisihan lebih dahulu akan mendapatkan sanksi adat dengan menyediakan seekor hewan seperti kerbau atau sapi (Motinuwui) dan disembellih untuk dikonsumsi saat pelaksanaan pesta perdamaian yang dihadiri oleh dua belah pihak warga yang bertikai.

 

Contoh Keputusan dari penerapan Hukum Adat

Menghamili di luar nikah ( Nampopo tiana Ana Do) : Perbuatan seks di luar nikah merupakan hal yang sangat memalukan bagi orang Toro. Perbuatan ini biasanya didasari oleh cinta sehingga dilakukan sukasama suka. Kadang-kadang perbuatan aib ini baru ketahuan setelah si wanita hamil, namun ada juga yang terungkap sebelum hamil yaitu perbuatan kepergok oleh orang lain (tertangkap basah) sehingga dialporkan ke pemangku adat. Pemangku adat yang mendapat laporan adanya wanita hamil di luar nikah atau dua insan yang kepergok perbuatan mesum akan mengambil tindakan dengan melakukan musyawarah yang menghadirkan wanita dan pria tersebut beserta orangtua keduabelah pihak dan saksi-saksi. Dalam proses peradilan ini diputuskan untuk meminta pengakuan kedua orang tersebut, apabila si pria mengingkari perbuatannya maka ia akan dikenai sanksi adat berupa membayar lunas sebesar mahar si wanita dan menyediakan hewan korban penebus salah (Moraa Eo) dan tidak diperkenankan untujk menemui wanita itu lagi. Jika ia kedapatan menemui wanita itu lagi maka kepadanya akan dikanakan sanksi adat yang lebih berat.


Sumber : https://brwa.or.id/wa/view/NTFRLWRhQlZvSFU

Asal Usul Nenek Moyang Etnik Kaili Melalui Tradisi Lisan (Motutura)

 

A. Asal  Usul  Nenek Moyang  Etnik  Kaili Melalui  Tradisi  Lisan (Motutura)

       Mengenai  asal  usul  penghuni  pertama  di  Sulawesi Tengah    berdasarkan  hasil  penelusuran    kajian deskriptif  data etnografi dari tradisi lisan (Motutura)  melalui cerita mitos yang berkembang  mengenai  asal  usul  penghuni  pertama  nenek moyang  To  Kaili    ada beberapa  versi cerita  berdasarkan kajian penelusuran  secara  lisan.  Berdasarkan  hasil  wawancara  yang dilakukan dengan  LP,  yang merupakan salah  satu tokoh adat di  Kabupaten  Sigi  menjelasakan dalam  uraian  ucapan  bahasa daerah  yaitu  bahasa  Kaili  dialek    Ledo  Sebagai  berikut  di ceritakan melalui deskripsi sebagai berikut:

Pontoro  totua  ngaulu  hamai  ri  kampu  sanggana      ngata  Tompu Bulili, dala ngatuvua manusia partama ri Tanah Kaili. Manusia  partama  ri  Tana  Kaili  partama-tamana  aga randua (2)  manusia    natuvu  ridunia,  totua  mombine  ante  totua langgai  natuvu,  neumba  dako  ri  kayanga,  ane  panguli ngauluna  Tomanuru  artina  manusia  neumba  dako  ri  langi. Katuvua  manusia partama  di dunia  Tanah  kaili  dako  ri  tesa potutura  to  tua  kami  ngaulu nanggulika kami,  niepu  kami ri tesa  potutura  ntotua  kami    bahwa  manusia  partama  ri Tana Kaili dako ri langi (kayanga) niproses dako ri Tanah Sanggamu  (Tanah  segengam),    ni  artikan  tope  bête    rivolo  nu  avu, manusia randua panggane niuli manusia Tomanuru (manusia kayangan) . Ane pangguli tutura dako nte totua kami sanganu Tomanuru  ane  langgai  niulu  Labuntasi  (nama  laki-laki penghuni  pertama)  ane  mombine  sanggana  njilembu  (nama perempuan penghuni pertama) tesa potutura To kaili (Lakapa, 2018).

Terjemahan.  Mengenai  cerita  mitos  secara  turun-temurun yang diwariskan melalui cerita lisan pada masyarakat Etnik  Kaili  yang  ada  di  Kabupaten  Sigi,  khususnya  dari  Desa Loru  menjelaskan  bahwa  asal  usul  penghuni  pertama penduduk di Sulawesi Tengah berasal dari daerah pegunungan yang disebut Desa Tompu Bulili yang terletak di kecamatan Sigi Biromaru.  Manusia  pertama  yang  mendiami  lembah  Tanah Kaili di  Sulawesi Tengah konon kabarnya dari  cerita orang tua pada  zaman  lampau  menuturkan  bahwa   manusia pertama di Tanah Kaili adalah  manusia  yang  diutus  dari Langit  atau  yang biasa  dikenal  pada  masyarakat  di  Kabupaten  Sigi  disebut Tomanuru  yang    berasal  dari  Tanah  Sanggamu  (Tanah segengam)    yang  disebut  manusia  yang  berasal  dari  bambu kuning  atau  Topebete  ribolo  nuvatu.  Manusia  yang berasal  dari kayangan  tersebut  adalah  sepasang  suami  istri  yang  hidup mendiami  Tanah  Kaili  di  Kabupaten Sigi,  menurut  keterangan dari  tradisi  lisan  yang  diwariskan  dari  cerita-cerita  yang dikatatan Motutura bahwa  labuntasi adalah nama laki-laki dan Njilembuh  adalah  nama  perempuan,  yang  merupakan penghuni  pertama  dari  manusia  pertama  di    kabupaten  Sigi propinsi Sulawesi Tengah.  Cerita  lisan pada masyarakat yanga ada di Desa  Loru dan Pombewe yang terletak di  Kecamatan sigi Biromaru, Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah.

