Dewan Adat Sigi

Waktu selesai rapat di rumah Ketua Dewan Adat Sigi di Kaleke.

SOSIALISASI

Sosialisasi pendidikan Pemilih.

TOTUA NU ADA

Totua nu Ada. Ane nggaulu Totuamo gala hi nompakenggenisi ngata ...

Silaturrahmi

Silaturrahmi dengan Yang Mulia Sri Paduka Mangku Alam II.

Rabu, 25 Oktober 2023

Surga Tersembunyi di Negeri Seribu Megalit

 


          Provinsi Sulawesi Tengah merupakan salah satu daerah di Pulau Sulawesi yang belum banyak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Letak provinsi ini tepat berada di tengah Pulau Sulawesi. Dalam sebuah hasil wawancara dengan Koordinator Komunitas Historia Sulawesi Tengah (KHST) Muhammad Herianto mengatakan bahwa secara astronomis dan geografis, jika diukur dari seluruh titik terjauh maka titik tengah Indonesia berada di Sulawesi Tengah.

Jika diukur lebih presisi lagi, titik tengah itu persis berada di kawasan Lembah Besoa, Napu, dan Bada. Kawasan ini merupakan bagian dari kawasan cagar budaya Megalitikum yang tersebar di wilayah dua kabupaten, yaitu Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi. Sebagai bagian dari cagar budaya, lokasi ini layaknya surga, tersembunyi di balik gugusan gunung yang terbentang memanjang dari Taman Nasional Lore Lindu di Kabupaten Sigi hingga masuk ke wilayah tanah Poso. Tidak hanya itu, daerah ini juga disusuri oleh Sungai Lariang yang menjulur melewati pegunungan Nokilalaki.

Lembah Besoa, Napu, dan Bada adalah bagian dari “puing’ peradaban masa lalu. Dikutip dari Antaranews, hasil penelitian arkeologi mengungkapkan bahwa peradaban ini tercatat dalam sejarah lahir pada 3.000 tahun yang lalu. Bukti keberadaan peradaban itu dapat ditemui melalui peninggalan situs-situs seperti Patung Palindo, Arca Menhir, kuburan batu, serta sejumlah benda sejarah lainnya yang terbuat dari batu. Oleh para arkeolog, benda-benda tersebut membuktikan sebuah peradaban yang sangat maju pada zamannya.

Tercatat ada sekitar 900 lebih megalit yang dapat ditemukan di kawasan ini. Data lain menunjukkan angka 1.466 temuan megalitik (per 2013). Megalit ini diperkirakan merupakan peninggalan gelombang migrasi Austronesia sekitar 5.000 tahun yang lalu. Berbagai macam bentuk dan ukuran megalit tersebar di Lembah Besoa, Napu, dan Bada. Ukuran batu tertinggi menyerupai manusia setinggi empat meter dengan lebar rata-rata 1,5 sampai 2,5 meter. Bentuk batu cukup beragam antara lain patung arca, kalamba, tutu’na, dan dakon.

Dengan banyaknya bukti sejarah masa lalu di wilayah ini, menjadikannya sebagai tempat yang layak digelari negeri seribu megalit. Kekayaan sejarahnya sudah cukup membuat Lembah Besoa, Napu, dan Bada dianugerahi sebagai negeri indah dengan daya tarik tersendiri. Sebuah negeri yang menjadi unsur penghubung antara peradaban masa lalu dengan peradaban saat ini.

Itulah salah satu alasan yang membuat Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah pada tahun 2023 mencanangkan Negeri Seribu Megalit untuk kawasan ini. Suatu kebijakan yang tentunya patut diapresiasi karena dapat mengangkat nama kawasan ini untuk lebih dikenal masyarakat umum.

Kemegahan Lembah Besoa, Napu, dan Bada tidak hanya dapat dinikmati dari sisi historisnya. Secara bentang alam, kawasan ini menyajikan keindahan alam yang tidak ada duanya. Ketiga daerah tersebut berada di ketinggian 1.000 mdpl. Dengan letak yang cukup tinggi, dapat dibayangkan indahnya pemandangan alam di daerah sekitar.

 

 

Kawasan situs ini memiliki jarak kurang lebih 130 km dari Kota Palu. Letaknya di sebelah tenggara ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah tersebut. Untuk menuju ke sana dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor dengan waktu tempuh 5-7 jam. Selain bisa melalui kota Palu, untuk sampai ke sana dapat pula melalui jalur di Tentena, Kabupaten Poso.

Perjalanan menuju ke sana akan disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Hamparan sawah, deretan pegunungan, hutan asri, juga kumpulan desa-desa yang masih asri akan menemani selama perjalanan. Untuk sampai ke kawasan ini pun beberapa objek wisata alam dilewati, seperti Telaga Tambing, Gunung Nokilalaki, agrowisata holtikultura, deretan pohon pinus, dan padang sabana Lembah Napu.

Saat mulai memasuki kawasan Lembah Besoa, Napu, dan Bada, kita seolah berada di sebuah negeri kahyangan. Sesaat sebelum memasuki area ini kita dihadapkan pada bukit-bukit yang menjulang, tempatnya persis seperti membelah bukit. Sepanjang mata memandang, suguhan hamparan sabana atau padang rumput seluas ratusan hektare langsung menyambut.

