Dewan Adat Sigi

Waktu selesai rapat di rumah Ketua Dewan Adat Sigi di Kaleke.

SOSIALISASI

Sosialisasi pendidikan Pemilih.

TOTUA NU ADA

Totua nu Ada. Ane nggaulu Totuamo gala hi nompakenggenisi ngata ...

Silaturrahmi

Silaturrahmi dengan Yang Mulia Sri Paduka Mangku Alam II.

Minggu, 24 Juli 2022

Sejarah Palu dan Wilayahnya

 

SEJARAH LEMBAH PALU

 Suku Kaili adalah suku yang mendiami lembah palu. Atau bisa disebut juga sebagai suku asli lembah palu. Masyarakat suku ini mendiami sebagian besar wilayah sulawesi tengah meliputi Kota Palu, Wilayah kabupaten Donggala, Kabupaten Kulawi, Parigi dan Ampana, Sebagian Kabupaten poso dan sejumlah kecil mendiami kabupaten lainnya seperti Kabupaten Buol dan kabuaten Toli-toli. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan etimologi dari kata Kaili, salah satunya menyebutkan bahwa kata yang menjadi nama suku orang palu ini berasal dari nama pohon dan buah kaili, yang umumnya tumbuh dihutan"hutan dikawasan daerah ini. Penulis belum pernah membaca penelitian tentang khasanah budayah daerah ini dalam suatu karya ilmiah yang komprehensif mengenai budaya dan tradisi masyarakat ini. Tapi paling tidak  berdasarkan pengalaman, penulis dapat mengungkapkan bahwa Bahasa Kaili yang menjadi bahasa dimasyarakat ini sangatlah unik dan banyak ragamnya. Misalnya bahasa kaili ledo oleh masyarakat palu, kailiedo bagi masyarakat watunonju, Kaili inja  bagi masyarakat Bora, Kaili Tara untuk masyarakat Lasoani, Kaili Ija untuk masyarakat Lambara, Kaili ado untuk masyarakat Pakuli. dan masih banyak lagi

Kawasan Lembah Palu dan sekitarnya beberapa abad yang lampau merupakan dataran air sungai Palu, dan merupakan suatu wilayah yang menjadi  ciri has kebudayaan dan pemerintahan.

Adat hidup dinegeri ini khusus lemba Palu saat ini kecamatan Palu Timur dan Palu Barat, minus kelurahan Tondo, Petobo, dan kecamatan Marawola adalah kerajaan Palu yang dahulu masuk dalam lingkungan kerajaan Gowa.

Kerajaan Palu yang terletak di dataran sungai Palu didirikan seorang pangeran yang berasal dari MARIMA diatas Poboya yang bernama (Pue Nggari).  Pue Nggari  bersama rakyat turun dari  Marima  dan tinggal beberapa lama di Pantosu, dan setelah itu pindah lagi di Walangguni kemudian pindah lagi dilokasi penggaraman saat ini, kemudian pindah lagi ke Pandapa nama sekarang ini Besusu.

Setelah tinggal di Besusu dibuatlah Istana untuk Pangeran yaitu Pue Nggari dan tempatnya dibuat dari bahan tanah disusun secara tinggi dan bertingkat. Setelah dibuatkan Istana di Besusu Pue   kawin lagi dengan Pue Puti dari Dolo, Pue Putih ini, saudara dari Penguasa Dolo yang di sebut pada waktu itu (Bulanggo,

 Pue Nggarai  mempunyai  tiga orang putera dan dua orang puteri yang berada di Palu yaitu -

 Putera

 - Lasamaingu

 - Pue Songu dan  

 - Andi Lana

 

Puteri

 

-          Yenda Bulawa dan

-          Pue  Rupiah.

-           

Tidak lama Pue Nggari  mendiami Lembah Palu kemudian di ikuti keluarganya dari Malino, yaitu  :

-          Rombongan /antakalena turun dan mendiami Kayu Malue

-          Rombongan Pue Voka turun dan mendiami Vatu Tela

-          Rombongan Pue Nggari turun dilokasi penggaraman nama saat ini, dan kemudian mendiami Besusu. Dilokasi penggaraman ini digalilah sumur oleh seorang keluarga Pue Nggari yang bernama Rasede

           Sumur inilah yang diberi nama (Buvu Rasede) sampai sekarang.

-          Rombongan dari Bulili, Gunung Gawalise dan sekitarnya turun langsung ke Tatanga di bawah kepala suku bernama (Raliangi), kemudian langsung mendiamai Bulava dan Penggeve  tidak lama kemudian terus ke Siranindi.