          Nuansa  mitos  melalui  cerita  tradisi  lisan  (Motutura) tentang  asal  usul  nenek  moyang  To  Kaili    yang  ada  di kabupaten  Sigi  Propinsi Sulawesi  Tengah,  berdasarkan  uraian pemaparan  informan  bahwa  manusia  pertama  mendiami wilayah-wilayah yang ada di pegunungan karena pada zaman lampau  wilayah  yang  ada  di  Sulawesi  Tengah  merupakan hamparan  lautan  atau  disebut  daerah  lembah  Palu.  Tradisi lisan budaya tutur (Motutura) pada masyarakat Etnik Kaili yang ada  di  Kabupaten  Sigi  sangat  meyakini  bahwa  mitos-mitos yang berkaitan dengan asal usul nenek moyang To Kaili berasal dari  daerah  pegunungan    yang  mendiami  lereng-lereng gunung di  Desa yang namanya  disebut Ngata Tompu dan Ngata Raranggonau,  sebuah  Desa  tertua  pada  zama  lampau  yang diyakini  sebagai  cikal-  bakal  kehidupan  masyarakat  Etnik  To Kaili.  Tradisi  Lisan  pada  masyarakat  To  Kaili sangat  meyakini sebuah  mitos bahwa  asal usul  nenek  moyang  mereka  berasal dari  keturunan  yang  berasal  dari  langit  (Tomanuru)  yang memiliki  nilai-nilai  kesaktian  dan  sakral  dalam  hal-hal  yang berkaitan dengan nuansa mitos terhadap asal usul masyarakat Etnik Kaili. 

          Kajian  riset  Misnah  (2009)  dalam  tesisnyanya mendeskripsikan  bahwa  cerita  mengenai  asal  usul  nenek moyang  Etnik  Kaili  sangat  kental  dengan  nuansa  tradisi  lisan yang  sangat  identik  dengan  mitos-mitos  yang  berkembang pada  masyarakat  Etnik  Kaili.  Nenek  moyang  To  Kaili merupakan  jelmaan  pemimpin  yang  memiliki  kekuatan-kekuatan  supranatural,  kekuatan-kekuatan  yang  luar  biasa, yang  dinobatkan  sebagai    manusia  pertama  yang  mendiami wilayah Kupaten Sigi  Sulawesi Tengah. Masyarakat Etnik Kaili meyakini  melalui  tradisi  lisan  yang  diucapkan  secara  turun-temurun  bahwa   Tomanuru  merupakan  manusia  dako  ri  langi, Tobarakah (  Tomanuru  merupakan  manusian  jelmaan  dari kayangan) yang disimbolkan dengan jenis kelamin laki-laki dan perempuan  yang  mendiami  lereng  pegunungan-pegunungan yang ada di Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah(Misnah, 2009).

          Kajian mengenai asal usul penghuni pertama masyarakat yang  ada  di  Sulawesi Tengah juga  di  paparkan  dalam sebuah tulisan (Syamsuri, 2015) .Suku Kaili merupakan  penduduk asli kota  Palu  yang  secara  turun-temurun  mendiami  wilayah  Propinsi    Sulawesi  Tengah,    pada  zaman  sebelum  datangnya penjajahan      Belanda,  Raja  yang  mendiami    masing-masing kekuasaan  yaitu  Banawa,  Palu,  Tavaili, Parigi,  Sigi  dan  Kulavi memiliki  hubungan  kekeluargaan  dengan  tujuan  untuk  menghindari pertempuran dan Pertikaian antar keluarga.