Udara yang sejuk menjadi ciri khas tersendiri saat memasuki kawasan ini. Wajar saja karena lokasinya yang berada di dataran tinggi. Keindahan alam di tempat ini menyuguhkan sebuah lanskap alam bak padang luas di Eropa. Pada saat tertentu, alam yang menghijau akan menyajikan pemandangan indah layaknya lembah-lembah di benua biru.

Keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya juga beragam. Salah satu yang terbesar di Indonesia. Berbagai jenis flora dan fauna dapat kita temui, mengingat kawasan ini juga sebagai pusat penelitian alam.

Tidak hanya itu, alam yang membentang luas dengan sungai-sungai yang mengalir elok ikut menambah keeksotisannya. Tempat ini juga punya potensi menjadi jalur trekking yang sangat cocok untuk pengunjung menikmati sisi lain dari Lembah Besoa, Napu, dan Bada. Jika dikelola dengan baik, tempat ini bisa menyamai jalur Mount de Blanc di Eropa. Sebuah jalur lintas alam populer membentang antara negara Prancis, Swiss, dan Italia.

Dengan kekayaan alam yang masih asri, juga keanekaragaman hayati yang kaya, seolah menciptakan memori indah yang sulit terlupa. Bukan hal yang salah kiranya jika kita menasbihkan kawasan Lembah Besoa, Napu, dan Bada sebagai kepingan surga yang tersembunyi. Menyeruak dari balik negeri seribu megalit yang eksotis dan berdaya magis, keindahan itu menyatu dalam satu bingkai panorama yang indah.

Sumber : https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/10/25/surga-tersembunyi-di-negeri-seribu-megalit

Selasa, 10 Oktober 2023

Gubernur canangkan Sulteng Negeri Seribu Megalit

 


Gubernur Sulawesi Tengah, Rusdy Mastura (enam dari kanan) bersama pejabat daerah berpose dengan latar Patung Palindo sebagai salah satu situs cagar budaya usai pencanangan Sulteng Negeri Seribu Megalit berlangsung di wilayah Lembah Bada, Kabupaten Poso, Selasa (10/10/2023). ANTARA/HO-Korem 132/Tadulakota

Sulteng memiliki jejak peradaban prasejarah berusia ribuan tahun

yang berpusat di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi

 

Poso, Sulteng (ANTARA) - Gubernur Sulawesi Tengah Rusdy Mastura mencanangkan Sulteng sebagai Negeri Seribu Megalit dalam upaya Pemerintah Daerah (Pemda) setempat menjaga kelestarian peninggalan benda-benda prasejarah.

"Benda-benda peninggalan prasejarah dari peradaban manusia harus dijaga kelestariannya," kata Rusdy dalam pencanangan Sulteng sebagai Negeri Seribu Megalit di Bada Poso, Kabupaten Poso, Selasa.

Ia menjelaskan, cagar budaya yang dimiliki daerah ini tidak kalah menariknya dengan cagar budaya di belahan dunia lainnya. Melalui benda-benda peninggalan masa lampau ini menandakan bahwa peradaban manusia di Sulteng jauh sebelumnya sudah ada.

Selain itu, pencanangan Negeri Seribu Megalit juga menjadi satu upaya pemerintah dalam meningkatkan fiskal daerah, demi mengoptimalkan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, serta mempromosikan pariwisata unggulan daerah.

"Selain untuk kepentingan ekonomi dan pariwisata, cagar budaya juga dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sains sebagai tempat penelitian bagi ilmuwan," ujarnya.

Di kesempatan itu, gubernur mengapresiasi tokoh Pemerintah Desa setempat serta masyarakat adat yang konsisten menjadikan situs cagar budaya ini sebagai upaya pelestarian nilai-nilai budaya daerah secara turun temurun hingga tetap lestari sampai sekarang ini.

"Sulteng memiliki jejak peradaban prasejarah berusia ribuan tahun yang berpusat di Kabupaten Poso dan Kabupaten Sigi," ucap Rusdy.

Dari situs-situ yang ada, katanya, seperti Patung Palindo, Arca Menhir, kuburan batu dan sejumlah benda terbuat dari batu banyak ditemukan arkeolog di dua kabupaten itu. Ini menandakan peradaban masa lampau sudah maju di masanya.

Setelah pencanangan, Pemprov Sulteng membangun infrastruktur jalan ke lokasi-lokasi cagar budaya yang ada di Poso dan Sigi, termasuk sarana dan prasarana kepariwisataan untuk menopang pengembangan cagar budaya sebagai destinasi wisata.

"Pemerintah pusat juga mendukung langkah Pemprov Sulteng dalam pengembangan sektor pariwisata, sebagaimana di sampaikan Wakil Presiden saat berkunjung di daerah ini pada pekan lalu, melalui program Sulteng Negeri Seribu Megalit dapat membantu meningkatkan target 2 juta kunjungan pada 2023," katanya.

Pencanangan Negeri Seribu Megalit bertepatan dengan Festival Danau Poso yang berlangsung di Tentena.


Sumber : https://www.antaranews.com/berita/3766635/gubernur-canangkan-sulteng-negeri-seribu-megalit

۞ PETA LOKASI Wilayah ۞
۞ MEDIA - SOSIAL ۞