-           

PERISTIWA BERSEJARAH

 Setelah seluruh persyaratan dari Sombarigowa diterima Pue Nggari maka diadakanlah sebagai berikut

 Pengislaman terhadap Pue +ggari bersama keluarganya yang dilaksanakan oleh DatoKarama dengan istilah (PoVonju Tevo).

 Keluarga-keluarga bangsawan yang turut di islamkan sebagai berikut :

-          Vua Pinano isteri dari Pue Nggari

-          Lasamaingu

-           Andi Lana bersama isteri dari Tatanga  

-          Pue Songu tidak mau di %slamkan

-          Yenda Bulava , suaminya tidak mau di islamkan dan tidak menerima agama Islam.

-          Pue Rupiah yang dikenal dengan Pue Sese.

 

Keluarga dari Labunggulili keturunan Dari Silalangi. Serta di islamkan juga Pue Njidi yang berkedudukan Panggewe.

Setelah persyaratan dari somba ri gowa di penuhi semuanya Palu di Proklamirkan sebagaikerajaaan yang berdiri sendiri. Sesudah terlepas dari kekuasaan somba ri gowa tapi yang dipertahankan adalah -Kalau 'owa menjadi )usuh maka palu menjadi Susah, kalau Palu tidak dapat menyelesaikanmasalah di ujung pandang kapasana.maka disusunlah Pemerintahan sebagai berikut :

 -  Magau adalah Pue Nggari .

 -  Madika Malolo dari keluarga Silalangi.

 -  Madika Matua tetap dipegang keluarga di Besusu.

 -  Baligau keluarga Madika Tatanga.


Sumber : https://www.scribd.com/document/411384589/Sejarah-Tadulako-Tanah-Kaili

Sejarah Suku Kulawi

 

Para ahli etnografi lama menggolongkan orang/suku Kulawi sebagai salah satu bagian dari kelompok orang/suku Toraja Barat. Suku bangsa itu sendiri lebih suka menyebut dirinya orang Kulawi atau Tokulawi. Mereka mendiami daerah bagian selatan Danau Lindu, yang termasuk dalam wilayah Kulawi di Donggala Provinsi Sulawesi Tengah.

Jumlah mereka saat ini sekitar 50.000 jiwa. Menurut legenda, mereka berasal dari daerah Bora dan Sigi di lembah Palu. Diceritakan bahwa pada zaman dahulu kala ada seorang tokoh dari Bora yang berburu bersama dengan pengikutnya sampai ke hutan-hutan di Gunung Momi. Setelah penat berburu maka para pemburu itu beristirahat di bawah sebuah pohon kayu yang disebut Kulawi. Melihat kesuburan daerah itu maka tokoh dari Bora itu memutuskan untuk menetap di sana. Sejak itu daerah baru tersebut mereka beri nama Kulawi.

Bahasa Suku Kulawi

Orang Kulawi memakai bahasa Kulawi dengan beberapa dialek, seperti dialek Kuwali-Lindu yang dipengaruhi oleh bahasa Kaili. Kelompok ini mendiami daerah sekitar Danau Lindu. Kemudian kelompok pemakai dialek Toboko-Umpa yang berdiam di sekitar Sungai Lariang.

Mata Pencaharian Suku Kulawi

Orang Kulawi umumnya hidup dari pertanian di sawah dan ladang. Tanaman pokok mereka adalah padi, selain juga menanam jagung dan palawija lainnya. Tanaman keras untuk komoditas ekspor seperti cengkeh mulai ditanam tahun 1970. Sebelumnya mereka sudah menanam kopi dan kelapa sebagai barang ekspor. Usaha mereka yang lain adalah beternak kerbau, babi, dan usaha tambak ikan. Ada juga yang mengumpulkan hasil hutan serta berburu rusa dan babi atau menangkap ikan di sungai.

Kekeluargaan, Kekerabatan dan Kemasyarakatan Suku Kulawi

Masyarakat ini memiliki sistem garis keturunan yang bilateral sifatnya. Pasangan-pasangan yang baru kawin umumnya tinggal di lingkungan rumah pihak wanita (uksorilokal atau matrilokal), dan setelah anak pertama lahir biasanya mereka pindah ke lingkungan pihak laki-laki, atau membuat rumah baru sendiri.