          Kehidupan  masyarakat  Etnik  Kaili  pada  zaman  lampau mendiami daerah pegunungan, hal ini  disebabkan karena pada zaman  lampau  kehidupan  yang  ada di  daratan masih  sebuah hamparan  lautan  yang  sangat  luas  yang  diarunggi  oleh  para pelaut-pelaut  ulung.  Salah  satu  pelaut  ulung  yang  sangat dikenal  oleh  masyarakat  Etnik  To  Kaili  adalah  pelaut  yang benama Sawerigading. Tokoh  legendaris Sawerigading melalui budaya tradisi tutur lisan pada masyarakat di Sulawesi Tengah merupakan  pelaut  handal  yang  mengarunggi  wilaya  lautan Sulawesi  yang  dalam  cerita  kisah  sang  legenda  memiliki nuansa  mitos,  legenda  yang  mengambarkan  bagaimana kehidupan  pada  zaman  lampau  masyarakat  Etnik  Kaili  telah menjalin  hubungan  kekerabatan,  kekeluargaan  terhadap  para tamu  atau  pelaut  yang  singah  di  wilayah  Sulawesi  Tengah pada zaman lampau. Wilayah Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah melalui informasi lisan menjelaskan bahwa masyarakat To Kaili pada  zaman  lampau  mendiami  wilayah-wilayah  pegunungan karena  di  daerah  dataran  merupakan  kehidupan  yang diarunggi oleh pedagang, pelaut  yang  menjalin hubungan  dan kerja  sama  dengan  para  Raja-Raja  yang  mendiami  wilayah Sulawesi Tengah. untuk mengambarkan bagaimana kehidupan manusia  atau  masyarakat  Etnik  To  Kaili  pada  zaman  lampau bisa  kita  saksikan  pada  gambar  bentuk    lautan  yang  ada  di Lembah Sulawesi Tengah pada zaman lampau.

Gambaran  kehidupan  masyarakat  Etnik  To  Kaili  pada zama  lampau  juga  diuarikan  oleh  Pernyataan  TL,  yang merupakan    salah  satu  tokoh  adat  yang  ada  di  Desa  Sidera bahwa: 

Suku Kaili suku paling nadea ri  Tanah Kaili,  tesa  nituturata eo  hitu  merupakan  tesa  mpotutura  asal  usul  topo  nturo  ri Lemba  nu  palu  sekarang.  Tesa  notua  kami  ngaulu  nibolika kami,.  Totua  ngaulu  ri  Tanah  Kaili  nonturo pura  ri  buluna apa ngaulu isi nu ngata hi  tasi bayangi, naria  katuvua ntotua ngaulu tapi natuvu  ri buluna. Tesa ngaulu kututura  kakomiu bahwa  palu  ngatata  tasi bayangi  niuli Tasi  Kaili    ri  Lembah nu Palu. Asal usul kata Kaili dako ri kayu  Kaili, sipa nu kayu kaili ane natuvu  pada  zaman ngaulu uve danaoge, tanah-tana dana  subur  bayangi,  kayu  Kaili    sipa  nu  kayu natuvu  kayu paling nalangga, dako  ri kayu-kayu natuvu si sinjorina. Kayu  Kaili  natuvu    nalangga,  danea  sepi-sepi  nu  kayu  nombaliu kayu  ntanina  (  kayu yang paling tinggi  pohonya). Nuapa manfaat  kayu Kaili  pada  zaman  ngaulu?  Ngaulu  katuvua  ri ambena hamai Tasi vuri bayangi, katuvua naria  agari buluna, kayu  kaili  najadi  tanda   bagi  tona berlayar  dako ri  tasi buri  , ane  tona  morantau  manggita  kayu  nalangga,  na  tuvu,  itu tandana  katuvua  naria  ri  sekitar  nu  kayu,  yaitu  kayu  Kaili (Tagwir labuntina, 2017)

Terjemahan.  Suku  Kaili  yang  mendiami  wilayah Kabupaten  Donggala    Sulawesi  Tengah  yang  saat  ini  telah menjadi  Kabupaten  Sigi,  berdasarkan  tradisi  melalui  cerita  yang diwariskan secara turun temurun, memberikan penjelasan bahwa  penguni  pertama  masyarakat  yang  ada  di  wilayah Sulawesi  Tengah    bahwa  masyarakat  To  Kaili    mendiami  daerah-daerah  pegunungan,  disebabkan  pada  zaman  lampau kehidupan  yang  ada  di  dataran  adalah  lembah  lautan.  Kehidupan  ini  dimanfaatkan  para pelayar-pelayar  ulung  yang mengarungi pelayaran di zaman lampau dikenal dengan istilah Tasi  vuri    (laut hitam).  Pada  zaman lampau ketika  melakukan pelayaran  yang  menjadi  tanda  atau  sebagai  symbol  adanya sebuah kehidupan di daerah pegunungan adalah sebuah pohon yang  disebut  pohon  Kaili.  Sebuah  pohon  yang  menjulang tinggi,  memiliki  serpihan-serpihan  dahan  dan  ranting  yang sangat banyak, pada zaman lampau pohon ini sebagai  symbol adanya  kehidupan  apabilah  akan  menemukan  sebuah  pohon yang menjulang tinggi yang disebut Pohon Kaili.