Pada zaman dulu masyarakat Kulawi berbentuk sebuah kerajaan kecil, rajanya disebut Magau atau Sangkala. Ia dibantu oleh sebuah dewan pemerintahan yang anggota-anggotanya berasal dari lapisan tinggi menurut adat, yaitu kaum to tua ngata. Pada masa sekarang pengaruh pelapisan lama itu sudah semakin tipis. Golongan tertinggi zaman dulu adalah maradika yang terdiri dari raja-raja dan keluarganya, lalu golongan to tua ngata sebagai bangsawan pembantu raja. Orang kebanyakan disebut to dea, di bawah sekali adalah golongan budak dan hamba sahaya yang disebut batua.

 

Agama Dan Kepercayaan Suku Kulawi

Kepercayaan religi lama suku Kulawi meyakini adanya dewa tertinggi yang disebut Karampoa I Langi dan Karampoa I Tana (Pencipta langit dan Tanah). Selain itu ada pula sejumlah dewa yang dianggap menguasai bagian-bagian tertentu dari alam dan kehidupan, seperti dewa perang yang disebut Taliwarani. Dewa ini dipuja oleh para prajurit dan tadulako (panglima). Alam sekitar diyakini memiliki kekuatan-kekuatan yang terdapat dalam benda-benda dan makhluk hidup tertentu. Pada masa sekarang orang/suku Kulawi umumnya telah memeluk agama Kristen yang masuk sejak tahun 1913.

Pakaian Adat Suku Kulawi

Pakaian asli orang Kulawi terbuat dari serat kulit pohon yang disebut vuya. Kaum laki-laki memakainya seperti cawat, kaum wanita memakainya seperti rok. Pakaian tradisional yang dipakai orang Kulawi dalam kesempatan resmi cukup khas. Kaum wanita memaki rok bersusun tiga yang diberi hiasan guntingan kain beraneka-warna bentuk bunga. Baju atasnya dihiasai manik-manik berwarna. Memakai kalung emas bercorak tradisional yang disebut kamagi atau enu.

Kaum pria memakai kemeja longgar dengan model sederhana, selempang, celana pendek yang menyempit di bagian bawah, memakai kain penutup kepala, ikat pinggang dengan kelewang tergantung di sebelah kiri. Bentuk rok wanita dan celana pria Kulawi tersebut nampaknya berasal dari pengaruh pakaian orang Portugis yang pernah terdampar ke daerah.

Sejarah Suku KAILI

 

 Sukua atau Orang Kaili oleh sebagian ahli ilmu bangsa-bangsa disebut juga sebagai orang Toraja Barat atau Toraja Palu, Toraja Parigi-Kaili, Toraja Sigi. Mereka berdiam di wilayah Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. Jumlah populasinya sekitar 300.000-350.000 jiwa. Suku bangsa Kaili sebenarnya terdiri dari banyak sub-suku bangsa.

Dalam pergaulan antar suku bangsa di Sulawesi bagian tengah setiap nama suku bangsa dilengkapi dengan prefiks to yang berarti "orang". Sehingga orang Kaili disebut Tokaili atau To Kaili. Sub suku yang lain juga adalah Palu (To-ri-Palu), Biromaru, Dolo, Sigi, Pakuli, Bangga, Baluase, Sibalaya, Sidondo, Lindu, Banggakoro, Tamungkolowi, Baku, Kulawi, Tawaeli (Payapi), Susu, Balinggi, Dolago, Petimpe, Raranggonau dan Parigi.

Selain itu ada pula di antara kelompok-kelompok mereka yang digolongkan orang luar sebagai masyarakat "terasing", karena jarang sekali berhubungan dengan dunia luar. Sementara itu di kalangan berbagai sub-suku bangsa tersebut terjadi lagi penggolongan menurut wilayah pemukiman dan hubungan kekerabatan.

Bahasa Suku Kaili

Bahasa Kaili termasuk golongan "bahasa tak" atau bahasa ingkar. Bahasa Kaili terbagi pula ke dalam beberapa dialek, di samping adanya bahasa-bahasa sub-suku bangsa tertentu yang dianggap asing bagi sub-suku bangsa yang lain. Dialek-dialek itu antara lain dialek Kaili, dialek Tomini, dialek Dampelas, dialek Balaesang, dialek Pipikoro, Bolano, Patapa, dan lain-lain.

Mata Pencaharian Suku Kaili

Mata pencaharian utama masyarakat Kaili adalah bercocok tanam di sawah dan ladang. Tanaman yang biasa mereka tanam adalah padi, jagung dan sayur-sayuran. Selain itu, pada masa sekarang mereka juga bertanam cengkeh, kopi dan kelapa. Dari hutan mereka mengumpulkan kayu hitam, damar, dan rotan yang cukup mahal harganya. Sebagian di antara mereka menangkap ikan di sekitar pantai dan muara sungai. Mereka juga terkenal sebagai penenun kain tradisional yang cukup terkenal, yaitu sarung Donggala.

Kekerabatan, Kekeluargaan Dan Kemasyarakatan Suku Kaili

Masyarakat ini menggunakan sistem hubungan kekerabatan bilateral. Hubungan perjodohan yang menjadi dambaan lama adalah endogami dan kuatnya pengaruh orang tua dalam penentuan jodoh. Walaupun bentuk keluarga batih cukup berfungsi, akan tetapi kelompok kekerabatan yang terutama adalah keluarga luas bilateral yang mereka sebut ntina. Keluarga luas ini diaktifkan terutama dalam setiap upacara daur hidup. Akan tetapi masyarakat ini juga mengenal sistem pewarisan menurut keturunan ibu dan sistem menetap setelah kawin yang uksorilokal sifatnya.

Struktur sosial masyarakat Kaili pada masa dulu terdiri atas beberapa lapisan. Lapisan pertama adalah maradika, yaitu golongan bangsawan keturunan bekas raja-raja Kaili dari cikal bakal mereka yang dikenal sebagai to manuru, kedua adalah lapisan to guranungata, yaitu keturunan para pembesar bawahan raja-raja zaman dulu, ketiga lapisan to dea, yaitu orang kebanyakan, dan terakhir lapisan batua atau hamba sahaya. Rajanya mereka sebut magau. Dalam pemerintahannya setiap magau biasanya dibantu oleh beberapa orang tokoh, antara lain, madika malolo (raja muda), madika matua (mangkubumi yang mengurus kemakmuran), ponggawa (pemimpin adat perkauman), galara (penyelenggara hukum peradilan adat), tadulako (panglima atau hulubalang pertahanan dan keamanan), pabicara (semacam hakim), sekarang pelapisan sosial seperti ini semakin hilang.

Agama Dan Kepercayaan Suku Kaili

Pada masa sekarang sebagian besar orang Kaili menganut agama Islam. Sebelum agama Islam masuk pada abad ke-17, sistem kepercayaan lama mereka yang disebut Balia merupakan pemujaan kepada dewa-dewa dan roh nenek moyang. Dewa tertinggi mereka sebut dengan berbagai gelar, seperti Topetaru (sang pencipta), Topebagi (sang penentu), Topejadi (sang pencipta). Setelah agama islam masuk para penganut dewa-dewa ini mengenal pula istilah Alatala bagi dewa tertingginya.

Dewa kesuburan mereka sebut Buriro. Makhluk-makhluk halus yang menghuni lembah, gunung dan benda-benda yang dianggap keramat disebut tampilangi. Kekuatan-kekuatan gaib dari para dukun dan tukang tenung mereka sebut doti. Kegiatan religi Balia diadakan di rumah pemujaan yang disebut Lobo. Sistem pemujaan religi seperti diperkirakan sebagai salah satu sebab mengapa orang Kaili terbagi-bagi ke dalam kelompok-kelompok keagamaan yang sering tertutup dan terasing sifatnya.

Kegiatan saling menolong dalam kehidupan masyarakat Kaili terutama sekali terlihat dalam pelaksanaan upacara-upacara adat yang amat banyak memakan biaya. Saling tolong ini merupakan kewajiban setiap anggota kekerabatan dan mereka namakan sintuvu. Kegiatan gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan sosial ekonomi masyarakat Kaili sekarang banyak mengambil dasarnya dari sintuvu itu.

Kesenian Suku Kaili

Orang Kaili termasuk salah satu masyarakat yang mengembangkan permainan tradisional sepak raga yang mereka sebut raego atau dero. Dalam pesta-pesta perkawinan dan pertemuan umum mereka suka membacakan seni berpuisi yang disebut waino, isinya merupakan pantun sindiran bersahut-sahutan antara orang muda laki-laki dan perempuan.