          Kehidupan  masyarakat  yang  ada  di  Kabupaten  Sigi Sulawesi  Tengah  pada  zaman  lampau  merupakan  kisah mengenai  bagaimana  kehidupan  masyarakat  menjalin  kerja sama,  hubungan  sosial  dan  kekerabatan  telah  tejalin  dengan orang–orang  luar  yang  datang  mengujungi  wilayah  Sulawesi Tengah.  Cerita  lisan  pada  masyarakat  Etnik  Kaili  juga mengambarkan  sebuah  cerita  mengenai  sebuah  pohon  yang sangat  di  kenal  oleh  masyarakat  Etnik  Kaili  pada  zaman Lampau ketika para  pelaut melakukan pelayaran yang dikenal  dengan sebutan pohon Kaili. Menurut Sanati bahwa pohon Kaili sebagai  ciri  khas  penanda  sebuah  kehidupan  pada  masa lampau, dan konon kabarnya  bahwa sebutan bagi Etnik Kaili di simbolkan  dari  sebuah  pohon  Kaili  yang  menjulang  tinggi, sehingga  pohon  Kaili  banyak  sekali  ditemukan  di  daerah-daerah  pegunungan  yanga  da  di  Desa  Loru,  Pombewe,  Desa Bangga  yang  ada  di wilayah  Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah. Pada zaman lampau kayu ini sangat memberikan manfaat bagi para  pengembara  yang  melintasi  lautan  di  Sulawesi  Tengah, sebagai  pertanda  simbol    bagi  perantau,  ketika  akan  melihat pohon  menjulang  tinggi  (  kayu  Kaili)  sebagai  penunjuk  arah bahwa ada tanda kehidupan yaitu di daerah pegunungan.

Masyarakat Etnik Kaili yang identik dengan sebutan  To Kaili  merupakan Etnik  yang  memiliki  nilai-nilai  budaya  tutur  lisan  yang perlu  diwariskan  dari  generasi-kegenerasi,  melalui karya  dalam  wujud  dokumen    tulisan,  dengan  demikian   budaya ini tercatat,  terdokumentasikan sebagai  budaya daerah yang  memilki  kekhasan  sebagai  budaya  lokal  yang  akan memperkaya  nilai-nilai  budaya  Nasional.  Pentingnya

 

melakukan  inventarisasi  terhadap  budaya  lokal  di  Sulawesi Tengah  merupakan  sebuah  upaya  yang  dilakukan  untuk melakukan  promosi  terhadap  kebudayaan  daerah    yaitu mengenai  asal usul  penghuni pertama  masyarakat  Etnik  Kaili  yang  ada  di  Kabupaten  Sigi  Propinsi  Sulawesi  Tengah. (Misnah, 2017)

          Hasil  kajian  ini  memberikan  sebuah  gambaran  bahwa pada  masa  lampau  berdasarkan  tradisi  lisan  (Motutura)  pada masyarakat Etnik  Kaili bahwa penghuni pertama atau asal usul nenek moyang Etnik Kaili di Kabupaten Sigi  Propinsi Sulawesi Tengah  sangat  syarat  dengan  nuansa-nuansa  mitos.  Hasil penelusuran  secara  etnografi    menemukan  data  bahwa  asal usul To Kaili pada zaman lampau  mendiami wilayah/ daerah-daerah      pegunungan  karena  pada  zaman  lampau  wilayah Sulawesi Tengah  merupakan  hamparan laut  yang sangat luas.  Berdasarkan tradisi lisan  yang diyakini oleh  masyarakat yang ada  di  Kabupaten  Sigi  nenek  moyang  To  Kaili  merupakan penjelmaan  Dewa  dari  langit  (Tomanuru)  yang  memiliki kemampuan sakti, yang   berasal  dari Tope bête ri bolo  nu Vatu ( orang  yang  berasal  dari  bambu  kuning).    Pernyataan  ini  di dukung oleh  Kajian Fauziah (2017) dalam goresan  singkatnya menguraikan bahwa asal usul nenek moyang orang suku  Kaili    merupakan  keturunan  yang  berasal    dari  langit  atau  dari kayangan, yang   merupakan  jelmaan  Dewa,  dan  suku  Kaili  ini merupakan  suku  yang  paling  mendominasi    di  Sulawesi Tengah (Fauziah, 2017). 

         Pentingnya melakukan  dokumentasi  terhadap  informasi lisan  (Motutura)  secara turu-temurun  yang  merupakan  sebuah bentuk naskah kuno yang tersimpan dalam memory para tokoh sejarah,  tokoh  adat,  atau  para  informan-informan  yang mengetahui  sejarah  asal  usul  nenek  moyang  To  Kaili  di Kabupaten  Sigi  Propinsi  Sulawesi  Tengah.  Sumber  informasi yang  disampaikan  melalui  budaya  tutur  dari  mulut-kemulut merupakan  informasi-informasi  yang  sangat  penting  dan berharga  untuk  dilakukan  inventarisasi,.  Pendokumentasian dalam bentuk sebuah  karya  tulis  yang  memberikan informasi-informasi,  mengenai  bagaimana  kehidupan  masyarakat  pada masa  lampau  dan  hal  ini  menjadi  sumber  informasi  bagi generasi  saat  ini.  Dengan  demikian  untuk    menjadikan  ini sebagai  sebuah  budaya,  pentingnya  penelusuran  data  melalui tutur lisan yang  sangat  penting  untuk  diketahui para generasi muda sebagai pewaris budaya. 