Sumber : https://suku-dunia.blogspot.com/2014/09/sejarah-suku-kaili.html


Sejarah Tadulako Tanah Kaili

Sejarah Tadulako Tanah Kaili

TADULAKO DARI SULAWESI TENGAH

MATINYA SANG TADULAKO SEHIMPUN CERITA RAKYAT DARI SULAWESI TENGAH

inilah kisah panglima perang yang tak pernah terkalahkan dalam berbagai peperangan di “Bumi Tadulako” zaham dahulu. Kesaktian yang dimiliki membuat lawan-lawannya tak berkutik dan iaberhasil membebaskan Tanah Lore, negeri Poso dari penaklukan suku-suku lainnya. Alkisah zaman dahulu, negeri Bada selalu mendapat serangan dari orang-orang Baebunta (wilayah Luwu, Sulawesi Selatan), maka atas kedidkdayaan seorang Tadulako dari Behoa, berhasil mengusir penyerang dari Baebunta.

Sejak itulah sang Tadulako dikenal sebagai kesatria, karena jasa-jasanyalah sehingga negeri Bada tidak pernah diserang suku-suku lainnya. Bahkan berhasil menciptakan perdamaian setelah terjadi perjanjian damai dengan lawan-lawannya. Namun dalam pengembaraan Cinta,Sang Tadulako tak berdaya ketika seorang wanita (kekasih yang dikhianati) menumbuknya dengan alu. Tadulako yang perkasa di medan perang itu akhirnya mati tragis di tanah yang dibebaskan. Hanya seorang wanita yang mampu merobohkannya.


Beberapa cerita Tanah Tadulako

MPOLENDA YANG TERKUTUK

(Mpolenda Yang Terbentuk) Polenda seorang pemimpin otoriter yang sulit dikalahkandalam peperangan, sehingga bertindak sewenang-wenang menguasai segala sumber ekonomi.Selain sombong dan takabur, $uga menganggap dirinya paling berkuasa. Akhirnya )polenda bersama istri dan anaknya mendapat kutukan $adi patung megalit. Sampai sekarang patung tersebut dapat dilihat di Desa Wanga Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso.

GADIS KULAVI DALAM POHON

Perburuan yang dilakukan Sadomo, pemuda dari tanah Kailisampai ke dataran Kulawi membuatnya tersesat di tengah hutan. Meskipun tidak mendapatkan binatang buruan, tapi seorang gadis cantik keluar dari dalam pohon yang kemudian dijadikan istri dan menjadi asal-usul suku Kulawi di Kabupaten Sigi.

TUMBAL DI PULAU PELING:

 Berawal dari musim paceklik, mengakibatkan Baku putra seorang pemimpin adat meninggal dunia. Tetapi kemudian dari dalam kuburnya tumbuh ubi besar yang kemudian menjadi sumber makanan pokok di Pulau Peling, Kabupaten Banggai Kepulauan. Konon itulah asal mula adanya Ubi Banggai yang dipercaya sebagai jelmaan dari manusia.

TRAGEDI YAMAMORE:

 Yamamore putri seorang Raja Towale melarikan diri dari istana demimenghindari perkawinan paksa. Dalam pelariannya, ia bersembunyi dengan cara

mencemplungkan diri ke dalam telaga air asin. Maka sejak itulah Yamamore menghilang dan tempatnya dinamai pusat laut atau Pusentasi.

 PERANG MAHADIYAH

Berawal dari keinginan Sang Pelaut menaklukkan Negeri Dampelas, akhirnya terjadi perlawanan dari Mahadiyah. Peperangan pun terjadi hingga telaga yang dijadikan area pertarungan kemudian menjadi Danau Dampelas di Desa Talaga.

SANG PUTRI DAN BENGGA BULA

Putri cantik dari Tanah Kaili diasingkan karena terserang penyakit cacar di tubuhnya. Dalam pengasingan itulah ia dikejar dan dijilat seekor Bengga Bula (kerbau putih), sehingga kulitnya sembuh. Sejak itu pula pihak raja dan keturunannya pantang makan daging kerbau putih.

PERKELAHIAN LABOLONG DENGAN LINDU

Berawal perkelahian Labolong (seeokor anjing raksasa) dengan Lindu (belut raksasa) di sebuah telaga kecil, akhirnya air meluap menjadi danau. Tempat tersebut kemudian dinamai Danau Lindu yang dalam bahasa setempat Lindu berarti belut.

 LEGENDA SANG PALINDO

Patung megalit Palindo atau Polindo di Padang Sepe, datarantinggi Bada yang mengisahkan tentang tokoh perlawanan terhadap serangan dari Kerajaan Luwu. Konon Palindo yang bentuk miring dengan tangah mengarah ke kelaminnya itu menunjukkan simbol persatuan orang Bada zaman dahulu tak mau ditaklukkan.