          Masyarakat  Etnik  Kaili  memiliki  nilai-nilai  value  pada budaya  lokal  tradisi  Motutura  (cerita  lisan)  secara  turun- temurun  merupakan  sebuah  budaya  yang  harus  diwariskan kepada  generasi  mudah  saat  ini,  oleh  karena  itu  cerita  lisan pada  zaman  lampau  mengenai  kehidupan  nenek  moyang  To Kaili yang  mendiami lembah-lembah pada daerah  pegunungan di  wilayah  Kabupaten  Sigi  pada  zaman  lampau  memberikan gambaran pemotretan budaya pada zaman lampau, bagaimana masyarakat  mempertahankan  hidup  dan  menjalin  kerjasama, dan  mempertahankan  nilai-nilai  budaya,  tradisi  yang merupakan  sebuah  warisan  budaya  leluhur  yang  penting untuk di transfer kepada generasi saat ini. 

          Informasi  tradisi  lisan  Motutura yang  disampaikan oleh para  informan  memberikan  penjelasan  bahwa  pada  zama lampau di Kapupaten Sigi  Propinsi Sulawesi Tengah, memili 2 (dua) kampung yang sangat tua yaitu Dusun Tompu dan Dusun Ranggonau yang merupakan pijakan dan cikal bakal kehidupan masayarakat  pada  zaman  lampau  yang  memiliki  nilai-nilai historis.  Berdasarkan  informasi  melalui    cerita  lisan menjelaskan bahwa pada zaman lampau masyarakat Etnik Kaili  dari versi asal-usul nenek moyang mendeskripsikan kehidupan nenek  moyang  To  Kaili  mendiami  wilayah    di  daerah pegunungan  karena  wilayah  dataran  pada  zaman  lampau merupakan sebuah hamparan lautan yang sangat luas   disebut dengan  istilah  Tasi  Vuri  (lautan  yang  luas/  laut  hitam  jika dipandang  sejauh  mata  memandang)  .Sumber-sumber informasi  mengenai  asal  usul  nenek  moyang  To  Kaili  melalui penelusuran  tradisi  lisan  (Motutura)  yang  dilakukan  di Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah, merupakan rekaman informasi  yang  sangat penting  untuk diuraikan  dalam  sebuah karya dalam wujud pendokumentasian secara tertulis.

          Budaya  tutur  secara  lisan  memiliki  nilai-nilai  yang penting  dan  bermanfaat  bagi  generasi  sekarang  yang merupakan  pewaris  budaya  pada  masa  lampau  yang memahami,  mengetahui,    asal  usul  secara  historis  mengenai budauya  lokal (daerah).  Upaya untuk  melakukan  penggalian, penelusuran,  identifikasi,  dan  menyebarluaskan  informasi mengenai  asal  usul  nenek  moyang  To  Kaili  dari  tradisi  lisan (Motutura),    merupakan  suatu  upaya  untuk  mempromosikan budaya  daerah  yang akan  menambah  kekayaan,  aset  budaya yang  akan  menjadi  kebanggaan  dari  generasi  ke  generasi sebagai  bingkai  kehidupan  masyarakat  pada  zaman  lampau yang  akan  digunakan  sebagai  pijakan    bagi  pengembangan sikap, tindakan manusia di  masa mendatang. 

          Tradisi  lisan  yang  berkembang  di  Kabupaten  Sigi menjelaskan  bahwa  kehidupan  nenek  moyang  To  Kaili mendiami  daerah  pegununggan yaitu Ranoromba,  Raranggonau dan  Tompu,  yang  diuraikan  dari  kajian    penelusuran  tradisi lisan.  Asal  usul  penghuni  pertama  nenek  moyang  To  Kaili diuraikan  dalam  beberapa  informasi  para  informan menjelaskan  bahwa  asal  usul  To  Kaili  merupakan  sebuah penjelmaan  dari  kayangan  yang  disebut  dengan  Tomanuru (manusia  dari  kayangan),  yang  dianggap  memiliki  kekuatan supranatural,  kekuatan  sakti  yang  merupakan  penjelmaan Dewa.  Uraian-uraian mengenai asal usul To Kaili di Kabupaten Sigi  pada  masa  lampau  tidak  bisah  dipisahkan  dengan kepercayaan masyarakat Etnik  Kaili mengenai asal usul sebuah pohon  yang  disebut  kayu  Kaili  (pohon  Kaili).  Berdasarkan tradisi lisan yang berkembang di  Kabupaten  Sigi  menguraikan   bahwa  Etnik  Kaili  disimbolkan  dari  sebuah  pohon  yang dinamakan  pohon  Kaili,  untuk  memberikan  gambaran  yang jelas  bagaimana  wujud  pohon  Kaili  akan  diuraikan  dalam gambar sebagai berikut : Twiter Muhidin, 2019.