CERITA TENTANG KUCING KERAMAT

Seekor kucing menyelam ke dalam telaga mengambil jarum milik Sang Putri yang jatuh. Akibatnya, kucing itu basah kuyub dan tak lama kemudian hujan deras dan banjir datang sehingga terbentuklah sebuah danau besar. Dalam mitologi beberapa suku di Sulawesi Tengah, kucing masih disakralkan tidak boleh disakiti atau disiram karena dipercaya akan menimbulkan bencana.

PETUALANGAN SAWERIGADING DI KERAJAAN SIGI:

Saat akan dilakukan perlagaan ayam milik sang pelaut Sawerigading dengan ratu Ngilinayo,tiba-tiba terjadi gempa dahsyat. Memporak-porandakan negeri Lembah Kaili membuat kapal Sawerigading hancur dan banjir bandang tiba dan tanah longsor menimbun laut teluk Kaili menjadi lembah.


Sumber : https://www.scribd.com/document/411384589/Sejarah-Tadulako-Tanah-Kaili



Suku KAILI dalam CERITA

 

SUKU KAILI

Suku Kaili

adalahsuku bangsadiIndonesiayang secara turun-temurun tersebar mendiami sebagian besar dari ProvinsiSulawesi Tengah,khususnya wilayah Kabupaten Donggala,Kabupaten Sigi,danKota Palu,di seluruh daerah dilembah antaraGunung Gawalise,Gunung Nokilalaki,Kulawi, danGunung Raranggonau. Mereka juga menghuni wilayah pantai timur Sulawesi Tengah, meliputi Kabupaten Parigi-Moutong,Kabupaten Tojo-Una UnadanKabupaten Poso.Masyarakat suku Kailimendiami kampung/desa di Teluk Tomini yaitu Tinombo,Moutong,Parigi, Sausu, Ampana, Tojo dan Una Una, sedang di Kabupaten Poso mereka mendiami daerahMapane, Uekuli dan pesisir Pantai Poso.

Untuk menyatakan "orang Kaili" disebut dalam bahasa Kaili dengan menggunakan prefix"To" yaitu To Kaili. Ada beberapa pendapat yang mengemukakan etimologi dari kata Kaili, salah satunyamenyebutkan bahwa kata yang menjadi nama suku Kaili ini berasal dari nama pohondan buah Kaili yang umumnya tumbuh di hutan-hutan dikawasan daerah ini, terutama ditepiSungai PaludanTeluk Palu.Pada zaman dulu, tepi pantai Teluk Palu letaknya menjorok l.k. 34 km dari letak pantai sekarang, yaitu di Kampung Bangga. Sebagaibuktinya, di daerah Bobo sampai ke Bangga banyak ditemukan karang dan rerumputanpantai/laut. Bahkan di sana ada sebuah sumur yang airnya pasang pada saat air di lautsedang pasang demikian juga akan surut pada saat air laut surut.Menurut cerita (tutura), dahulu kala, di tepi pantai dekat Kampung Bangga tumbuhsebatang pohon kaili yang tumbuh menjulang tinggi. Pohon ini menjadi arah ataupanduan bagi pelaut atau nelayan yang memasuki Teluk Palu untuk menuju pelabuhanpada saat itu, Bangga.

 

Bahasa

Suku Kaili mengenal lebih dari dua puluhbahasayang masih hidup dan dipergunakandalam percakapan sehari-hari. Uniknya, di antara kampung yang hanya berjarak 2 kmkita bisa menemukan bahasa yg berbeda satu dengan lainnya. Namun demikian, sukuKaili memiliki lingua franca ,yang dikenal sebagai bahasa Ledo. Kata "Ledo" ini berarti "tidak". Bahasa Ledo ini dapat digunakan berkomunikasi dengan bahasa-bahasa Kaililainnya. Bahasa Ledo yang asli (belum dipengaruhi bahasa para pendatang) masihditemukan di sekitar Raranggonau dan Tompu. Sementara, bahasa Ledo yang dipakaidi daerah kota Palu, Biromaru, dan sekitarnya sudah terasimilasi dan terkontaminasidengan beberapa bahasa para pendatang terutamabahasa Bugisdanbahasa Melayu.

 

Bahasa-bahasa yang masih dipergunakan dalam percakapan sehari-hari, yaitu bahasaTara (Talise,Lasoani,Kavatuna dan Parigi), bahasa Rai (Tavaili sampai ke Tompe),bahasa Doi (Pantoloan dan Kayumalue); bahasa Unde (Ganti,Banawa,Loli,Dalaka,Limboro,Tovale dan Kabonga), bahasa Ado (Sibalaya, Sibovi,Pandere, bahasa Edo (Pakuli,Tuva), bahasa Ija (Bora, Vatunonju), bahsa Da'a (Jono'oge), bahasa Moma(Kulavi), dan bahasa Bare'e (Tojo, Unauna dan Poso). Semua kata dasar bahasatersebut berarti "tidak".

Kehidupan

Mata pencaharian utama masyarakat Kili adalah bercocok tanam disawah,diladang danmenanam kelapa. Disamping itu masyarakat suku Kaili yang tinggal didataran tinggimereka juga mengambil hasil bumi dihutan seperti rotan,damar dan kemiri, danbeternak. Sedang masyarakat suku Kaili yang dipesisir pantai disamping bertani danberkebun, mereka juga hidup sebagai nelayan dan berdagang antar pulau kekalimantan.Makanan asli suku Kaili pada umumnya adalah nasi, karena sebagian besar tanahdataran dilembah Palu, Parigi sampai ke Poso merupakan daerah persawahan. Kadangpada musim paceklik masyarakat menanam jagung, sehingga sering juga merekamemakan nasi dari beras jagung (campuran beras dan jagung giling). Alat pertanian suku Kaili diantaranya : pajeko (bajak), salaga (sisir), pomanggi (cangkul),pandoli(linggis), Taono(parang); alat penangkap ikan diantaranya: panambe, meka,rompo, jala dan tagau.

Budaya

Sebagaimana suku-suku lainnya diwilayah persada Nusantara, Suku Kaili jugamempunyai adat istiadat sebagai bagian kekayaan budaya di dalam kehidupan sosial,memiliki Hukum Adat sebagai aturan dan norma yang harus dipatuhi, serta mempunyaiaturan sanksi dalam hukum adat.Penyelenggaraan upacara adat biasanya dilaksanakan pada saat pesta perkawinan (no-Rano, no-Raego, kesenian berpantun muda/i),pada upacara kematian (no-Vaino,menuturkan kebaikan orang yg meninggal), pada upacara panen (no-Vunja,penyerahan sesaji kepada Dewa Kesuburan), dan upacara penyembuhan penyakit (no-Balia, memasukkan ruh untuk mengobati orang yg sakit); pada masa sebelummasuknya agama Islam dan Kristen, upacara-upacara adat seperti ini masih dilakuandengan mantera-mantera yang mengandung animisme.Setelah masuknya agama Islam dan Kristen, pesta perkawinan dan kematian sudahdisesuaikan antara upacara adat setempat dengan upacara menurut agamapenganutnya. Demikian juga upacara yang mengikuti ajaran Islam seperti: Khitan(Posuna), Khatam (Popatama) dan gunting rambut bayi usia 40 hari (Niore ritoya),penyelenggaraannya berdasarkan ajaran agama Islam.Beberapa instrumen musik yang dikenal dalam kesenian suku Kaili antara lain : Kakula(disebut juga gulintang,sejenis gamelan pentatonis),Lalove (serunai), nggeso-nggeso (rebab berdawai dua), gimba (gendang), gamba-gamba (gamelan datar/kecil),goo(gong), suli (suling).

Salahsatu kerajinan masyarakat suku Kaili adalah menenun sarung. Ini merupakankegiatan para wanita didaerah Wani,Tavaili, Palu, Tipo dan Donggala. Sarung tenun inidalam bahasa Kaili disebut Buya Sabe tetapi oleh masyarakat umum sekarang dikenaldengan Sarung Donggala. Jenis Buya Sabe inipun mempunyai nama-nama tersendiriberdasarkan motif tenunannya, seperti Bomba, Subi atau Kumbaja. Demikian jugasebutan warna sarung Donggala didasarkan pada warna alam,seperti warnaSesempalola / kembang terong (ungu), Lei-Kangaro/merah betet (merah-jingga), Lei-pompanga (merah ludah sirih).

Didaerah Kulawi masih ditemukan adanya pembuatan bahan pakaian yang diprosesdari kulit kayu yang disebut Katevu. Pakaian dari kulit Kayu Katevu ini sebagian besar dipakai oleh para wanita dalam bentuk rok dan baju adat.