          Uraian  yang  tidak kalah  menariknya  dalam  pemaparan tradisi  lisan  para    informan  yang  ada  di  atas  menjelaskan tentang asal usul kayu Kaili dengan kehidupan nenek moyang pada  zaman  lampau  merupakan  rangkaian  kisah  secasa  lisan dan  mengandung  nilai-nilai  mitos  yang tidak  bisa dipisahkan ketika  menguraikan bagaimana  proses kehidupan  masyarakat pada  zaman lampau,   dan  kaitanya  dengan  pohon  Kaili  yang disimbolkan sebagai  To  Kaili  (orang  Kaili).  Akan  tetapi  kondisi saat  ini  mengenai  pohon  Kaili  sangat  memprihatinkan  dan pohon  tersebut  terancam  mengalami  kepunahan.    Menurut Informan  Eko  cerita  Motutura  mengenai asal  usul Pohon  Kaili yang saat ini sudah sangat sulit kita temukan bahkan terancam akan  mengalami  kepunahan  akibat  maraknya  penebangan pohon secara liar  akibat ulah manusia yang  tidak  bertanggung jawab.    Pernyataan  ini  di  dukung  oleh    Sanati    menjelaskan dalam uraianya mengenai pohon Kaili sebagai berikut:

Kayu  Kaili  simbol  kita  to  kaili  sifata  to  kaili  eva  kayu  kaili, natuvu  nambaso,  asal  mu asal  kita  to  kaili dako ri  kayu  kaili kita to  kaili 30 suku  kaili ri Sulawesi Tengah, salah satuna To kaili dako ri asal muasal  kayu  kaili.  Kayu  kaili  kayu nambaso natuvu  hamai  ri  panggale,  sanggata  to  kaili  asal  muasalna dako ri kayu Kaili. Apa kayu kaili natuvu nambaso, mbadekeika Manda katuvua  pada  zaman ngaulu ane maria  todea  makava manggita katuvua ri bulu Ranggonau , ante Tompu ngata Tua ri  kabupaten  sigi.  Tapi  ngapuri  kayu-kayu  kaili santagamatemo  nikava,  nadea  topo  vuri,  topo  tovo  kayu, namatemo, malipomo ciri nu khas kita to  kaili dako ri  asal mu asal kayu Kaili (Sanati, 2017)

Terjemahan.  Kayu  Kaili merupakan  sebuah  symbol  bagi masyarakat  Etnik  Kaili  yang  ada  di  Sulawesi  Tengah  yang terdiri  dari  30    rumpun  dialek  Kaili.  Asal  mula  suku  Kaili berawal dari  sebuah  pohon  yang  dinakamakan kayu Kaili dan memiliki  badan  pohon  yang  sangat  besar,  memiliki  ranting-ranting  yang  banyak,  dan  menanunggi  pohon-Pohon  lainya. Simbol pohon Kaili sebagai tanda kehidupan  masyarakat  pada zaman  lampau  yang  mendiami  wilayah  pegunungan  pada zaman  lampau  yaitu  sebuah  kampung  yang  dianamakan  kampu  Ranggonau dan  Tompu  yang  terletak  di  Kabupaten  Sigi Provinsi  Sulawesi  Tengah.  Menjadi   keprihatinan saat ini  kayu Kaili  mulai  mengalami ancaman  kepunahan  karena  maraknya penebangan  pohon  secara  liar  yang  dilakukan  oleh  oknum tidak  bertanggung  jawab,  dan  adanya  penebangan  pohon untuk kebutuhan masyarakat digunakan sebagai kayu bakar.

          Berdasarkan  uraian  yang  ada  di  atas  dipaparkan  oleh para  informan/narasumber  mengenai  asal  usul  To  Kaili  dari tradisi lisan (Motutura) bahwa asal mula penyebutan bagi orang Kaili atau To Kaili ada versi secara lisan mengungkapkan bahwa  penyebutan  To  Kaili  berasal  dari  sebuah  pohon  yang dinamakan  pohon  Kaili.  Karakteristik  pohon tersebut  memilki badan pohon yang sangat besar, menjulang tinggi, memberikan manfaat  bagi  tanaman,  dan  pohon-pohon  yang  tumbuh  di sekitarnya.  (Lihat  gambar  1.2).  Deskripsi  karakter  pohon tersebut  diibaratkan  sebagai  karakter  To  Kaili  (orang  Kaili) dalam  kehidupan  sosial  bermasyarakat,  yaitu  memiliki  sikap mengayomi,  menjalin  hubungan  kerja  sama  secara  harmonis, hidup  aman  dan  berdampingan  dengan  para  pedagang    atau para pelayar-pelayar yang datang berkunjung ke Tanah Kaili. 

         Pada  uraian  tradisi  lisan  (Motutura)  mendeskripsikan mengenai  hubungan  antara  penduduk asli  yaitu  To  Kaili yang hidup  dan  mendiami  lereng-lereng  pegunungan  di  wilayah Kabupaten  Sigi  Propinsi  Sulawesi  Tengah,  To  Kaili  telah menjalin  hubungan  yang  baik,  dan  memiliki  hubungan  yang erat,  harmonis  dengan  para  pendatang  yang  berkunjung  ke tanah  Kaili.  Salah  satu  hubungan  sosial  masyarakat  Etnik dengan  masyarakat  pendatang  pada zaman  lampau bisa  Kaili kita  lihat  dari  hubungan  baik,  antara  Ratu  yang  memimpin kerajaan Sigi dan   pelayar  ulung yang  bernama  Sawerigading.  Para pelayar, perantau pasa zaman lampau  mengarungi lautan di  Tanah  Kaili  menjadikan  pohon  Kaili  sebagai  simbol  ketika berlayar  sebagai  pijakan  bahwa  akan  ada  sebuah  peradaban, kehidupan ketika akan melihat pohon Kaili menjulang tinggi di daerah  pegunungan.  Pohon  Kaili    sebagai  simbol  kehidupan pada  zaman  lampau  akan  menjadi  sebuah  kisah,  cerita,  yang memiliki  nilai  khas  sebuah  budaya  lokal  yang  ada  di  daerah Kabupaten  Sigi  Propinsi  Sulawesi  Tengah.  Nilai-nilai  manfaat pada  tradisi  lisan  tersebut  akan  menjadi  kebanggaan,  bagi masyarakat  Etnik  Kaili  yang  memiliki  nilai-nilai  sejarah  yang perlu diceritakan, dikisahkan dan ini merupakan sebuah wujud  pewarisan  budaya  yang  dilanjutkan  pada  karya mempromosikan budaya tersebut  dalam bentuk tulisan.  

          Kondisi  Saat  ini  mengenai  sebuah  pohon  yang dinamakan  pohon  Kaili  sudah  jarang  kita  temukan,  bahkan akan  terancam  mengalami  kepunahan  dengan  adanya tindakan-tindakan  manusia  yang  tidak  bertanggung  jawab yang  melakukan  penebangan  pohon  secara  liar,  melakukan eksploitasi sumber daya alam, yang akan memberikan  dampak negativ bagi generasi berikutnya. Pernyataan ini juga diuraikan oleh  Kacandipa   salah  salah  satu tokoh adat yang ada di  Desa Loru  yang  menguraikan  tentang  keprihatinanya    terhadap pohon Kaili yang  merupakan  icon  yang memiliki  nilai sejarah, menjadi kebanggaan orang Kaili (To  Kaili) terancam mengalami kepunahan.

Nadeamo  kayu-kayu  mbaso,  kayu  kaili  namate,  apa  ni  pake ntodea majadi kayu nu banua, kayu raporiapu, kayu ra pobalu, tindakanu manusia ledo  nompekirika  katuvua  ntodea, ambena natuvu  dako  ri kayu-kayu  mbaso  eva kayu  Kaili.   Kayu  kaili ane  raelo  hau  ri  uluna  nasusamo  rakavata,  nadeamo  kayu nitovo, pade ledo nitudaki mpanji. Ane kita mantora vai karaja nu  manusia  mbarugi to  dea,  kayu  nitovo najadimo  kita  niuli banjir  bandang.  Uve  nakuramo,  Mata  nu  uve  nakodimo, mandasamo todea matuvu.

Terjemahan.   Banyak kayu-kayu yang  ada di hutan yang  sangat luas di daerah pegunungan di wilayah Kabupaten Sigi,  sudah  sangat  langkah  dan  susah  ditemukan  saat  ini,  hal  ini disebabkan oleh maraknya  penebangan pohon, ekspoitasi hasil hutan yang digunakan untuk keperluan individual yaitu  dijual untuk  kebutuhan  ekonomi  dan    di  gunakan  sebagai  bahan bakar  ketika  memasak,    kayu-kayu  ditebang  dan  tidak dilakukan  penananman  kembali,  sehingga    salah  satu  kayu sebagai  kebanggaan  kita  Etnik  Kaili  yaitu  kayu  Kaili  sudah sangat sulit bahkan terancam punah (Kacandipa, 2018).

          Berdasarkan data hasil wawancara,  penelusuran data di lapangan, dan di dukung data observasi  menemukan beberapa data-data  yang  memberikan  dampak  negatif  yaitu  maraknya penebangan  pohon  yang  dilakukan  oleh  manusia  untuk melakukan  pemenuhan  kebutuhan  ekonomi,  kebutuhan pribadi dengan cara melakukan  ekspoitasi  terhadap hasil alam yaitu pembalakan  liar,  penembangan  pohon-pohon yang  akan merugikan  bagi kesinambungan  hidup  pada  masa  yang  akan datang.  Maraknya  penebangan  pohon  yang  dilakukan  oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab berdampak pada lingkungan yang ada di Kabupaten Sigi  Sulawesi Tengah yaitu terjadinya tanah longsor dan banjir bandang menerpah wilayah tersebut. 

          Penebangan  pohon-pohon  yang  dilakukan  oleh  oknum yang tidak bertanggung jawab  antara lain  adalah  pohon  Kaili,  merupakan  sebuah  pohon  yang  memiliki  nilai-nilai  sejarah peradaban  pada  zaman  lampau  sebelum  masuknya  penjajah Belanada  di  Indonesia.  Pohon  Kaili  merupakan  sebuah gambaran  bagaiamana  kehidupan  manusia  pada  zaman lampau  dan  dijadikan  sebagai  sebuah simbol   adanya  sebuah peraban,  tanda  kehidupan,    pada  zaman  lampau.  Peradaban masyarakat  Etnik  Kaili  secara  historis  memberikan  gambaran bagaiman  masyarakat  Etnik  Kaili  hidup  secara  aman, berdampingan,  dan bisa menjalin kerja sama yang baik dengan fihak-fihak pendatang yang berkunjung  ke wilayah Kabupaten Sigi Propinsi Sulawesi Tengah pada zaman lampau.