Sebelum masuknya agama ke Tanah Kaili, masyarakat suku Kaili masih menganutanimisme, pemujaan kepada roh nenek moyang dan dewa sang Pencipta (Tomanuru),dewa Kesuburan (Buke/Buriro)dan dewa Penyembuhan (Tampilangi). Agama Islammasuk ke Tanah kaili, setelah datangnya seorang Ulama Islam, keturunan Datuk/Rajayang berasal dari Minangkabau bernama Abdul Raqi. Ia beserta pengikutnya datang keTanah Kaili setelah bertahun-tahun bermukim belajar agama di Mekkah. Di Tanah kaili, Abdul Raqi dikenal dengan nama Dato Karama (Datuk Keramat), karena masyarakatsering melihat kemampuan beliau yang berada diluar kemampuan manusia padaumumnya. Makam Dato Karama sekarang merupakan salah satu cagar budaya yangdibawah pengawasan Pemerinta Daerah.

Hubungan kekerabatan masyarakat suku Kaili sangat nampak kerjasama padakegiatan-kegiatan pesta adat, kematian, perkawinan dan kegiatan bertani yang disebutSINTUVU (kebersamaan/gotong royong).

Pemerintahan

Pemerintahan pada masa dahulu, sudah dikenal adanya struktur organisasipemerintahan di dalam suatu Kerajaan (KAGAUA) dikenal adanya MAGAU (Raja),MADIKA MALOLO (Raja Muda). Didalam penyelenggaraan pemerintahan Magaudibantu oleh LIBU NU MARADIKA (Dewan Pemerintahan Kerajaan) yang terdiri dari:MADIKA MATUA (Ketua Dewan Kerajaan/Perdana Menteri) bersama PUNGGAWA(Pengawas Pelaksana Adat/ Urusan Dalam Negeri), GALARA (Hakim Adat), PABICARA(Juru Bicara), TADULAKO (Urusan Keamanan/ Panglima Perang) dan SABANDARA(Bendahara dan Urusan Pelabuhan).

Disamping dewan Libu nu Maradika, juga ada LIBU NTO DEYA (DewanPermusyawaratan Rakyat) yang merupakan perwakilan Rakyat berbentuk KOTAPITUNGGOTA (Dewan yg Mewakili Tujuh Penjuru Wilayah) atau KOTA PATANGGOTA (Dewan yg Mewakili Empat Penjuru Wilayah). Bentuk Kota Pitunggota atau KotaPatanggota berdasarkan luasnya wilayah kerajaan yang memiliki banyaknya perwakilanSoki (kampung)dari beberapa penjuru. Ketua Kota Pitunggota atau Kota Patanggotadisebut BALIGAU.

Strata sosial masyarakat Kaili dahulu mengenal adanya beberapa tingkatan yaituMADIKA/MARADIKA, (golongan keturunan raja atau bangsawan),TOTUA NUNGATA(golongan keturunan tokoh-tokoh masyarakat), TO DEA (golongan masyarakat biasa),dan BATUA (golongan hamba/budak).

Pada zaman sebelum penjajahan Belanda, daerah Tanah Kaili mempunyai beberaparaja-raja yang masing2 menguasai daerah kekuasaanya, seperti Banawa, Palu, Tavaili,Parigi, Sigi dan Kulavi. Raja-raja tersebut mempunyai pertalian kekeluargaan serta taliperkawinan antara satu dengan lainnya, dengan maksud untuk mencegah pertempuranantara satu dengan lainnya serta mempererat kekerabatan.Pada saat Belanda masuk kedaerah Tanah Kaili, Belanda mencoba mengadu dombaantara raja yang satu dengan raja lainnya agar mempermudah Belanda menguasaiseluruh daerah kerajaan di Tanah kaili. Tetapi sebagian besar daripada raja-rajatersebut melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda, mereka bertempur dan tidakbersedia dijajah Belanda. Tetapi dengan kelicikan Belanda setelah mendapat balabantuan dari Jawa akhirnya beberapa raja berhasil ditaklukan, bahkan ada diantaranyayang ditangkap dan ditawan oleh Belanda kemudian dibuang ke Pulau Jawa.

Beberapa alat senjata perang yang digunakan oleh suku Kaili diantaranya : Guma(sejenis parang), Pasatimpo (sejenis keris), Toko (tombak), Kanjai (tombak trisula),Kaliavo (perisai).

 

 

Sumber : https://www.scribd.com/doc/167488338/Suku-Kaili

 

۞ PETA LOKASI Wilayah ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