         Nilai-nilai  historis  yang  ada dalam cerita lisan  Motutura mengenai  pohon  Kaili,  merupakan  sebuah  kisah  cerita  yang sangat menarik untuk di  wariskan  kepada  generasi  berikutnya yang  akan  menjadi  sebuah  kebanggaan  bahwa  dalam  tradisi lisan Motutura masyarakat Etnik Kaili memiliki nilai-nilai yang sanagat  penting  untuk  dijaga,  dipelihara  dan  dilestarikan. Pohon  Kaili  merupakan  simbol  kehidupan  masyarakat  Etnik Kaili  pada  zaman  lampau  yang  saat  ini  harus  tetap  dijaga kelestarianya  walaupun  pada  kondisi  saat  ini  pohon  Kaili menjadi lagkah dan sulit kita temukan. Pelestarian kayu/pohon Kaili , merupakan wujud kepedulian yang sangat memiliki nilai manfaat bagi mahluk hidup yang ada di muka buni ini.

          Pohon  Kaili  merupakan  simbol  kehidupan  pada  zaman lampau  yang  memiliki  nilai-nilai  historis  yang  merupakan sumber informasi dari  tradisi lisan  yang ada di Kabupaten Sigi Propinsi  Sulawesi  Tengah.  Menurut  tradisi  lisan  masyarakat Etnik  Kaili  (To  Kaili)  yang  merupakan  suku  terbanyak  mendiami  wilayah  Sulawesi  Tengah  bahwa  pada  zaman lampau  pohon  Kaili  digunakan    sebagai  sebuah  simbol    bagi para  pelaut-pelaut  ulung  ketika  akan  mengunjunggi  suatu daerah. Dengan demikian  pohon  Kaili merupakan simbol atau ciri  khas  di  daerah  pegunungan  yang  memberikan  pertanda bahwa  ada  kehidupan, peradaban  yang  berkembang  disekitar pohon  tersebut.    Menurut  uraian  herawati    (2015,    hlm  163) bahwa:

Penamaan  Etnik  Kaili  pada  zaman  lampau  laut membujur  ke  Selatan  dari  Tanjung  Karang  sampai  Bangga,  Pakuli  dan  Sombe  merupakan  pelabuhan-pelabuhan  ternama  yang  dilalui  oleh  masyarakat  Etnik Kaili  dengan  menggunakan  sarana  transportasi  perahu yang  menghubungkan  kampung  yang  satu  dengan kampung   yang  lainya,   ketika mengarunggi  pelayaran ada  sebuah  pohon  yang  menjulang  tinggi  terletak    di Pakuli,  yang  dinamakan    Ntiro  Tasi,  pohon  ini  yang menjadi  pedoman  bagi  masyarakat  yang  melakukan pelayaran  kemana  mana,  inilah  symbol    kayu  yang diyakini  sebagian  masyarakat  Etnik  Kaili  sebagai  cikal bakal atau asal usul disebut Kaili atau To Kaili.(Herawati, 2017)

          Masyarakat Etnik Kaili yang mendiami wilayah yang ada di  Kabupaten  Sigi  Propinsi  Sulawesi  Tengah  merupakan masyarakat  yang  memiliki  nilai-nilai  peradaban  yang  tinggi pada zaman lampau, tergambar pada hubungan yang harmonis antara para pelaut ulung yang datang berkunjung dengan raja yang  mendiami  wilayah  yang  ada  di  Kabupate  Sigi  pada zaman  lampau.  Dalam  kehidupan  yang  di  lakoni  masyarakat To  Kaili  pada  zaman  lampau  sangat  menjaga  hubungan kekeluargaan,  harmonisasi  dan  menghargai  orang  lain. Masyarakat To Kaili dari cerita tradisi lisan pada zaman lampau selalu  menghubungkan  anatara  penyebutan  istiah  To  Kaili dengan  sebutan  pohon  Kaili  yang  disebutkan  sebagai  cikal bakal  penyebutan  bagi  masyarakat  Etnik  Kaili  yang  ada  di Kabupaten  Sigi  saat  ini.  Uraian  mengenai  pohon  Kaili merupakan  sebuah  uraian  yang  menarik  jika  kita menghubungkan  mengenai  asal  usul  To  Kaili,  tetapi  kondisi saat  ini  sangat  memprihatinkan banyak  generasi  mudah tidak mengenal  lagi  bagaimana  bentuk,  wujud  dari  pohon  Kaili tersebut.  Apalagi  dengan  perkembangan arus globalisasi  yang terjadi  saat  ini  pohon-pohon  yang  memiliki  nilai-nilai  sejarah bagi  peradaban  masyarakat  Etnik  To  Kaili  sangat  sulit  kita temukan, hal ini disebabkan oleh maraknya penebangan pohon secara  liar, yang  dilakukan oleh  masyarakat  yang  disebabkan oleh  kebutuhan-kebutuhan  ekonomi  sehingga  melakukan eksploitasi terhadap sumber hutan yang ada dan salah satunya adalah  penebangan  pohon  Kaili  yang  menjadi  salah  satu  ciri khas masyarakat To Kaili.

۞ PETA LOKASI Wilayah ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